Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Sakit Hati, Bisa Menjadi Dendam


__ADS_3

"Berduan seorang lelaki dan perembuan yang bukan Makrom, adalah perbuatan ZINAH!"


Deg ....


...Jantung Udin seakan ingin berhenti berdetak, setalah mendengar ucapan sang putri. Udin, paham betul akan maksud dari kata yang keluar dari mulut manis Mala. ...


...Kalau pak Udin syok mendegar ucapan Mala, lain halnya dengan Suci. Dia menangis sakit hati, sebab selalu menjadi bahan tuduhan laknat tersebut...


"Hiks, hiks, apalah aku yang anak sebatang kara ini?" ucap Suci sambil menagis.


...Mala dan sang Bapak, menatap kearah Suci. Lalu, mereka saling memandang sama lain. ...


...Udin yang masih disamping Suci, menjadi binggung harus bagaimana? Sebab, dia hukan Mahrom Suci. Hal itu yang berati, bahwa dia tidak boleh menyentuh gadis malang tersebut. ...


...Tiba-tiba Satria datang dan mengagetkan mereka semua. ...


"Ada apa lagi?" tanya Satria seraya mendekat.


...Satria yang kebetulan memang ingin ke dapur, untuk membantu merapikan barang belanjaanya. Dikejutkan dengan sura tangis Suci. ...


"Itu, istimu! Dia menuduh Bapak, berzinah sama Suci," adu Udin kepada sang menantu.


...Satria menatap wajah sang istri, memberi isyarat. Agar istrinya menjelaskan apa yang terjadi. ...


"Suci tau, Suci hanya numpang disini! Enggak usah dijelasin lagi. Sudah cukup Pak, Suci enggak tahan lagi!" teriak Suci sambil menangis dan berlari menuju kamarnya.


...Sakit, perasaan itu yang selalu dirasakan oleh Suci. Jika ditanaya, apakah dia menginginkan hidup seperti ini? Jelas, jawabanya TIDAK! Tapi, apa yang dia bisa lakukan? Semuanya adalah takdir Sang Robb. ...


...Suka atau tidak? Kita hidup di sekanario Allah. Apa yang diberikan oleh Sang Robb, adalah yang terbaik. ...


...Setelah kepergian Suci, Satria segera menghampiri sang istri. Lalu mengajaknya duduk di meja makan....


"Ada apa, Nur?" tanya Satria lembut.


...Udin yang melihat keromantisan pasangan tersebut akhirnya berdehem menegur. ...


"Ehemmm, masih siang nak?" jelas Udin sambil tersenyum simpul.


...Satria paham akan keadaan, akhirnya mengajak sang istri kembali ke kamar. ...


"Bapak masak dulu ya! Nanti, kalau sudah siap? panggil kami," jelas Satria sambil mengandeng tanggan sang istri.


"Dasar Menantu durhaka!" umpat Udin. Namun, tetap kepaksanakan apa yang diucapkan oleh aang Menatu.


...Biarlah sang putri di didik dulu sama suaminya. Sedang dia memasak untuk makan siang mereka nanti. Pikir Udin, dia tidak mau ikut campur perkara rumah tangga sang putri. ...


...Satria menuntun sang istri memasuki kamar mereka, duduk di atas tempat tidur seperti beberapa menit yang lalu. ...


"Kamu, apakan Suci Nur?" tanya Satria seraya mengelus pipi sang istri gemas.


"Aku enggak apa-apakan ko!" kilah Mala.

__ADS_1


"Lalu, kenapa dia menagis seperti tadi?"


"Dia itu, tidak mau mengakui kesalahanya. Lalu memilih lari dari masalah, kak!" jelas Mala sambil menatap wajah sang Suami (meyakinkan).


"Oh ya? Emang, apa kesalahannya?"


"Dia, berzinah dengan Bapak."


"Astagfirullah al'azim, jangan suka memfitnah, Nur! Dosa," jelas Satria seraya mengeleng-geleng.


"Aku enggak fitnah kak? Aku melihat mereka ketawa-ketawa. Mereka bukan Mahrom, kakak tau itukan?"


"Jadi, kalau mereka menangis seperti tadi? Maka, akan kamu tuduh berzinah juga?" tanya Satria berusaha menyadarkan sang istri dengan argumennya yang kurang tepat.


"Iya sama, mungkin? Aku enggak tau, pusing!" jelas Mala sambil memukul pelan kepalanya.


"Kamu tau gak? Kalau, ucapanmu tadi telah menyakiti hati Suci?"


...Mala menatap sang suami penuh curiga, setelah mendegar ucapannya barusan. ...


"Kakak, perduli sekali dengan Suci?"


...Satria menghembuskan nafasnya berat, tidak mudah memang menghadapi sang istri. ...


"Nur, kata-katamu itu sangat menyakitkan. Kamu sadar atau tidak sih? Kalau, Suci terluka akan tuduhanmu."


"Apa kamu pernah berfikir? Jika, hidup menjadi Suci itu sangat berat!"


"Kamu yang minta, kamu bilang kasihan dengan Suci. Dia tidak punya rumah, tidak punya keluarga. Lalu, sekarang? Kamu sakiti dia."


"Aku enggak nyakiti dia kak!" teriak Mala tidak teriak akan tuduhan sang Suami.


"Ingat Nur! Jangan pernah meninggikan suaramu, didepan Suami," ujar Satria sambil menatap tajam sang istri.


...Mala menunduk, paham akan keslahanya. ...


"Kakak, jangan menyudutkan aku!" lirih Mala memahan isak tangis.


...Satria segera memeluk sang istri, memberikan perasaan nyaman. Sebisa mungkin Satria menjadi Imam yang baik untuk istri tercintanya....


"Kenapa emangnya? Kalau aku, menyudutkanmu?" tanya Satria memancing pembicaraan.


"Aku, enggak suka!" jelas Mala.


"Kenapa kamu, enggak suka?"


"Kalau kakak, tanya seperti itu. Tidak akan pernah ada habisnya!" balas Mala kesal.


"Makanya, jawaba yang jelas. Jangan bertele-tele," pinta Satria sambil mengurai pelukkan mereka.


"Nur, ucapanmu tadi menyakiti hati Suci. Kamu menuduh dan menyudutkan dia. Apa kamu bisa, merasakan sesakit apa perasaannya? Jika, kamu diposisinya."

__ADS_1


...Mala mengeleng menangapi ucapan sang suami. ...


"Makanya, pakai saringan dulu. Jangan asal ceplas-ceplos. Emang kamu pernah berfikir? Bagaimana jika, Suci sakit hati dan membalas dendam sama kamu?"


"Jangan nakutin aku, kak!" balas Maal yang tidak mau membayangkan hal itu terjadi.


"Kalau kamh takut? Kenapa, kamu suka sekali menuduh Suci?" tanya Satria binggung akan sikap sang istri.


"Aku, enggak nuduh kak! Itu kebenaranya."


"Sayang, aku paham. Makanya sebelumnyakan sudah aku katakan sama kamu. Untuk tidak memasukkan orang luar yang bukan Mahrom kita kedalam rumah tangga."


"Kamu bisa mengambil pelajaran dari rumah tangga Umi Dan Abi? Mereka kandas, akibat menerima orang ketiga dalam rumah tangga mereka. Bahkan orang itu setatusnya jelas. Mahrom Abi!" jelas Satria, berharab sang istri mau membuka pikirannya.


...Mala mengangguk menagapi penjelasan sang suami. Terbelensit pikiran, jika Suci balas dendam kepadanya. Sebab, selalu menuduh dan menyudutkan gadis itu. Padahal, dirinyalah yang memberi tempat untuk Suci berada di dalam rumah tangganya....


"Tapi kak, bagaimana caranya? Kita menyingkirkan Suci," tanya Mala sambil menatap sendu sang suami.


...Satria yang mendegar ucapan laknat sang istri, semakin binggung sendiri. bagaimana menjelaskan dengan baik tanpa menyakiti fisik. ...


"Nur, kalau kamu menyikirkan Suci? Maka kamu akan menjadi orang yang paling rugi! Sebab, baginda Rosullulah pernah berpesan. Barang siapa yang mengasih anak yatim, maka mereka anak berada dekat dengan KU, seperti jari telunjuk dan jari tenggah di Syurga nanti."


"Tapi kak, aku juga anak yatim!" balas Mala yang tidak mau kalah dari sang suami.


"Tapi, kamu memiliki Suami, Umi, Abang, Bapak dan yang lain. Berbeda dengan Suci yang sebatang karang," tamabah Satria gemas akan sang istri yang sulit sekali memahami maksud dari ucapnya.


"Jadi, bangaiman dengan Suci? Apa kita adopsi aja sekalian!" tanya Mala meminta pendapat.


...Satria mendengar penuturan sang istri tersenyum penuh arti, sebab akan menjebak istrinya dengan ucapan yang baru diutaran tadi. ...


"Boleh kita adopsi Suci?"


...Mala menganguk menagapi ucapan sang suami....


"Janji, enggak menyesal?" tamabah Satria menyakinkan pendirian sang istri.


"Iya kak, kita adopsi Suci secara sah!"


"Oke, besok kita ke KUA!"


"APA?"


.


.


.


...Bersambung .......


*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*

__ADS_1


__ADS_2