
Setelah beberapa hari menginap di rumah sakit, akhirnya Maka dan Satria di izinkan pulang oleh sang dokter dengan syarat harus kembali cek up. Entah mengapa? Yang sakit Mala, tetapi Satria juga ikut di rawat. Hal aneh itu menjadi pikiran mereka, apa lagi setelah kepergian Ikbal dan Marissa ke Amerika karna ada masalah di perusahaan membuat Satria semakin menaruh curuga kepada kedua orang tuanya. Namum, Satria tetap nus'ujon (persangka baik) karna bisa bisa menghabisikan waktu bersama sang istri.
"Bapak ko enggak bawa mobil pick up?" tanya Mala heran. Melihat Pak Udin menjemput mereka yang hari ini keluar rumah sakit dengan mobil suaminya.
"Kamu tu aneh, Mala! Kamu mau naik pick up Bapak kamu? Dan duduk di belakang jadi barang dagangannya?" tanya Azzahra geram sambil mengeletukkan giginya. Beberapa hari bersama pasangan suami--istri tersebut, membuatnya benar-benar bisa gila seperti Marissa. Pikirnya.
"Ayo masuk," ajak Udin sambil membukakan pintu mobil untuk sang putri.
"Minggir," ucap Azzahra sambil melewati Udin dan masuk ke dalam mobil begitu saja.
"Dasar," batin Udin geram.
"Sabar, Pak. Wanita memang sulit di megerti," ejek Satria sambil berlalu masuk ke dalam mobil.
"Sabar-sabar, orang sabar di sayang Tuhan," guamam Udin sambil mengelus dadanya.
Akhirnya mereka semua masuk kedalam, dengan posisi Satria di samping Pak Udin yang mengemudi dan Mala di samping Umi Azzahra di jok belakang. Udin pun mulai melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, meninggalkan area rumah sakit menuju rumah impian mereka. Rumah yang di wariskan oleh yang terkasih menjadi amal jariah untuk yang telah tiada dan menjadi kenangan untuk yang masih hidup.
"Pak, apa Suci masih ada di rumah?" tanya Mala penasaran akan kabar gadis tersebut. Jika jauh rindu, jika dekat berdebat. Itulah yang di rasakan Mala.
"Iya masih, emangnya mau ke mana lagi Suci? Orang tua tidak ada, sanak keluarga juga tidak punya."
Mendegar penuturan Udin membuat hati semua orang yang berada di mobil tersebut menjadi sedih. Suci adalah anak yatim yang di tinggal mati ayahnya dan di tinggal pergi ibunya menjadi TKW. Hidup bersama sang nenek dengan ke hidupan yanh serba kekurangan membuat gadis itu harus turun tangan membatu sang nenek mencari nafkah. Namun, sayang beberapa tahun lalu neneknya meninggal dan membuat Mala ingin mengadopsi Suci menjadi saudari angkatnya.
"Siapa tahu, dia pergi mencari ibunya?" ujar Mala beramsumsi.
"Jangan asal bicara, Nur!" tegur Satria memperingatkan istrinya.
"Sayang, emangnya kamu tidak takut adanya Suci di rumah kalian?" tanya Azzahra. Dirinya yang pernah gagal dalam berumah tangga akibat adanya orang ketiga membuat ia tidak ingin hal itu terjadi kepada putrinya. Apa lagi Azzahra melihat kalau Satria membela Suci dengan menegur Mala di hadapanya.
__ADS_1
"Enggak Umi, Kak Satria ingin menjadikan Suci sebagai Madu Mala," jelasnya polos. Azzahra langsung naik pitam mendegar penuturan sang putri dan langsung memukul kepala Satria dari belakang.
"Aduh, sakit Umi!" keluh Satria sambil mengusap bagian belakang kepalanya.
Udin yang juga mendegar penuturan Mala ikut marah, ia menggengam kuat stang mobil sambil mengancam Satria.
"Kalau Nak Satria melakukan hal itu? Maka Bapak akan memotong miliknya sambai habis!" ujarnya dengan kilatan kemarahan lewat setiap ucapannya.
"Jangan Bapak! Nanti, Kak Satria tidak bisa membuat anak lagi."
Satria ingin menagis, mendegar ucapan istrinya, ingin membela ia tau ikut menjatuhkan dirinya?
"Itu hanya rencana Pak, Umi. Kalau di izinkan Nur? Kalau tidak ya tidak apa-apa. Aku enggak mau menangung dosa zinah yang selalu Nur tuduhkan. Lagian aku juga ingin menghindari fitnah, sebab fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan," jelas Satria panjang lebar agar mereka paham akan maksudnya mengapa mengatakan hal itu.
Udin hanya mampu diam setelah mendegar penuturan menantunya itu, memang kalau di fikir-fikir tuduhan yang tidak beralasan putrinya sungguh menyakitkan. Karna Udin pernah di posisi itu.
"Ya tidak juga harus menjadi madu, Nak Satria. Kalian bisa memperkerjakan Suci, tetapi tidak tinggal satu atap dengan kalian," jelas Azzahra memberi jalan tengah, agar tidak ada yang tersekiti atau di korbankan.
"Terserah," balas Azzahra angkat tangan akan masalah yang menyangkut Suci. Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi, semuanya sibuk akan pikiran masing-masing. Hingga tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah di halaman rumah. Rumah yang penuh akan kenangan indah yang mereka lewati. Tempat ternyaman yang mereka miliki. Nampak Suci datang dengan tergesa-gesa sambil mendekati mobil. Dirinya yang berada di mini market segera pulang setelah melihat mobil Satria datang.
"Mbak sudah sehat?" tanyanya setelah pintu mobil terbuka dan nampak Mala yang turun dari mobil.
"Alhamdulillah, sehat. Kamj bagaimana?" tanya Mala balik.
"Alhamdulillah, sehat Mbak."
"Pak, nanti antarkan Umi pulang ya?" pinta Satria sambil membuka bagasi mobil guna mengambil koper miliknya dan istri.
"Umi belum mau pulang! Kamu benar-benar menguair Umi dari rumah Umi sendiri?" balas Azzahra geram akan ucapan Satria.
__ADS_1
"Bukan begitu Umi, aku kasihan dengan Umi. Lagian Umikan ada tanggung jawab di rumah, ada Abang Azzam yang menunggu."
Azzahra tidak mengindahkan ucapan Satria, ia memilih masuk dari pada meladeni suaminya Mala tersebut.
"Biar Suci saja Bang," pinta Suci ingin membantu lelaki itu membawa koper.
"Tidak usah, ada Bapak," tolak Satria halus sambil menunjuk Pak Udin dengan dagunya.
"Bapak tidak bisa! Bapak mau pulang dulu!" teriaknya yangl berlalu menjauh. Udin teringat akan pesanan barang yang belum ia antar. Dia segera mempercepat langkah kakinya untuk pulang.
"Lihat Bapakmu, Nur!" ucap Satria sambil menatap punggung lelaki itu yang telah menjauh.
"Biarkan saja Kak, nanti juga akan kembali," jelas Mala yang tidak mau ambil pusing dan memilih masuk sambil mengandeng tangan Suci.
"Mbak, Bang Satria!" cicit Suci sambil menatap iba Satria yang menarik dua buah koper sekaligus.
"Biarkan saja," balas Mala tidak ada niat untuk membatu suaminya tersebut.
"Dasar Wanita, habis manis sepah di buang," gumam Satria kesal. Namun, gumamnya masih terdengar jelas oleh Mala dan Suci yang masih berdiri di ambang pintu.
"Sepah memang dibuang! Karna, tidak ada yang mau memakannya," ujar Mala sambil cekikikan dan menyeret Suci masuk ke rumah impian mereka.
"Dasar wanita!" batin Satria kesal.
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung… ....
*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*