
Setelah sarapan bersama mereka berkumpul di ruang tamu seperti permintaan Mala, semua orang tegang. Azzahra sampai berkali - kali melafaskan zikir, begitu pun Satria. Lelaki itu tidak henti - hentinya mengerutu dalam hati, akibat ucapannya ke pada Mala membuat ia harus menaggung masalah untuk kedepannya. Sebab, sepertinya Mala kali ini tidak main - main. Di sinilah mereka.
"Bapak, aku boleh meminta sesuatu?" tanya Mala sambil menatap Pak Udin dengan wajah serius. Udin sampai merinding sendiri melihat wajah putrinya.
"Kal--lau bisa Bapak berikan? Maka akan Bapak berikan!" jelasnya dengan tangan berkeringat. Udin harus hati - hati dalam berbicara takut terjerumus dalam masalah yang rumit pikirnya. Sebab, putrinya kali ini seolah bukan yang biasanya.
"Bissmillah, aku awali dengan basmalah. Pak, aku meminta Bapak menikahi Umi."
Tubuh Azzahra bergetar hebat setelah mendegar ucapan Mala. Bagaimana tidak? Mala benar - benar meminta hal itu.
"Ya Robb, dosa apa yang pernah aku lakukan? " batin Azzahra.
Azzahra memang dari dulu tidak menyukai Udin, dia berinteraksi dengan lelaki itu hanya untuk masalah yang menyangkut Mala. Selebihnya, ia tidak ingin berkomunikasi dengan mantan suami adiknya tersebut.
"An--nu, Nak!"
Udin binggung bagaimana caranya menolak tanpa menyakiti atau menyinggung siapapun.
"Bapak tahu bukan? Kalau kalian adalah orang tuaku! Aku hanya ingin menyatukan kalian dalam sebuah ikatan suci, supaya tidak timbul fitnah di kemudian hari."
Mendegar ucapan Mala, membuat semua orang menatapnya nanar. Azzahra seolah melihat diri almarhum ibu Mala, Azizah. Wanita yang selalu mengorbankan apa yang ia miliki demi membahagiakan orang lain. Wanita yang selalu mengatisifasi masalah yang akan menerpa orang sekitarnya.
"Nur, permintaan kamu itu terlalu berat! Kamu tahu bukan? Kalau Bapak dan Umi sudah terikat hubungan keluarga," jelas Satria mencoba memberi pengertian ke pada sang istri.
"Kak, Umi dan Bapak tidak lagi terikat hubungan keluarga setelah meninggalnya Ibu. Mereka tetap bukan mahrom, hanya aku penghubung antara mereka. Jika, nanti aku tiada? Maka, terputus sudah hubungan itu," jelas Mala sambil menatap nanar lelaki itu yang duduk disampingnya.
Semua orang tertegun mendegar ucapan Mala, mereka tidak menyangka. Kalau, wanita hamil tersebut berfikir hingga sejauh itu.
"Nak, kita tidak bisa memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Jadi, tolong ka …,"
"Umi bersedia," jelas Azzahra memotong ucapan Udin dan menatap lelaki itu tajam. Azzahra paham akan maksud baik sang putri, ia hanya ingin mereka tetap berhubungan walau tanpa dirinya. Azzahra hanya ingin melakukan yang terbaik selama ia masih bisa bersama Maka. Bukan dirinya pesimis akan penyakit yang di derita putrinya.
__ADS_1
Namun, ia hanya ingin membahagiakan Mala sebisa mungkin agar tidak ada penyesalan dalam hidupnya lagi seperti dulu ketika kehilangan Azizah sang adik.
"Suci, aku boleh meminta sesuatu ke padamu?"
Pertanyaan Mala membuat Satria meremang, begitupun Suci yang diajak berbicara. Perasaan tegang langsung menyeruak, seolah ia sedang berada di persidangan yang akan menjatuhkan hukuman yang berat terhadap dirinya.
"Insya Allah, Mbak!" cicitnya ragu.
"Aku meminta kamu menjadi maduku, menjadi istri ke dua untuk suamiku. Apakah kamu bersedia?" tanya Mala sambil menatap nanar gadis itu yang terlihat pucat.
"Maaf, Mbak, aku enggak bisa. Aku takut hal itu akan menyakitkan, Mbak dan aku."
Penolakan halus Suci membuat semua orang bernafas lega. Ucapan Suci sudah membuktikan bahwa gadis itu bukanlah calon pelakor, di mana wanita lain pasti dengan senang hati menerima pinangan istri sah untuk menjadi madunya. Sebab, kebanyakan para suami yang memaksa istri sah mereka untuk menerima madu yang mereka bawakan.
Mala tersenyum menanggapi ucapan Suci, ia yakin kalau gadis itu yang terbaik untuk menggantikan posisinya sebagai pendamping sang suami. Mala sudah menilai kepribadian Suci, dari dia di terima di rumah ini. Mala telah menyimpulkan bahwa Suci, jujur, bertanggung jawab akan apa yang di kerjakan atau di amanatkan ke padanya. Mala juga sudah berkali - kali menguji gadis itu dan hasilnya Suci bisa melewatinya dengan baik. Semua hal itu telah meyakinkan Mala, bahwa Suci yang terbaik untuk menjadi madunya. Tidak serakah dan selalu mengalah poin besar yang membuat Mala yakin bahwa Suci mampu menjadi ibu untuk anak - anak mereka kelak.
"Kita tidak akan saling menyakiti, aku meminta kamu menjadi maduku nanti. Ketika aku telah tiada," jelas Mala membuat semua orang menatapnya heran.
"Kalau nanti aku tiada dan kakak menjadi gila? Itu pertanda kakak mencintai aku, bukan mencintai Robbku. Berharap ke pada Makhluk hanya membawa duka, cinta yang sesungguhnya adalah ke pada Sang Robb."
Semua orang tertegun mendegar ucapan Mala, bagaimana mereka bisa melupakan Sang Robb dan mencintai Mahkluk ciptaan-Nya. Mereka seharusnya mencintai Sang Pencipta. Namun, memilih mencintai ciptaan-Nya, lalu melupakan Sang Pencipta itu sendiri.
"Sekali lagi maaf, Mbak. Aku enggak bisa, aku tidak mau menjadi perusak hubungan rumah tangga kalian," jelas Suci sambil meremas ujung baju yang ia kenakan.
"Aku meminta kamu menjadi maduku, setelah aku tiada. Apa itu masih berat untukmu?" tanya Mala lagi. Dia berusaha meyakinkan Suci, bahwa semua akan baik - baik saja ke depannya.
"Hidup dan mati seseorang di tangan Tuhan, kita tidak bisa mendahului takdir."
Semua orang tercengang mendegar penuturan Suci. Dia berani melawan Mala secara tidak langsung melalui kata - katanya.
Mala hanya tersenyum lalu menatap suaminya seraya berkata.
__ADS_1
"Kak, Suci yang terbaik menjadi istrimu. Tolong jaga dia seperto kamu menjagaku."
"Tidak bisa, Nur!" tolak Satria keras. Dia tidak akan mampu melakukan hal itu, karna bagi Satria sang istri amatlah berharga. Teman hidup yang selalu mengingatkan jika ia salah dan selalu menjadi tempat untuknya mengadu keluh--kesah.
"Jika itu permintaan terakhirku? Apakah kakak akan melakukannya," tanya Mala dengan tatapan sendu.
Satria hanya mampu membuang nafas kasar, dirinya benar - benar memakan buah sikalakama. Maju salah, mundur salah.
"Insya Allah, jika itu permintaan terakhir kamu. Namun, aku tidak janji akan bisa memperhatikan Suci sama seperti aku memperhatiakan kamu."
Semua orang di buat diam seribu bahasa oleh Satria. Namun, tidak dengan Mala. Dia tersenyum penuh arti.
"Suci, aku meminta sekali lagi ke padamu? Apa kamu bersedia menjadi ibu untuk anakku nanti jika aku tiada? Seperti Umiku Azzahra yang menjaga dan merawatku dengan penuh kasih sayang."
"Ak--ku," ucapan Suci tergagap akibat gugup mendapat desakkan oleh semua orang.
"Terimalah Suci, Umi ikhlas menjadi mertuamu. Pak Udin juga," ujar Azzahra dengan lelehan air mata sambil menatap Udin seolah meminta bantuan.
Udin paham akan kode Azzahra dan berujar, "tidak akan pernah kamu mendapat kesempatan seperti ini, Nak. Seorang istri sah meminta kamu menjadi ibu sambung untuk anaknya."
"Tetapi… ."
.
.
.
...Bersambung …....
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1