Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Macam-Macam Zinah


__ADS_3

"Alamat, cemburu berlaknat ini!" batin Satria.


...Udin bingung akan ucapan sang Putri, yang menuduh Suaminya berzinah dengan Suci....


"Maaf, Mbak!" lirih Suci sambil menunduk.


"Jangan, kamu anggapi ucapan Nur! Kamu bawa aja masuk keresek ke dapur," perintah Satria kepada Suci.


...Suci hanya mengikuti perintah Satria, berlalu meninggalkan mereka bertiga yang berdiri di ambang pintu ruang tamu....


"Sudah nangisnya, Nak?" tanya Udin sambil mengelus punggung sang Putri.


"Kak-kak, Sat-tria!" ucapan Mala tersendat akibat menangis.


"Ikut aku ke kamar, Nur!" pinta Satria sambil berlalu menuju kamar.


...Begitu cara Satria menghindari perdebatan didepan orang lain, sekalipun sang mertua....


"Ikuti perintah Suamimu, La!" pinta Udin kepada sang Putri yang seakan enggan melepaskan pelukkannya.


"Tapi ...,"


"Pergilah!" perintah Udin memotong ucapan Mala.


...Akhirnya, Mala berjalan gontai menuju kamar....


...Udin memandangi punggung sang Putri, seraya bergumam....


"Semoga, hubungan kalian dalam lindungan Sang Robb."


.


.


.


Di Kamar.


...Satria duduk santai sambil memainkan ponsel miliknya di atas tempat tidur....


Krekkk ....


...Suara pintu kamar dibuka, menampakkan wajah sang istri yang masih berlinang air mata....


"Kak," lirih Mala seraya mendekati sang Suami.


"Duduklah!" pinta Satria sambil menepuk pelan kasur disampingnya.


...Mala menuruti perintah sang suami, duduk manis disamping lelaki yang amat dicintainya tersebut....


"Kamu mengatakan aku, berzinah dengan Suci?" tanya Satria sambil menatap nanar wajah sang istri.


"Memang benar!" balas Mala sengit.


"Dari segi apa, kamu bisa mengatakan hal itu?"

__ADS_1


"Dari cara kakak, menatap Suci. Hal itu sudah termasuk dalam hukum ZINAH!" tegas Mala.


...Satria menganggung-anggung menangapi ucapan sang istri....


"Emang, saling menatap seperti ini? Bisa disebut zinah," tanya Satria sambil menatap lekat mata sang istri penuh cinta.


"Ya jelas, Tidak! Karna kita pasangan halal. Berbeda dengan ceritanya kakak dengan Suci tadi," balas Mala kesal akan sikap sang Suami yang pintar membolak-balikkan keadaan.


"Oh, gitu ya? Jadi, ada berapa macam bentuk Zinah?" tanya Satria yang ingin mengetahui seberapa besar pengetahuan sang istri tentang perkara Zinah.


"Zinah banyak macamnya, Kak! Kayak tadi, Kakak sudah Zinah mata sama Suci. Wajib hukumnya kakak Solat Tobat," jelas Mala.


"Ko, bisa?"


"Ya, bisalah kak! Zinah mata itu namanya. Sebab kakak memandang yang bukan Mahrom kakak," tambah Mala.


"Emmm, selain mata? Zinah apa lagi?" tanya Satria berpura-pura penasaran. Padahal, dia tahu tentang macam-macam Zinah. Sebab, hal itu sudah di pelajari ketika di pondok persantren.


"Zinah mengunakan pancra indar. Seperti mata, hidung, telinga dan lain-lainnya. Apalagi, kalau yang itu memenarkan!" ucap Mala sambil menatap milik sang Suami.


...Satria menatap tajam sang istri. Sebab paham akan arah pembicaraan yang menuju ke yang satu....


"Enggak mungkinlah, aku seperti itu! Kamu aja yang cemburu tidak pada tempatnya," jelas Satria mendapat tatapan tajam sang istri.


"Emang salah ya, kalau istri cemburu dengan Suami sendiri?" tanya Mala ketus.


"Ya, enggak salah sih? Tapi, pada tempatnya aja."


"Maksudnya?" tanya Mala binggung akan penuturan sang suami.


...Mala mencerna baik-baik penjelasan sang suami. Supaya dia bisa memahami di mana letak kesalahannya....


"Aku memang menganggap Suci sebagai saudari sendiri. Tetapi, hukum tidak dapat dirubah. Sebab, kami tidak memiliki hubungan darah yang berati Suci tetaplah orang luar yang patut aku cemburui."


"Terlebih lagi, Suci bukan Mahrom kakak. Wajib hukumnya bagi kakak untuk menjaga jarak dengan Suci," tambah Mala.


...Satria menghembuskan nafasnya berat, sebab tidak mudah untuk menghadapi sang istri yang notabennya banyak mengumpulkan ilmu selama sekolah dulu....


"Jadi, bagaimana caranya aku menghindari Zinah dengan Suci? Kitakan tinggal satu atap yang sama," tanya Satria mencari tahu pendapat sang istri.


"Ya, enggak bisa dihindari kak? Sebab, kakak pasti berinteraksi dengan Suci. Kecuali Suci menjadi Mahrom kakak, baru Zinah bisa kita hindari."


...Satria tersenyum penuh arti, setelah mendegar penuturan sang istri....


"Menjadikan Suci sebagai Mahrom, ya? Sama artinya kamu menyuruh aku, menikahinya?" tanya Satria dengan mode menjebak sang istri.


...Mala mencerna ucapan sang suami, ada bagian yang tidak sesuai. Membuat Mala meneguk silvernya, sebab hal itu adalah jebakan yang mematikan....


"Kak, kita makan yuk. Mumpung ada Bapak," ujar Mala mengalihkan pembicaraan.


...Satria tersenyum mendegar penuturan sang istri. Sebab, Satria tahu betul akan perasaan sang istri yang sedang dilema sendiri....


"Nanti dulu, kitakan masih membahas masalah macam-macam Zinah?" ujar Satria menahan sang istri agar tidak kabur dari masalah yang telah di buat.


"Nanti, kita bahas. Setelah urusan perut kenyang!" ujar Mala sambil bangun dan berlalu meninggalkan sang suami yang masih setia duduk dan tersenyum kepadanya.

__ADS_1


...Setelah kepergian sang istri, senyum Satria menghilang seketika. Bukan Satria tidak memahami hukumnya Zinah, namun bagaimana dia bisa menghindari kontak fisik dengan Suci....


...Satria lelaki normal, bagaimana dia tidak memiliki harsat kepada seorang gadis perawan yang tinggal satu atap dengannya....


...Sekali lagi, hanya Iman yang membuat Satria kuat menahan godaan terbesar bagi seorang lelaki....


...Menurut Satria, lebih baik menghalalkan. Dari pada menikmati sesuatu namun berdosa. Semuanya Satria kembalikan kepada ketentuan sang istri. Sebab, Satria sangat mencintai istrinya yang telah membawa cahaya Sang Robb...


"Akankah, pernikahan kita bertahan sampai Jannah?" batin Satria.


.


.


.


...Setalah keluar kamar, atau lebih tepatnya kabur dari jerat sang suami. Mala segera menuju dapur....


...Sebenarnya, Mala penasaran dengan kantong keresek yang di bawa mereka sebelumnya. Namun, ketika menuju dapur. Mala dikejutkan akan suara canda-tawa sang bapak bersama Suci....


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Mala sambil menatap tajam sang Bapak dan Suci.


...Udin yang kebentulan sedang menantu Suci menyuci buah-buhan, dikejutkan akan teriakkan sang putri....


"Ka-mi," ucap Suci terbata.


"Kami sedang mencuci buah," jelas Udin memantu Suci berbicara.


...Mala mendekat, lalu menatap sang bapak dan Suci secara bergantian....


...Udin yang paham akan tindak tanduk sang putri, segera mengambil ancang-ancang....


"Jangan suka berfikiran buruk, apalagi kepada orang tuamu sendiri!" jelas Udin.


"Emang, aku harus berfikiran baik? Jika, melihat ada yang berzinah di rumahku?" tanya Mala sambil menatap tajam sang bapak.


...Suci yang mendegar penuturan Mala, langsung mengeleng. Seolah menolak dengan keras, apa yang dituduhkan kepadanya....


"Siapa yanh berzinah?" tanya Udin binggung.


"Bapak dan Suci!" jelas Mala.


"Kamu ini, ada-ada saja. Mana mungkin Bapak berzinah dengan Suci?" jelas Udin sambil mengeleng menangapi argumen sang putri.


"Berduan seorang lelaki dan perembuan yang bukan Makrom, adalah perbuatan ZINAH!"


Deg...!


.


.


.


...Bersambung .......

__ADS_1


*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*


__ADS_2