
"Siapa Sulastri?" tanya Azzahra dengan lantang, karena memang dia tidak tahu siapa yang di cari orang-orang dihadapannya.
"Jangan pura-pura tidak tahu!" bentak lelaki tadi lebih nyaring dari sebelumnya.
Satria, Mala, Marissa serta Ikbal yang masih di ruang tamu mendegar suara gaduh di depan segera menghampiri. Betapa terkejutnya mereka melihat keadaan Udin yang babak--belur dengan wajah penuh akan darah.
"Apa yang terjadi?" tanya Satria yang mendekati mertuanya.
"Berhenti! Jangan macam-macam atau kalian akan merasakan akibatnya," ancam salah seorang lelaki itu.
Satria menatap tajam satu persatu lelaki yang tidak dikenalnya menggunakan baju serba hitam dengan jumlah kurang lebih empat orang tersebut.
"Anda siapa?" tanya Satria mencoba tenang. Namun, dia terkejut akan tepukan pelan papinya, seolah memberi isyarat bahwa dia mundur dulu.
"Mohon maaf, Kalian mau apa kemari?" tanya Ikbal sopan dan sebisa mungkin untuk tidak memancing emosi orang-orang dihadapannya.
"Kami mencari, SULASTRI!" ucapnya lantang.
"Pi, Mami, takut," lirih Marissa sambil mergayut di lengan suaminya. Ikbal hanya tersenyum menaggapi seolah memberi tahu kalau semuannya akan baik-baik saja.
"Di sini tidak ada yang namanya Sulastri," celetus Mala sambil berdiri di samping suaminya. Dia yang sedari memperhatikan melihat ada yang tidak beres dengan tamu yang tidak diundang tersebut.
"Halah, jangan berbohong!" hardiknya lagi.
"Nur," Satria menatap wajah istrinya cemas. Dia takut hal yang tidak diinginkan terjadi, apalagi sampai menimpa keluarganya.
"Anda hanya menanyakan nama saja? Apa Anda memiliki foto Sulastri yang dicari?" tanya Mala dengan tenang.
Satria semakin gusar, dia tahu betul seperti apa istrinya. Wanita hamil tersebut tidak akan pernah melepaskan siapa pun yang berani menggangu dirinya.
"Blot! Mana foto gadis itu," ujar lelaki itu kepada temanya.
"Ini, Bos," jelas temanya seraya menyerahkan sebuah foto kepada lelaki itu.
"Ini! Gadis ini yang kami cari," ujarnya seraya menyerahkan foto tersebut yang langsung di sambar oleh Azzahra yang kebetulan memang masih di dekat lelaki itu. Betapa terkejutnya Azzahra melihat siapa yang ada di foto, akan tetapi dia bungkam dan segera menyerah foto tersebut kepada Satria.
__ADS_1
"Ini," ucap Azzahra sampil menyedipkan matanya mengode Satria yang mendapat anggukan.
"Jadi, di mana gadis itu?" tanya lelaki itu lagi. Namun, dengan nada lebih rendah dari sebelumnya.
"Dari mana Anda mendapat informasi? Kalau gadis itu ada di sini?" tanya Satria tenang.
"Ah, kalian hanya mempermainkan kami! Hah!" bentak lelaki itu dengan penuh emosi.
Mala menarik pelan tangan suaminya, "aku mau melihat foto gadis yang mereka cari," pinta Mala. Satria membuang nafas kasar sambil menyerahkan foto yang ditangannya.
Mala tersenyum penuh arti, "untuk apa Anda mencari gadis ini?" tanya Mala sambil memperlihatkan foto gadis yang ada di tanganya kepada semua orang membuat Satria panik. Udin hanya bisa menggeleng tidak bisa berbicara akibat rasa sakit disekujur tubuhnya.
"Itu,"
Mala menatap tajam wajah mertuanya yang ingin berbicara, untuk pertama kalinya Ikbal merasa takut di tatap seperti itu, begitupun istrinya yang langsung bersembunyi di balik punggung sang suami.
"Bukan urusanmu! Capat, di mana gadis itu! Jangan sampai kami menggunakan kekerasan," terangnya.
Mala mendekati lelaki tersebut hendak memberi pelajaran. Namun, tanganya di cegat oleh sang suami yang menggelengkan kepala. Satria tidak sanggub kalau sampai istrinya menghajar orang-orang yang ada di hadapan mereka.
"Blot! Geledah rumah ini! Kita akan di marahi Bos, kalau sampai terlambat!" perintah lelaki itu membuat semua orang menatapnya. Tanpa permisi, teman-teman lelaki itu masuk. Namun, sayang, Mala telah menghadang mereka dengan pukulan telak.
Satu/persatu teman lelaki itu terjatuh akibat pukulan maut Mala. Mereka tidak tahu, kalau wanita yang mereka hadapi adalah seorang pemegang sabuk hitam karate.
"Kamu!" tunjuk lelaki itu geram dan mendekati wanita yang menurutnya mengganggu rencananya.
"Awww, hentikan!" teriak lelaki itu kesakitan akibat tanganya yang di pelitir oleh Mala.
"Nur, lepaskan!" akhirnya Satria tidak tahan lagi melihat istrinya yang menghajar keempat orang tersebut. Dia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, sebab wanita itu yang sedang mengandung benihnya. Berbeda dengan Ikbal dan Marissa yang tercengang, hingga membuat dua orang tersebut membuka mulut lebar seking terkejutnya. Lain halnya dengab Azzahra yang santai, sebab dia tahu. Kecuali Udin, lelaki itu pingsan seking tidak kuat melihat aksi putrinya sendiri.
"Tidak akan! Dia pasti orang jahat," balas Mala malah memberi sebuah tendangan di kaki lelaki itu hingga terjatuh ke lantai.
"Aduh! Sialan!" hardiknya kesal.
"Anda mau dirobek mulutnya?" tanya Mala dengan tatapan tajam, seolah-olah siap menguliti lelaki dihadapannya. Lelaki itu hanya mampu menelan silvernya kasar melihat wanita dihadapannya yang sangat menakutkan menurutnya.
__ADS_1
Marissa sampai pinggsan akibat ucapan menantunya, Ikbal dengan sigab mengkap tubuh sang istri. Satria yang melihat keadaan maminya segera menyuruh sang papimembawa ke kamar, karena keadaan yang sangat mencekam di sini.
"Pi, bawa masuk Mami ke kamar," pinta Satria.
"Tapi.., "
"Masuk! Kasian Mami," teriak Satria. Untuk pertama kalinya dia berbicara dengan nada tinggi dihadapan lelaki yang telah membesarkannnya tersebut, saat ini pikirannya kalut dan terbagi, antara keadaan istrinya dan yang ada di rumah ini.
Azzahra segera mengambil tindakan, dia membatu Ikbal membawa Marissa. Bukan Ikbal tidak mau di tolong, akan tetapi dia kepikiran dengan Mala. Walaupun dia telah melihat kehebatan menantunya tersebut, tetap saja ada perassan cemas terlebih wanita itu sedang hamil.
"Aw!"
Lagi dan lagi, Mala memberikan tendangan yang cukup keras. Kali ini di perut yang membuat lelaki itu memuntahkan darah.
"Kalian masuk, aku akan membuat mereka yang berani mengusik rumah ini akan merasakan rasa sakit yang tidak akan pernah bisa di lupakan."
Semua yang mendegar ucapan Mala seketika merinding, mereka memilih menghindari kkemarahan wanita hamil itu dari pada melihat hal sadis apa lagi yang akan dilakukannya.
"Nur," panggil Satria.
"Kaka, bawa masuk, Bapak. Kasian dia," pinta Mala tanpa menatap wajah suaminya. Pandangan Mala hanya tertuju kepada lelaki yang meringis kesakitan dihadapannya.
"Tapi…," belum selesi Satri berbicara ucapnya terpotong.
"Aku mohon," pinta Mala dengan suara lemah agar suaminya mau menuruti permintaannya sebelum ia mengeksakusi lelaki yang sedari tadi mengeliat-geliat kesakitan.
Satria hanya mampu membuang nafas kasar dan melaksanakan perintah istrinya. Dia menggangkat tubuh mertuanya masuk. Setelah kepargian suaminya, Mala berjongkok di depan lelaki tersebut.
"Siapa Sulasti?"
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung … ....
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...