
Setelah dari rumah sakit, Mala meminta abangnya untuk mengantarakan mereka pulang. Dia merasa cepat lelah dan tidak nyaman jika membawa Suci yang kelihatan tidak nyaman karena hanya mengekor dari belakan. Entah kenapa? Gadis itu banyak diam, dia juga seolah tidak perduli dengan masalah yang terjadi dengan Mala. Semua ini membuat rasa penasaran dan janggal di pikiran wanita hamil tersebut, sebab Suci juga berada di rumah dan ikut menjadi saksi akan kasus penyerangan orang yang tidak dikenal. Akhirnya Mala memilih pulang dan akan mulai menyelusuri semua masalah ini dengan pikiran dan hati yang tenang pula.
"Abang pulang ya, ingat banyak-banyak istirahat."
Mala hanya menggangguk menaggapi pesan abangnya, dia baru masuk setelah mobil abangya menghilang di sebuah belokan baru ia masuk, berbeda dengan Suci yang langsung berlalu begitu saja. Entah malu atau apa? Mala tidak terlalu mengerti.
"Mami!"
"Ayo ikut Mami," ajak Marisaa sambil menarik tangan menantunya itu. Dia sudah dari tadi menunggu kepulangan wanita hamil tersebut, sebab dia menemukan hal yang ingin segera di ceritakan.
"Mami, ada apa?" tanya Mala heran melihat tingkah mertuanya. Setelah menarik Mala masuk ke dalam kamar wanita itu segera mengunci pintu kamar rapat-rapat.
"Mala, apa rencana kamu selanjutnya?"
Mala hanya menggeleng menjawab pertanyaan ibu mertuanya tersebut.
"Kamu harus berhati-hati dengan, Suci! Dia itu musuh dalam selimut," jelas Marissa dengan kobaran amarah. Dia sudah meminta keterangan dan informasi dari polisi kepercayaannya tentang Sulastri gadis yang di cari oleh orang-orang jahat yang sebelumnya datang ke rumah mereka, Marissa diam-diam mengambil dan menyemunyikan foto yang sempat di berikan oleh orang jahat tersebut dan memcari informasi yang akurat tentang siapa gadis di dalam foto. Marissa sangat yakin kalau itu Suci.
"Maksud Mami apa?" tanya Mala bingung. Marissa langsung menceritakan semua informasi yang dia ketahui dari polisi kepercayaannya. Mala mengangguk-anggukkan kepala mencerna apa yabg di sampaikan hingga sebuah jalan dia pilih.
"Mi, aku tidak begitu yakin kalau itu Suci …," Mala menyeda ucapannya untuk menatik nafas, "ada kejanggalan yang aku lihat, Mami juga pasti bisa melihatnya. Ingat ketika membahas masalah ini di dapur pagi tadi, Suci seolah tidak peduli. Jika benat dia gadis yang ada di foto tersebut? Maka dia akan merasa takut atau khawatir."
Marissa menatap dalam wajah menantunya, dia sebenarnya juga merasakan kejanggalan tersebut. Namun, hal itu semakin membuat ia yakin kalau Suci adalah Sulastri.
"Mi, kita lakukan diskusi di rumah Umi? Aku juga mau masalah ini satu--persatu terselesaikan, apalagi masalah tes DNA Kak Satria yang harus kita usut juga."
Marissa tersekima mendengar ucapan menantunya, salah--satu alasan dia pulang ke tanah air ialah mencari tahu hal itu. Marissa merasa kalau tes DNA itu palsu, sebab dia yakin sekali kalau Marcel adalah ayah biologis Satria.
"Baiklah, tapi kamu harus ingat. Semua ini rashasia antara kita."
Mala hanya tersebut menanggapi ucapan wanita dihadapannya, ia memilih berlalu. Sebab waktu yang telah menunjukan waktu asar yang telah terlewatkan olehnya.
"Inssya Allah, Mi."
Setelah kepergian Mala, Marissa mengambil ponselnya dan mengotak-atik benda pipih itu guna mencari sebuah hal yang hanya dia mengetahuinya.
__ADS_1
"Aku tahu siapa kamu," ujar Marissa yang telah menemukan yang dicari dan tersenyum sinis menatap layar ponselnya.
***
Malam harinya, seperti biasa. Keluarga pengejar cinta Robbku melakukan rutinitas sholat Magrib dan Isya berjamaah dan setelah itu makan malam bersama. Selesai makan Mala mengajak keluarganya pergi ke rumah Umi Azzahra dengan alasan bahwa wanita itu akan menikah dengan Bapaknya dan meminta pihak keluarga untuk berkumpul guna mencari mufakat yang baik.
"Kenapa harus malam ini?" tanya Satria yang merasa permintaan istrinya yang terlalu dadakan.
"Sesuatu yanb baik harus segera di tunaikan, Sat."
Semua mata tertuju kepada Ikbal yang mengeluarkan kata-kata bijak. Akhirnya mereka berangkat malam itu juga dengan meninggal Suci sendirian di rumah dengan alasanya bahwa rumah tidak boleh kosong takut kejadian kemarin terulang lagi.
Satria beserta papinya memberi wajengan kepada gadis tersebut, kalau tidak boleh membukakan pintu rumah untuk siapapun.
"Ingat Ci, jangan buka pintu! Kalau terjadi apa-apa? Cepat hubungai kami," pinta Satria yang sebenarnya kasihan dengan gadis itu. Dia tidak tega harus meninggalkan Suci seorang diri di rumah, kalau bukan hal penting dan desakkan istrinya. Lelaki itu tidak akan melakuakan hal tersebut.
"Dia bukan anak kecil, Sat. Ayo, nanti kita kemalaman, Mami cepat capek, begitu juga istrimu." Desakkan wanita yang telah melahirkannya itu, membuat satria hanya mampu membuang nafas panjang. Mereka menaiki mobil dan meninggalkan rumah yang hanya ada Suci seorang diri.
"Kenapa kamu tega dengan Suci, Nur!" tanya Satria yang tidak suka dengan tindakan istrinya tersebut. Ia merasa telah mengganggap Suci seperti orang lain saja.
"Ini bagian dari rencana."
"Nanti aku jelaskan di rumah Umi."
Satria hanya terdiam, padahal dia sangat penasaran. Begitu juga dengan Ikbal yang mencuri pendegaran pansangan suami--istri yang duduk di jok belakang tersebut, akan tetapi Ikbal heran melihat istrinya yang cuek dan hanya fokus terhadap ponselnya. Hingga tidak terasa mereka sudah memasuki halaman rumah Azzahra. Mereka berempat di sambut oleh Azzam, pemuda itu terus mengembangkan senyuman terbaiknya.
"Hati-hati, Dek!" Azzam membatu Mala keluar dan tidak lama di susul yang lain. Mereka masuk dan duduk di kursi tamu, tidak lama kemudian datang Azzahra si tuan rumah.
"Bapak mana?" tanya Mala yang tidak melihat lelaki tersebut.
"Tunggu saja, nanti juga nongol." Dan benar saja, tidak berapa lama terdegar salam dan menampakan lelaki itu dengan beberapa bagian tubuh yang diperban.
"Semuanya sudah kumpul?" ujarnya seraya menajtuhkan bobot tubuhnya di sova yang empuk.
"Kita mulai saja," jelas Azzam.
__ADS_1
"Biar Umi yang mulai, kamu itu masih kecil."
Ucapan Azzahra membuat semua orang terkekeh kecil, walau sebesar apapun seorang anak, akan tetap dianggap anak kecil oleh orangtuanya.
"Kita awali semuanya dengan membaca bassmallah."
"Bissmillahirrohmmannirohim."
"Kita di sini berkumpul guna mencari solusi terhadap masalah yang menimpa keluarga kita," jelas Azzahra.
"Kita mendapat luka? Maka kita obati, kita menerima duka? Maka kita bermusabah diri, berdoa adalah obat yang paling baik untuk mengobati luka."
"Terlalu lama, kita bahas masalah siapa Sulastri!" pinta Marissa yang merasa wanita dihadapannya terlalu bertele-tele.
"Mami!" tegur Ikbal yang tidak suka dengan cara istrinya. Dia merasa gagal mendidik wanita itu menjadi lebih baik.
"Baiklah, dari mana kita akan mulai?" tanya Azzahra yang tidak tersinggung dengan ucapan besannya tersebut. Dia juga ingi cepat masalah ini terselesaikan.
"Sulastri itu adalah Suci!" jawabnya dengan penuh bangga akan pengetahuan yang ia miliki.
"Bisa jadi, akan tetapi apa Anda miliki bukti?" jawab Azzam menimpali.
"Kamu, diam saja!" bentak Marissa dengan wajah tidak suka.
"Kita di sini adalah keluarga, jadi harus bisa menerima pendapat yang lain. Lagian apa yang di katakan …, maaf, nama kamu siapa Nak?" tanya Ikbal membuat yang lain tertawa terlebih Satria.
"Kalau ayah biologis Kak Satria siapa, Mi?" pertanyaan Mala menarik semua perhatian yang ada di sana.
"Itu… !"
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung… ....
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...