Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Malam Pertama


__ADS_3

"Aku mau menikah dengan Abang, malam ini!" terang Suci dengan lantang, seolah-olah sedang menantang lelaki yang berada di hadapannya. 


"Allahu, Akbar!"


Ingin sekali Satria menangis dan meraung-raung meminta agar Tuhan menjadikan ia sebagai wanita saja. Sebab, wanita adalah makhluk yang tidak mudah untuk dikalahkan. Mati satu, tumbuh yang lain. 


Baru saja ia memberikan pengertian kepada istrinya, kini Suci kembali harus diluruskan isi kepalanya. 


"Ci, Abang sibuk! Mau kerja!"


Tanpa mendengar jawaban dari Suci, Satria berbalik badan. Namun, siapa sangka. Jika, langkahnya dihentikan. Ternyata sang istri yang mencekal tangannya. Kini Satria diserang oleh kedua orang wanita yang memiliki permintaan yang sama. 


"Nak Satria, Abi mau mengambil---," Aziz tidak meneruskan ucapannya. Dia melihat keadaannya yang pelik tengah terjadi. 


Mak Diam yang tadinya ingin mengantar minuman pun memilih kembali ke dapur, sebab tidak ingin ikut campur dengan masalah yang terjadi diantara ketiga orang itu. 


Hubungan yang sangat rumit, dimana istri pertama memaksa suaminya untuk menikahi sang madu. Orang ketiga dalam rumah tangga mereka. Jika, Satria menghamili Suci atau berlaku zalim. Wajar mungkin jika sang istri meminta hal itu. 


Namun, ini lain ceritanya. Membuat Satria stres sendiri dibuat oleh kedua wanita itu. 


"Abi, bantu aku!" lirih Satria meminta bantuan dari lelaki itu. Walaupun bagaimana keadan sekarang, Aziz adalah seorang ustad (guru)  yang telah banyak memberi ia ilmu dan pengetahuan.


"Abi, bisa apa?" tanyanya ragu sambil menatap mereka yang ada disana bergantian. 


"Abi bisa menikahkan Suci dengan Kak Satria. Menjadi penghulu!" celetuk Mala dengan entengnya. 


Ingin sekali rasanya Satria menjahit mulut istrinya itu, yang suka terbuka dengan mudahnya. Tanpa, memikirkan sebab dan musabab dari apa yang dikatakan. 


"Abi asisten di perusahaan Cahaya Permata. Bukan, penghulu," jelas Aziz mencoba mencairkan suasana. 


Namun, malah mendapatkan tatapan tajam dari Mala. Aziz hanya mampu menelan silvernya kasar. Sebab, ia sangat tahu sekali akan sifat wanita itu.


"Nur, jangan buat masalah. Aku tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari!" ancam Satria yang mulai kehabisan kesabaran. 


Kali ini Suci yang menjadi ragu akan menikah dengan Satria. Pandangannya tertuju kepada Cahaya, balita itu tersenyum manis kepadanya. Solah mendapatkan energi tambahan, kepercayaan diri yang tadinya kendor. Kini mulai kencang kembali, dengan beraninya Suci menyuarakan keinginannya. Semuanya ia lakukan demi Cahaya. 

__ADS_1


"Bang, aku siap menjadi istri keduamu."


Ingin sekali rasanya Satria mengurung kedua wanita itu, mengapa mereka melakukan hal ini kepadanya. Seolah-olah ia adalah seorang yang terdakwa.


"Lalu, bagaimana caranya kita nikah? Wali kamu Pak Rudy ada di Amerika. Sedangkan kita tidak memiliki penghulu dan kedua saksi untuk menyaksikan ijab kabul," jelas Satria yang ingin menekan perasaan Suci agar tidak ikut-ikutan istrinya yang sudah diluar batas. 


"Itu bisa Abi atur. Kita bisa melakukan panggilan via video call dengan Pak Rudy. Sekalian untuk saksinya kita adakan panggilan via Zoom. Kalau penghulu, Abi bisa."


Semua orang menatap kearah Aziz, semuanya tidak menyangka jika lelaki itu memiliki pemikiran sekian rupa. 


Satria yang paling tidak terima akan ide yang dikemukakan oleh lelaki itu. Sebab, sama saja sang abi mendukung rencana Mala dan Suci. Sedangkan Satria sangat berharap bahwa abinya itu berada dipihaknya. 


"Itu ide bagus, Bi. Malam ini kita lakukan," jelas Mala dengan mata yang berbinar.


"Nur," lirih Satria mengiba. Dia merasa semuanya terlalu mendesak dan terkesan sebuah pemaksaan. Sedangkan pernikahan seharusnya dilaksanakan dengan khidmat. 


"Ci, kamu bisa menghubungi Pak Rudy sekarang. Aku akan menyiapkan tempat untuk akadnya," perintah Mala sambil berlalu menuju dapur. Dia ingin meminta bantuan Mak Diam. 


Suci yang menerima perintah itu hanya melogo. Antara bingung dan ragu, apalagi tatapan Satria yang mengindimindasinya. 


"Kamu mau mengikuti rencana Mbakmu? Kamu tahu bukan jika pernikahan bukan perkara yang bisa dipermainkan! Apa kamu yakin, Ci? Kamu siap menerima resiko dan kekasihnya?"


Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Satria membuat keraguan Suci semakin menjadi. Akan tetapi, ia teringat akan Cahaya. 


"Aku melakukan semua ini, untuk Caca. Terserah Abang mau bilang apa. Tapi, aku mau menjadi Mama untuk Caca," jelas Suci tanpa memeprdulikan ocehan Satria. Dia fokus menelpon Ayahnya dan memberitahukan jika ia ingin menikah dengan Satria. Entah seperti apa reaksi Ayahnya nanti, akan tetapi ia lakukan semua ini demi Cahaya. 


Suci tidak ingin balita itu mendapatkan ibu tiri seperti cerita cindirela. Hal yang penting baginya adalah bagaiamna menjadi Mama untuk Cahaya. Tidak ada yang lain, hanya itu niatnya. 


"Halo, Yah," sapa Suci ketika panggilannya telah terhubung. 


Satria yang melihat hal itu hanya mampu membuang nafas panjang, ia lalu memilih duduk disofa sambil melihat tingkah Suci dan mendengarkan apa yang wanita itu sampaikan.


Sedangkan Aziz yang melihat Satria seperti sudab pasrah dengan keadaan, akhirnya duduk disamping lelaki itu. Ia juga bingung, bagaimana harus bertindak. 


Namun, jika semua diawali dengan niat baik. Insya Allah akan berakhir baik, walaupun akan banyak ujian yang akan mengoyahkan niat baik itu. Sebagai sebuah bentuk untuk keistiqomahan diri dalam menjalaninya. 

__ADS_1


Semuanya terjadi begitu cepat, ternyata Pak Rudy sama sekali tidak keberatan akan pernikahan yang mendadak itu.  Bahkan, Pak Rudy meminta asisten dan juga seketarisnya untuk menjadi saks atas pernikah Suci dan Satria. 


Segalanya dilakukan via online, melalui video call. Aziz menjadi penghulu dadakan dan mendapatkan tugas yang berat, yaitu mengurus surat-menyurat.


Karena Pak Rudy ingin pernikahan Suci sah secara agama dan hukum. Dia tidak ingin setatus putrinya nanti dipertanyakan, apalagi sampai memiliki anak dengan Satria. Semuanya harus jelas, oleh sebab itu Aziz yang menjadi penghubung antara kedua belah pihak. 


"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Aziz ketika Satria telah melafaskan izab kobul dengan sekali tarikkan nafas. 


"Sah!" teriak para saksi dari balik layar ponsel.


"Alhamdulillah, mari kita lafaskan doa untuk kedua pengantin," pinta Aziz sambil membacakan doa setelah ijab kobul dan dilanjutkan dengan doa untuk pengantin baru Satria dan Suci. 


Tanpa baju pengantin dan riasan make up, Suci nampak biasa saja. Tidak ada hidangan yang mewah, hanya ada beberapa kue kering yang Mak Diam siapkan ditemani oleh teh hangat. 


Apakah ini pernikahan yang ia harapkan? Ternyata, semuanya diluar ekspedisi. Terasa hampa dan terkesan terpaksa. Itulah yang ia rasakan hingga suara Satria terdengar sambil mengulurkan tanganya. 


"Ehem, Ci. Cium tangan Abang," pintanya yang membuat wanita itu menjadi gemetar. Untuk pertama kalinya, Suci bersentuhan dengan Satria dengan setatus sebagai istri. 


Satria mencium dahi Suci disaksikan oleh Mala dan yang lainnya, akan tetapi seolah punya ide gila. Satria membisikan sesuatu yang membuat Suci meremang takut. 


"Malam ini, malam pertama kita."


Deg… .


"Haruskah aku teriak minta tolong?" batin Suci. 


.


.


.


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...

__ADS_1


__ADS_2