
Ingin ketawa tapi takut dosa itulah yang ada didalam pikiran Mala mendengar penjelasan Satria yang sudah berusia 20 tahun tapi belum disunat.
Dengan alasan ngeri apalagi Usianya sudah kelewat tua menurut Mala untuk disunat.
"Jadi bagaimana pak? "
Tanya Satria menatap lelaki itu dengan mata penuh harab.
"Ya kamu harus disunat, tapi menurut bapak besok pagi kita mengurus surat untuk kalian menikah malamnya baru kamu sunat nak Satria"
Ucap pak Udin memikirkan solusi menurutnya mengurusi surat menikah itu lebih utama karna tidak akan selasai dalam sehari.
"Tapi saya takut pak"
Kini satria memelas pada lelaki itu.
"Memangnya berapa sih usiamu? "tanyanya.
"20 tahun pak" Lirihnya.
"Loh ko kamu tua 2 tahun dari Mala? " tanya pak Udin heran.
"Itu pak saya ketika lulus sd gak langsung nyambung smp jadi tertinggal setahun, pas di masukan kepondok saya sering kabur karna gak tahan jadi gak naik pas aliyahnya setahun makanya saya jadi satu angkatan sama Nur"
Jawab satria panjang lebar.
"Dari tadi bapak dengar kamu memanggil putri bapak dengan nama depannya"Tanyanya heran.
"Ya karna Nur itu kan artinya cahaya, putri bapak membawakan cahaya ketika hidup saya gelap gulita" Ujar Satria.
Pak Udin terkekeh mendengar rayuan satria.
Sedangkan Mala hanya tersenyum malu mendengarnya, dia menjadi pendengar yang baik saat ini ketika dipinta pendapatnya baru dia berbicara.
"Sudah larut malam kita istirahat ya besok baru kita lanjutkan rencananya, karna dirumah ini hanya ada dua kamar tidur kamu Satria tidur sama bapak dan Mala tidur sendiri dikamar itu"
Ucap pak Udin sambil menunjuk kamar yang dimaksud.
...***...
Mereka bertiga membawa diri untuk beristirahat karna besok adalah hari yang berat apalagi untuk Satria yang gelisah semalaman memikirkan nasip milik dirinya yang akan dipotong.
Ngeri itu yang ia rasakan masak benda yang lembut seperti itu harus dipotong? itulah yang dipikirkannya semalaman suntuk.
"Ini semua gara-gara mami aku menderita jika waktu itu aku mendengarkan ucapan papi pasti hari menyedihkan ini tidak akan terjadi" batin satria geram teringat biang kerok masalah yang ia hadapi.
flasblack on
Langit cerah menandakan hari ini adalah hari yang menyenangkan untuk memulai aktifitas.
Tapi tidak bagi anak lelaki berusia 7 tahun yang sekarang menangis histeris ditengah-tengah banyaknya anak sebayaannya yang menggunakan sarung sambil duduk menunggu waktu nama mereka dipanggil.
Dia adalah Satria yang bertriak sambil menangis mengatakan ia tidak mau di sunat.
Bukan tanpa sebab itu semua ulah maminya yang meracuni pikiran putranya sendiri membuat kegaduhan di tengah-tengah acara sunan masa yang diselenggarakan oleh perusaan Permata tersebut.
"Apa sih yang kamu ucapkan Dinda? "
Suara nyaring Ikbal suaminya membuat perempuan berparas blasteran itu menatapnya tidak suka.
"Aku hanya ingin menyelamatkan putra kita" Kilahnya.
Ikbal tidak menangapi ucapan istrinya iya mendekat kearah putranya dan membisikkan sesuatu membuat Satria berhenti menangis walau masih menyisakan suara isaknya.
Ikbal menggendong putranya menuju pakiran yang di ikuti oleh istrinya.
Setelah di mobil ketika melihat keadaan putranya yang mulai tenang ia dari jok belakang ia menatap tajam istrinya.
"Apa sih yang kamu katakan sampai membuat putra kita menangis seperti tadi? "Tanyanya penuh penekanan.
"Aku kan sudah bilang sama akang kalau aku gak mau putra kita disunat sama -sama anak yang lain, apa lagi acara itu untuk amal yang diselenggarakan oleh perusaan opanya Satria"
__ADS_1
Ucap Merissa sengit ia tidak mau pamornya yang anak pemilik jatuh hanya karna putranya yang ikut sunatan masa tersebut.
Ikbal hanya menggelengkan kepala menanggapi pembelaan istrinya itu, dia malas berdebat yang akan hanya membuat urusan semakin panjang lebar nantinya.
"Satria jagoan papi"
Ucap Ikbal sambil menoleh kebelakang kabin mobil.
"Iya pa....."Lirih Satria kecil.
"Kenapa kamu tidak mau disunat tadik nak? Apa putra papi sudah lupa akan janjinya"Ucapnya lemah lembut.
"Kata mami Dokter disana akan memotong milik satria sampai habis supaya Satria gak bisa punya anak pi"
Mendengar ucapan sang putra membuat Ikbal menatap istrinya dengan tajam, tetapi hanya ditangapi santai oleh sang istri.
"Kamu sudah menghancurkan mental putra kita Dinda, siap-siap menanggung akibat atas perbuatanmu ini dikemudian hari" Ucap Ikbal penuh penekanan.
"Dia putraku bukan putramu"
Skatmat Ikbal bungkam seribu bahasa.
flasblack off
Satria mengerjap matanya sayu-sayu terdengar suara indah seseorang mengaji lembut menenangkan hati itu yang dia rasakan apa lagi dia tahu siapa pemilik suara itu.
Satria bergegas bangkit dari tempat tidur mengedarkan penglihatanya serasa ada yang kurang.
"Dimana bapak Nur ya" Gumamnya.
Ketika dia keluar dari kamar dan menuju dapur dia melihat bapaknya Mala menata sarapan di meja makan.
"Eh, nak Satria mau kekamar mandi ya? "
Tanyanya sambil sibuk dengan lauk pauk yang di masak.
"Iya pak"
"Kebelet banget sih bapak Nur ini ingin menikahkan kami berdua memang seperti yang Nur katakan kalau bapaknya memang tidak peduli dengannya" Batin Satria.
Setelah menunaikan kewajiban kepada sang Robb dan mengisi tangki perut maksudnya, mereka bertiga berangkat menuju kantor KUA dengan mobil pick up sang Bapak.
"Semuanya sudah selesai pak tinggal foto bedua" Ucap Satria
Mala yang enggan berbicara dengan sang bapak yang tiba -tiba berubah drastis menjadikan Satria sebagai pelantara komunikasi.
"Kalau begitu kita kekonter ponsel untuk kalian" Ucapnya.
Membuat Mala dan Satria saling pandang.
"Untuk apa beli ponsel pak? " Tanya Satria
"Ya untuk kalian berfoto" Jawabnya polos.
Mala tak dapat menahan rasa ketawanya mendengar ucapan sang bapak yang benar-benar di luar ekspedisi.
Sang bapak hanya menatap heran putrinya.
"Kita kejuru fotografer yang ada didekat sini aja pak" Jawab Satria menengahi ketidak pahaman sang bapak.
"Oh ya sudah kita berangkat" Ajak pak Udin.
"Tapi kita harus pakai baju putih kak" Akhirnya ada suara yang dikeluarkan oleh Mala yang memang sulit untuk diam.
"Kalau begitu kita kepasar aja disana juga ada tempat fotografi"
Usul sang bapak yang langsung di anggukan oleh kedua insan tersebut.
"Ponsel ya??? itu juga hadiah yang bagus untuk mereka berdua" Batin pak Udin.
...***...
__ADS_1
Setelah urusan di kantor KUA telah selesai dari perkiran mereka, karna semua berkas yang mereka miliki telah memenuhi standar dan harinya sudah di tentukan jadi tujuan terakhir ialah kedokter untuk menyunat Satria.
...***...
Di RS Satria memegang erat tangan bapaknya Mala itu dengan kuat dia seolah-olah enggan berpisah dari sang bapak.
Dari mendaftar sampai masuk keruangan Dokter Satria terus menggenggam tangan pak Udin membuat lelaki itu tersenyum melihat tingkah laku sang calon menantu.
"Mang Udin"
Panggil sang dokter yang terkejut melihat siapa yang menjadi pasiennya kali ini.
"Eh pak Dody"
Ucap Udin yang juga terkejut melihat siapa yang didepannya.
"Mau konsultasi mang?"Tanya pak Dody ramah.
"Ah tidak pak, ini loh mau sunat calon suami Mala" Jawabnya tersenyum ramah.
"Loh...Mala putri bapak mau menikah?" Tanyanya terkejut.
"Iya pak, saya tidak mau menanggung dosa zina anak saya, lebih baik saya nikahkan aja langsung" Jawabnya
"Itu lebih bagus mang jagan biarkan anak-anak kita pacaran sama saja kita menyuruh mereka berzinah"
"Iya itu tapi menatu saya mau sunat dulu, apa biasa? " Tanyanya ragu-ragu.
"Ya tentu bisa mang banyak ko yang bule-bule udah dewasa baru di sunat"
"Tapi apa boleh saya mintak malam ini? "
"Tentu boleh untuk mang Udin tapi tidak di sini kita sunatnya di tempat praktek saya saja biar enak habis isya ya" jawab pak Dody.
"Malam ini" batin satria.
"Baik pak Dody"
Mereka saling berjabat tangan setelah dokter muda itu memberikan alamat tempat prakteknya.
...***...
Waktu cepat berlalu entah bagaimana Satria menurut saja tanpa melawan membuat semua proses itu menjadi atau karna ia memikirkan Mala dirumah sendirinya.
Mala tidak ingin ikut karna ia merasa tidak nyaman, dengan alasan ia lelah dan ingin dirumah saja.
Tersengar suara mobil yang menandakan bapak dan Satria telah datang.
"Aku kira bakalan samapi besok" Ejek Mala melihat gaya Satria berjalan.
"Diam kau Nur, aku melakukan ini untuk dirimu" Balas Satria sambil masuk kedalam rumah dan duduk di kursi tamu.
"Besok bapak akan memanggil semua keluarga kita untuk mempersiapkan pernikahan kalian" Ucapan sang bapak membuat Mala dan Satria saling pandang.
"Pak milikku belum kering" Lirih Satria.
"Ya bapak tau kamukan sunatnya diam-diam tapi kalau pernikahan kalian harus terang-terangan" Ucap pak Udin sukses membuat dua anak manusia itu menelan silvernya.
Berani ketika diawal tapi menciut ketika sudah dipertengahan jalan.
Maju sulit mundur tidak bisa itulah istilah yang tepat untuk mereka.
.
.
.
...***Bersambung......
*setelah baca wajib like and comen ya 😇****
__ADS_1