
Setelah mengatakan hal tersebut, Mala meminta Suci untuk datang kembali kerumah mereka malam ini untuk melanjutkan pembicaraan tadi siang.
Bisikan demi bisikan terus menggagu Mala, ada-ada saja yang dipikirkan. Padahal tidak masuk diakal.
Mala dibuat pusing akan pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba muncul dipikirannya.
Dari memikirkan malam pertama suaminya, terus kuat atau tidak ia melihat suaminya berpelukkan dengan Suci.
Semua itu menghantuinya hingga solat pun ia tidak khusuk dibuatnya. Gara-gara memikirkan sesuatu yang ia tahu pasti terjadi.
Walau bagaimanapun, jika Satria telah menikahi Suci? Maka wajib bagi suaminya untuk menafkahi Suci lahir batin.
Sampai sore harinya, perasaan Mala semakin gundah. Apalagi ketika ia menyambut kedatangan sang suami yang bersama Abi Aziz.
Walapun lelaki itu telah bercerai dari uminya, akan tetapi Mala tetap memanggilnya dengan panggilan Abi.
"Assalamualaikum, La. Apa kabar Cha-Cha?" tanya Aziz ketika bertemu dengan Mala dan putrinya.
"Cha-Cha baik, Bi. Abi ikut Ayah mau lembur ya?" ujar Mala mewakili sang putri.
"Kamu tahu saja," balas Aziz sambil tertawa renyah. Sudah seperti hari sebelumnya, ketika ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Maka mereka akan mengerjakannya dirumah Satria. Sebab, Satria tidak ingin lembur dikantor dan memilih lembur dirumah ditemani oleh istri serta putrinya.
"Salamnya belum dijawab, Cha!" celetuk Satria sambil mencium istri setra putrinya.
"Wallaikum salam, Yah, Bi."
Satria hanya tersenyum, sambil merangkul sang istri masuk kedalam. Aziz hanya menggelengkan kepala sambil ikut masuk. Walaupun hanya asisiten, Aziz sangat senang menjadi bagian dari keluarga Mala dan Satria.
"Nak Satria sudah pulang," tanya Mak Diam yang baru selesai memasak makanan untuk makan malam.
"Iya, Mak. Tolong siapkan kamar untuk Abi Aziz," pinta Satria sebelum berlalu masuk kekamarnya. Sedangkan Mala dan Cahaya duduk lesehan diruang tamu.
Mak Diam hanya mengangguk, lalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Malam harinya setelah solat magrib mereka makan malam bersama.
Namun, ketika mereka telah selesai makan. Tiba-tiba bel rumah berbunyi, kemudian disusul salam dari seseorang.
"Siapa yang bertamu malam-malam?" gumam Satria yang ingin membukakan pintu. Namun, dihalangi oleh Mala.
Sebab, Mala sudah tahu siapa yang akan datang. Kemudian ia menyerahkan putrinya kepada sang suami untuk dijaga diruang tamu.
Tidak berapa lama kemudian Mala datang dengan mengandeng tangan Suci masuk.
__ADS_1
Satria hanya melihat sekilas, kemudian ingin pamit untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Apalagi Abi Aziz pasti sudah menunggunya.
"Nur, ini Caca. Aku mau menemui Abi dulu."
"Tunggu dulu, Kak. Ada yang mau aku bicarakan," pinta Mala sambil menahan pergelangan tangan sang suami.
Tubuh Suci membeku ditempat, ia kira jika Mala hanya bercanda dengan apa yang tadi siang diucapkannya.
Namun, malam ini. Sepertinya Mala sudah mengatur sebuah rencana yang membuatnya menjadi korban atas perbuatan wanita itu.
"Ada apa, Nur?" tanya Satria sambil kembali duduk dan disusul oleh istrinya.
"Ci, ayo duduk dulu," pinta Mala yang membuat wanita itu tergagap karena kaget.
"Ah, iya Mbak."
Suci segera duduk diujung sofa, ia merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Semua sudah terlanjur.
"Kak, aku mau Kakak menikahi Suci malam ini!"
Tiba-tiba saja Satria seolah terkena serangan jantung mendadak, setelah mendengar penuturan istrinya itu.
"Nur, pernikahan bukan sebuah bahan untuk dipermainkan!"
Satria mengatur nafasnya yang sedang nail turun, setelah mengatakan hal itu. Dia tidak ingin terjun ke masalah yang akan membuat rumah tangganya berujung akan bencana besar nantinya.
Karena, bukan perkara mudah untuk berpoligami. Apalagi ia yang hanya memiliki iman secuil. Belum, apa-apa Satria sudah mengambil ancang-ancang.
"Aku tahu, Kak. Pernikahan itu bukan sebuah permainan!" ujar Mala sambil menaikkan suaranya satu okta.
Satria mengatur perasaanya terlebih dahulu, jika istrinya menjadi api. Maka ia harus menjadi air, sebab jika ia menjadi api juga? Maka akan terjadi kebakaran yang hebat. Sama seperti gunung berapi yang menyemburkan lava panas.
"Nur, dengarkan ini baik-baik!"
“Dari Imran bin Husain radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاء (رواه البخاري 3241 ومسلم 2737)
“Aku diperlihatkan di surga. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum fakir. Lalu aku diperlihatkan neraka. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita.” (HR. Bukhari, 3241 dan Muslim, 2737)
"Dalam riwayat tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam menyampaikan mayoritas penghuni neraka adalah wanita.
__ADS_1
Mengapa demikian?" tanya Satria mengajak istrinya agar mau berpikir.
Namun, sang istri hanya menundukkan kepalanya diam. Membuat Satria tahu jika istrinya itu sedang merenung. Kemudian ia usap pucuk kepala sang istri yang dibalut oleh hijab. Wanita yang ia cintai karena Allah.
"Diantaranya, banyak dari kaum wanita yang terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan dan penyimpangan karena beberapa sebab." Satria melanjutkan ucapannya ketika ia merasa sang istri sudah mulai tenang hatinya.
"Salah satunya, sering menganggap biasa atas dosa dan kesalahan yang dilakukan. Alasan lainnya yaitu diantara kaum wanita ada yang belum mengetahui hukum dari perbuatannya, sehingga ia terus melakukan dosa tanpa disadari!" saskas Satria sambil melirik Suci sekilas.
"Oleh karena itu, hendaknya kita terus semangat dalam menuntut ilmu. Supaya terhindar dari melakukan suatu dosa yang tanpa disadari ataupun menganggap biasa perbuatan tersebut."
Setelah mengatakan hal itu, Satria bangun dari duduknya dan berlalu. Dia membiarkan istrinya berfikir sejenak untuk mencerna setiap ucapan yang ia katakan.
Tidak mudah memang menjadi seorang suami, sekaligus imam buat sang istri. Semua perbuatan istri dan anaknya akan ia tanggung hingga kehadapan Sang Robb. Terlebih Satria yang sangat tahu akan watak istrinya yang akan menjadi cermin untuk setiap orang yang dihadapinya.
Maka hal itu, Satria mendidik sang istri dengan kasih sayang dan kelembutan. Agar wanita itu tidak meronta dan beradu argumen dengannya.
"Bang! Tunggu dulu!"
Suci yang sedari tadi diam memperhatikan akhirnya angkat bicara. Dia memanggil Satria dan menghentikan langkah lelaki itu. Hingga berbalik badan menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
Satria membuang nafasnya kasar sebelum menghadapi Suci. Wanita memang makhluk yang paling memberatkan kaum suami. Itulah pikirnya.
"Kamu mau apa, Ci? Jika, ingin bermalam disini? Silahkan, Abang tidak pernah melarang. Sekarang Abang sibuk! Mau kerja lagi," jelas Satria dengan nada lemah-lembut agar wanita itu paham.
Suci menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan Satria. Wanita itu memberikan Cahaya kepada Mala, kemudian menghampiri Satria dengan beraninya.
Kini mereka berdua saling berhadapan, hal itu tentu membuat Satria merasa risih dan kemudian menundukkan pandangannya.
"Aku mau menikah dengan Abang, malam ini!"
"Allahu, Akbar!"
.
.
.
...Bersambung •••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1