Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Kedatangan Papi Ikbal


__ADS_3

...Waktu yang ditunggu telah tiba, Ikbal turun dari pesawat yang ditumpanginya dan menuju pakiran. Dirinya telah tidak sabar untuk bertemu dengan keluarga yang amat di cintainya. Dari dalam pesawat dia tidak henti-hentinya berselawat atas Nabi, seperti sang Kekasih yang merindukan. Begitulah perasaan Ikbal, dia amat merindukan Nabi kekasih Sang Robb....


"Taksi," panggil Ikbal sambil melambai kepada mobil taksi. Dia sengaja tidak memberitahukan kepulanganya, sebab ia ingin memberikan kejutan kepada Putra dan Istrinya tidak lupa sang Menatu.


"Mau ke mana, Pak?" tanya sopir taksi ketika penumpangnya sudah naik.


"Antar saya ke RSJ Sukma Bakti," pinta Ikbal sambil tersenyum.


...Mobil pun mulai melaju meninggalkan bandara membawa Ikbal menuju RSJ guna menemui sang Istri....


"Aku pulang Rissa," batin Ikbal.


...Ada beban yang berat di pikul oleh Ikbal, dia tahu kalau sang Istri kembali drop akibat beremu dengan lelaki masa lalunya. Namun bukan itu yang di pikirkan Ikbal, tetapi sang Putra. Bagaimana dia akan menjelaskan semuanya? Apakah sang Putra akan menerima kenyataan sebenarnya? Wa llahi....


...Mobil yang ditumpangi Ikbal mulai memasuki area RSJ, Ikbal pun akhirnya meminta sang Supir untuk berhenti di bahu jalan....


"Pak, berhenti di sini saja," pinta Ikbal sembari memberikan uang pecahan 100 dua lembar.


"Terimakasih Pak," balas sang Sopir seraya mengambil uang tersebut.


...Ikbal keluar mobil taksi dan menyeret koper miliknya, tidak ada waktu untuk beristrirahat untuk dirinya. Masalah yang ingin dia cepat selesaikan, karna tidak nyaman seorang Ikbal melalaikan suatu masalah hingga berlarut-larut. Dia yang sudah terdidik dari kecil untuk bertanggung jawab dan tidak boleh lari dari masalah, sebab masalah tidak akan pernah habis selama masih hidup. Lari dari masalah hanya akan membuat masalah baru, bukan solusi yang baik untuk di lakukan....


"Maaf, Sus," panggil Ikbal ketika di lobi RSJ.


"Iya, Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Suster sambil menatap lelaki dihadapannya.


"Di mana ruangan atas nama ibu Marissa?"


"Bapak siapa? Kalau tidak ada kepentingan, anda tidak boleh menemui ibu Marissa."


...Mendengar penjelasan sang Suster membuat Ikbal mematung, dia yang memang meminta agar tidak sembarang orang yang bisa menjenguk sang Istri. Dia tidak ingin kejadian seperti kemarin terulang dan membuat Istrinya koleps....


"Saya Ikbal Satiawan Permata, suami ibu Marisaa, Sus."


...Suster tersebut hanya mengangguk menaggapi ucapan Ikbal dan mengajaknya untuk ke ruangan Marissa....


"Silahkan ke sini, Pak."

__ADS_1


...Ikbal mengikuti sang Suster tersebut, entah mengapa perasaannya tiba-tiba tidak enak. Jantungnya berdetak dengan cepat, seolah ada gemburuh yang memuncak di sana membuat Ikbal berkali-kali berzikir mengusir bisik-bisikkan Syaiton....


"Auzubilahi minnas syaithon nirozim."


"Silahkan Pak, ibu Marissa sedang makan siang."


...Setelah mengantar Ikbal masuk ke dalam kamar Marissa, Suster itu pun pergi berlalu....


"Asssallamuallaikum," Ikbal mengucapkan salam seraya mendorong pelan pintu kamar sang Istri.


"Papi," teriak Marissa ketika tahu siapa yang datang. Dia yang sedang makan siang dan ingin tidur di kejutkan oleh sebuah salam yanh pasti itu bukan dari staf RSJ, karna mereka akan mengetuk pintu lalu masuk ketika dia memberi izin.


...Ikbal menatap wanita yang dia nikahi dulu karna sebuah amanah, dan kini dia melihat wanita itu tersenyum bahagia menatapnya....


"Mami sehat?" tanya Ikbal seraya duduk di sova yang terletak di dalam kamar khusus sang Istri.


"Papi, aku kagen, kenapa Papi enggak kasih kabar? Atau Papi sudah punya yang lain di luar?" Marissa memborong pertanyaan kepada sang Suami.


...Ikbal hanya mampu menghembuskan nafas kasar, sifat dan watak memang sulit untuk diubah. Namun dia sangat berharap dan selalu berdoa ke pada Sang Robb agar Istrinya bisa menjadi wanita Soleha....


"Papi mengurus Permata Grub, Mami tahu setelah kepergian Papa? Perusahan mengalami banyak masalah, Papi harus kerja ekstra mengendalikan semuanya agar berjalan dengan semestinya."


"Papi, kenapa tidak di sini saja? Kita bisa menjalankan perusahan cabang bersama," ucap Marissa sambil duduk di samping sang Suami sambil mengelua lengan kekar lelaki itu.


"Bagaimana caranya? Mami saja suka koleps, kata Dokter Mami masih harus dipantau kewarasannya," jelas Ikbal sambil mengelus rambut panjang sang Istri.


"Papi meragukan Mami? Mami sudah waras, Pi, lagian Mami kagen sama Papi," balas Marissa memanja-manja dengan sang Suami.


"Inssya Allah, Mami ada yang mau Papi tanyakan, boleh?"


...Marissa meneguk silvernya kasar, dia paham betul akan arah pembicaraan sang Suami. Karna apa pun yang ingin Suaminya tanyakan adalah hal yang penting....


"Papi ke sini sudah memberitahu Satria?" tanya Marissa mengalihkan pembicaraan.


"Mi, Satria sudah menikah! Kita tidak bisa menyemunyikan hal itu lebih lama lagi, Papi tidak mau menanggung dosa."


...Marissa mengeleng menagapi ucapan sang Suami....

__ADS_1


"Aku belum siap, Pi," lirihnya.


"Siap atau tidak? Jangan lari dari tanggung jawab, apa lagi Ayah biologis Satria sudah menemuimu," sakras Ikbal tanpa basa-basi, sebab dia sudah cukup lama menanggung beban tersebut.


"Aku takut, Pi! Apa lagi, Marcel ke sini menanyakan Putra kita."


...Ikbal terdiam sesaat, apa yang dia pikirkan benar terjadi. Sebejat-bejatnya oranh tua, mereka pasti akan memikirkan anaknya. Cuma terkadang semua itu ditutupi oleh perasaab egois dan bisikkan Syaiton....


"Kalau Marcel mencari Putranya, itu berati dia lelaki yang bertanggung jawab," jelas Ikbal menenangkan sang Istri.


"Kalau Dia tanggung jawab? Maka aku, akan menikah dengannya bukan denganmu!" teriak Marissa kesal.


"Semua sudah adalah suratan takdir, jadi jagan menyalahkan orang lain. Apa lagi Tuhan, atas apa yang terjadi!"


...Marissa hanya mampu menunduk mendengar penuturan sang Suami. Dia yang dulu sangat membenci lelaki di sampingnya, namun kini sangat cinta mati dengan lelaki yang membawa keteduhan....


"Kalau Marcel membawa Satria, bagaimana? Aku tidak mau berpisah dengan Putra kita," jelas Marisaa dengan persangka buruknya.


"Bagaimana Marcel mau membawa Satria? Kamu tahu kalau ada Mala, Istrinya itu akan memiliki hak mutlak atas Satria."


...Marissa mengangguk menanggapi ucapan sang Suami, terkadang dia lupa kalau Satria sudah menikah dan Istrinya itu adalah Menantu yang luar biasa....


"Papi yakin akan memberitahu, Satria?" tanya Marissa ragu.


"Insya Allah, lagian Satria memiliki hak atas Ayah biologisnya. Begitu pula sebaliknya, kita tidak boleh egois."


"Memutuskan tali-silahturami berati memutuskan Rahmat Allah," jelas Ikbal panjang lebar.


...Ikbal menaruh harapan besar kepada sang Istri, agar mau memberikan hak sang Putra yang sejak lama telah dia hentikan....


...Sebuas-buasnya binatang, mereka tidak akan pernah bisa menyakiti anaknya. Manusia memiliki derajat yang lebih tinggi dari binatang. Jika ada orang tua yang tega membuang dan bahkan membunuh buah cintanya, maka mereka lebih hina dari seekor binatang....


.


.


.

__ADS_1


...Bersambambung .......


*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*


__ADS_2