
Hari demi hari aku lalui dengan sabar, minggu demi minggu pun aku tetap bersabar. Namun, setelah sekian bulan aku jalani? Rasanya aku ingin menyerah dan mengakhiri hidup ini.
Aku Manusia biasa yang dititipkan oleh Tuhan semua rasa, ada sedih, senang, marah, benci dan lain-lainnya. Salahkah jika aku ingin menyudahi pernikahan ini, toh' aku sudah berusaha menjadi imam yang baik.
Namun, ketika aku teringat akan bayi yang berada di dalam rahim istriku? Hatiku melunak seketika, benih yang aku tanam dengan rasa cinta kepada Sang Robb membuat aku menarik kembali niat yang sudah aku ucapkan dalam batin.
Entah mengapa semakin mendekati hari H, tingkah istriku semakin menjadi-jadi. Suka menangis tanpa sebab, marah tanpa sebab, cemburu tanpa sebab. Aku lelah dibuatnya.
Bolehkah jika aku mengeluh? Namun, aku tidak bisa melakukan hal tersebut. Orang tua dan mertuaku telah memberi perintah jika aku harus bersabar. Kata-kata yang selalu mereka ucapkan ketika aku mengeluh.
'Nak, sabar. Terima ujian dari Tuhan dengan hati yang ikhlas.'
'Sat, andai kamu tahu sakitnya hamil dan melahirkan? Mungkin kamu tidak akan pernah mengeluh seperti ini!.'
'Jalani aja dulu, semuanya pasti ada akhirnya.'
'Jika kamu merasa lelah? Maka, ingatlah anak kalian, maka ada kekuatan yang membuat kamu mampu menjalani ini semua.'
Itulah kata-kata mereka jika aku mengeluhkan sikap istriku, semuanya pasti membela wanita hamil itu. Apalah dayaku? Aku tidak bisa mengandung dan melahirkan, akan tetapi ikut merasakan perasaan sakit dan lelah.
Aku berusaha untuk tersenyum walau hatiku menderita, saat ini aku hanya mampu berusaha sekuat tenaga menyenangkan hati istriku.
Pagi ini sama seperti pagi-pagi sebelumnya, aku membawakan istriku bubur kacang hijau. Walaupun aku tahu bahwa dia tidak menyukainya, akan tetapi makanan ini merupakan anjuran dari Dokter yang mengatakan bahwa istriku harus makan-makanan yang bernutrisi.
"Aku gak suka, Kak!" teriak istriku dengan kerasnya, akan tetapi seolah tuli. Aku tetap menyodorkan sendok yang berisi bubur kacang hijau kepadanya.
"Kakak! Kakak gak dengar apa kataku!" pekik istriku kembali dengan wajah yang semakin kesal. Namun, sama seperti sebelumnya, aku itu tidak menggubris ucapannya.
"Kakak! Kalau begini aku nangis nih!" bentaknya terhadapku dan berakting seolah-olah istri yang dizolimi oleh suaminya. Padahal aku hanya ingin menyuapinya dengan bubur kacang hijau
Aku hanya mampu hembusan nafas panjang dengan lembut aku meletakkan mangkuk yang sedari tadi dipegang keatas meja kecil disampingku.
Kemudian aku segera memeluk istriku yang sudah seperti nenek lampir saja, dengan penampilan rambut kusut dan wajah yang kusam akibat masa kehamilan yang menyiksa.
__ADS_1
Dengan lembut aku membelai rambut istriku dan sesekali mencium pucuk kepalanya. Aku tahu bahwa istriku amat tersiksa dengan keadaan seperti ini, akan tetapi mau bagaimana lagi? Ini adalah fase yang sangat sulit bagi seorang wanita hamil. Fase dimana harus menyiapkan mental dan pisik untuk melahirkan seorang anak.
Aku telah mendapatkan banyak sekali wajengan baik dari orang tuaku sendiri hingga sang mertua. Jika, aku harus bersabar dan ikhlas menghadapi istriku jika berperilaku seperti anak kecil.
Aku membuang nafas pelan lalu menatap wajah istriku yang telah berubah jauh dari sebelumnya, "Nur, aku hanya meminta kamu makan. Tolong kasihanilah anak kita."
Tangis istriku tiba-tiba pecah seketika, aku tidak paham dibuatnya. Apakah salah jika aku mengatakan hal tadi? Pikirku frustasi.
Aku semakin bingung akan sikap istriku dan bertanya, "Kenapa kamu menangis, Nur? Kasihan anak kita, nanti dia juga ikut bersedih."
"Kakak hanya sayang sama anak kita! Kakak tidak sayang sama aku! Kakak pilih kasih! Aku benci Kakak!"
"Allahu Akbar!"
Aku tidak bisa lagi menahan tangisku, aku lelah dengan sikap istriku seperti ini. Jika diizinkan? Aku ingin Nurku dulu, gadis yang tangguh dan ceria. Gadis yang tidak pernah menyerah akan keadaan dan tetap kuat dengan segala macam ujian.
Kami berdua menangis seperti anak kecil, mungkin karena suara tangis kami yang terdengar nyaring membuat umi mengetuk pintu dan masuk kedalam kamar kami lalu mendekat dan bertanya.
"Ada apa lagi? Apakah kalian tidak lelah menangis seperti ini setiap pagi?"
Aku melepaskan pelukanku dari sang istri dan membiarkan umi yang menenangkan istriku tersebut, aku memilih keluar mencari angin segar. Otakku benar-benar buntu dibuatnya.
Aku melangkah menuju keluar, tangisan istriku tidak aku kubris. Aku lelah dan ingin menenangkan sejenak hati yang bergejolak ini.
Aku menuju teras rumah, kududukkan pantat ini di kursi sambil menatap ke seberang jalan yang terdapat minimarket milik kami. Pikiranku seolah kembali dimana aku dan istriku memulai bisnis kecilan tersebut. Kami melewati hari-hari yang menyenangkan, tidak ada air mata yang jatuh waktu itu. Walaupun kami makan ala sekedarnya saja.
Aku hanya mampu tersenyum pahit sekarang jika teringat masa-masa itu, jika diizinkan? Maka mungkin aku akan tetap menggunakan balon KB agar istriku tidak hamil dan fase ini tidak akan pernah terjadi.
Cukup lama aku melamun sambil membayangkan masa-masa indah awal pernikahan kami hingga sentuhan lembut menyentuh puncak kepalaku yang aku tahu pelakunya ialah sang umi. Aku menatap sebentarnya lalu mengalihkan pandanganku kembali ke seberang jalan dengan tatapan nanar.
"Sat, apakah kamu tahu perbedaan wanita yang hamil dalam status pernikahan yang sah dengan wanita yang hamil diluar nikah?"
Pertanyaan sang umi menarik perhatianku, aku kembali menatapnya seolah meminta jawaban. Karena menurutku apa bedanya? Toh' mereka sama-sama hamil mengandung anak, baik itu dalam pernikahan maupun diluar pernikahan.
__ADS_1
Kulihat wanita itu tersenyum lalu duduk disampingku dan bertanya, "Sat, kamu sering bukan melihat kasus seorang ibu membuang anak kandungnya sendiri dengan alasan hamil diluar nikah?"
Aku segera mengangguk menanggapi ucapannya, karena bukan rahasia umum lagi jika banyak sekali remaja dibawah umur terjerumus dalam pergaulan bebas dan akhirnya hamil di luar nikah.
Namun, yang membuat miris adalah mereka membuang begitu saja darah daging mereka yang baru saja hadir didunia ini. Bahkan ada yang belum lahir sudah dibunuh, seperti pelaku aborsi. Siapa lagi pelakunya jika bukan ibu kandungnya sendiri.
Aku melihat umiku membuang nafas pelan sebelum berbicara sambil menatapku dengan tatapan serius.
"Asalkan kamu tahu, Sat. Jika wanita yang mengandung dalam ikatan pernikahan yang sah mendapatkan pahala yang besar, berbeda dengan wanita lain yang hamil diluar nikah. Mereka hanya mendapatkan dosa, akan tetapi masa kehamilan mereka juga berbeda. Jika wanita yang hamil diluar nikah? Mereka tidak merasakan fase sulit mengandung sampai melahirkan karena Allah telah mencabut rasa itu, hal tersebut juga membuat mereka dengan mudah membuang darah daging mereka."
Kulihat sang umi menyeda ucapannya dan mengambil nafas dan kemudian melanjutkan ceritanya.
"Namun, berbeda dengan wanita yang hamil dengan ikatan pernikahan yang sah. Mereka akan merasakan rasa sakit yang luar biasa, bahkan orang-orang disekitarnya menjadi bahan ujian untuk lebih sabar dalam menghadapi wanita hamil tersebut. Umi berbicara seperti ini, bukan tanpa sebab? Umi sangat paham akan apa yang tengah kamu rasakan, karena Umi pernah mengalaminya."
Aku tertegun mendengar kata-kata terakhir wanita yang kini tengah menatapku.
"Umi… ," ucapanku dipotong olehnya.
"Umi hanya ingin kamu bersabar! Paling lama beberapa minggu lagi, karena Mala akan segera melahirkan. Nanti, jika anak kalian lahir? Umi yakin kamu akan merindukan masa kehamilan, Mala."
Setelah mengatakan hal tersebut sang umi pergi berlalu aku lalu membatin, "Apa mungkin aku akan merindukan masa menyedihkan ini?"
Aku menatap punggung wanita itu hingga menghilang dari pandanganku.
"Jangan melamun! Nanti, kesambet!"
.
.
.
...Bersambung ••• •...
__ADS_1
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...