
"Mala! Satria!" teriak Azzahra ketika telah sampai kedalam kamar sang anak. Kedua pasangan suami istri itu menatapnya dengan heran.
"Umi kenapa? Seperti melihat setan?" tanya Mala.
Azzahrah segera mendekat dan menyampaikan pesan yang membuat Mala dan Satria syok.
"Ada Suci!"
"Suci!" pekik Satria dan Mala sambil saling menatap satu sama lainnya.
"Kak," lirih Mala memanggil sang suami yang menggenggam erat tangannya.
"Umi, suruh Suci masuk kesini saja. Bilang kalau Nur sed di tempat tidur," pinta Satria kepada sang uminya untuk menyampaikan pesan.
Namun, sang umi malah tersinggung dan mengomeli Satria.
"Dasar kamu, Sat! Menantu durhaka!" teriak Azzahra.
Satria hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan uminya dan akhirnya turun dari tempat tidur untuk menemui Suci.
"Mau kemana, Kak?" ucap Mala sambil menahan tangan suaminya.
"Aku mau menemui Suci dulu, Nur. Nanti aku bawa dia ke sini," jelas Satria yang mendapatkan gelengan kepala sang istri.
"Gak boleh, Kakak disini saja," pinta Mala dengan manja membuat Satria menatap sang umi meminta bantuan.
Azzahra membuang nafas kasar, sambil berjalan dan menghentakkan kaki karena kesal dijadikan sebagai penyampai pesan oleh kedua pasangan suami istri tersebut.
Setelah sang umi pergi, Mala bertanya kepada suaminya, "Kak, Suci mau apa ke sini?"
__ADS_1
Satria paham akan arah pembicaraan yang istrinya ingin sampaikan, ada gurat kecemasan yang nampak di wajah wanita itu.
"Nur, kamu baru melahirkan? Mungkin Suci mau menjenguk saja," jelas Satria menenangkan kegelisahan sang istri.
Namun, Mala memikirkan hal lain. Dia pernah berjanji dan meminta Suci untuk menjadi madu sekaligus ibu buat anak-anaknya. Ada perasaan tidak terima yang menyeruak begitu mendengar nama gadis itu.
Tok… .
Tok… .
Terdengar suara pintu diketuk menandakan bahwa itu adalah Suci, karena jika kedua orang tua mereka akan segera masuk tanpa mengetuk pintu.
Satria menatap istrinya sebentar meyakinkan wanita itu bahwa tidak akan ada yang perlu dikhawatirkan.
"Silahkan masuk!" teriak Satria dan tidak lama kemudian pintu terbuka lebar lalu menampilkan wanita yang berpakaian serba tertutup membuat Satria dan Mala tidak mengenalnya.
Wanita itu menggunakan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh bagian tubuhnya kecuali mata saja nampak.
Wanita itu mendekat dan berdiri dihadapan Mala dan Satria, akan tetapi masih belum berbicara.
"Kamu siapa?" kali ini Satria yang bertanya.
"Dia Suci," ucap Azzahra seraya mendekat.
"Dia tidak akan berbicara jika ada lelaki yang bukan mahramnya disini," tambahnya lagi.
Satria paham akan maksud dari uminya dan memilih keluar meninggalkan para wanita itu.
Setelah kepergian Satria, baru Suci berbicara. Hal pertama yang ia tanyakan adalah keadaan Mala.
__ADS_1
"Mbak, apa kabar? Sudah baik 'kah?" tanyanya dengan suara yang lembut membuat Mala terkesima.
"Ayo, duduk dulu," pinta Azzahra sambil menarik kursi untuk dirinya dan Suci.
"Apa kamu benar, Suci?" tanya Mala masih tidak percaya hingga wanita itu membuka cadarnya dan menampakkan wajah yang ia sembunyikan.
"Masya Allah!" teriak Mala dan Azzahra.
"Kamu benar-benar, Suci? Atau bukan?" celetus Mala tidak percaya.
"Aku… ."
"Umi!"
Panggil Mala karena merasakan kesakitan yang luar biasa dan memegangi perutnya.
Azzahra panik di buat Mala kemudian pergi keluar meninggalkan mereka.
"Jangan berpura-pura, Mbak."
Deg… .
"Bagaimana dia mengetahuinya?" batin Mala
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...