Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Tes DNA


__ADS_3

Matahari mulai tergelincir menandakan sang surya tersebut akan kembali ke peraduan meninggalkan sang penghuni bumi dalam kegelapan. Sang surya telah pergi dan digantikan oleh rembulan dan bintang-bintang. Hari ini sangat syahdu dan indah di rasa oleh keluarga pengejar cinta Robb. Mereka berbagi canda tawa dengan orang yang terkasihi, luka memang ada,  akan tetapi akan terobati jika kita mulai melupakan kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang lain kepada kita. 


Mala meminta Suci untuk pulang ke rumah Pak Rudy, wanita itu juga meminta Abangnya Azzam untuk mengantarkan gadis itu ke bandara. Awalnya Suci menolak halus karena tidak ingin menyusahkan sang ayah, akan tetapi alasan itu menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Mala mengatakan jika dia akan lebih menyusahkan Satria karena yang berhak menafkahi gadis itu adalah ayah kandungnya bukan saudara angkat. 


Azzahra dan Udin sangat mendukung keputusan putri mereka dan membujuk agar Suci atau Sulastri itu pergi ketempat ayahnya. Berat memang perasaan gadis itu, seolah diusir secara halus. Namun, ia sadar jika memang benar apa yang dikatakan oleh Mala. Pak Rudy yang bertanggung jawab untuk memberi nafkah dan tempat tinggal. 


Sepergian Azzam, Umi Azzahra, dan Suci. Pak Udin juga izin untuk pulang, lelaki itu masih dalam keadaan yang kurang enak badan akibat di pukuli orang-orang yang ternyata adalah suruhan Pak Rudy. Udin tidak menyimpan dendam, akan tetapi dia tidak ingin berurusan lagi dengan orang itu. 


Kini Mala dan Satria berduan di rumah, sepi langsung menemani mereka. Baru saja mereka merasakan kehangatan sebuah keluarga, kini semua terasa sunyi. 


"Kak, sepi ya? Kita kekurangan anggota," celetus Mala sambil memeluk suaminya. 


"Nanti, jika anak kita sudah lahir," ucap Satria sambil mengelus perut istrinya yang mulai menonjol, "Kita akan menjadi keluarga yang sempurna."


Mala hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya, dia baru teringat jika tadi sore ada pesan masuk di ponsel suaminya. Namun, ia lupa memberitahu lelaki itu. 


"Astagfirullah, Kak!" pekik Mala membuat suaminya terlonjak kaget. 


"Ada apa? Apa perut kamu sakit?" tanya Satria panik sambil bangun dari tempat tidur.


"Bukan itu!" Mala menghentikan tindakan suaminya yang ingin menuju ke arah pintu. 


"Lalu, apa?"


Mala menjelaskan jika ia lupa memberitahu Satria jika tadi ada pesan yang masuk di ponsel suaminya itu. Satria hanya mengembuskan nafas pelan sambil menggeleng. Kadang ia dibuat panik oleh tingkah istrinya, Satria segera mengambil ponsel yang diletakan di nakas dan melihat pesan dari siapa. 


"Siapa, Kak?" tanya Mala penasaran sambil mencuri penglihatan di balik layar ponsel yang suaminya pegang. 


"Ini, dari Papi," jelas Satria sambil memperlihatkan layar ponselnya. 


"Apa, pesannya?" tanya Mala lagi.

__ADS_1


"Tunggu ya, aku baca dulu," jelas Satria sambil mengamati layar ponselnya. 


"Kak," panggil Mala semakin penasaran.


Akhirnya Satria menjelaskan pesan yang dikirim oleh sang Papi yang mengatakan ingin mereka ke rumah sakit, karena ada hal yang ingin dilakukan. Satria menatap istrinya sambil berujar, "Papi menyuruh kita ke rumah sakit, apa kamu mau?"


Mala diam sesaat untuk berpikir, ia melihat ke arah dinding yang terdapat jam. Waktu telah menunjukkan pukul 20.05 yang berarti belum terlalu malam, akan tetapi ia bingung kenapa mertuanya tidak pulang ke rumah dan malah menyuruh mereka ke rumah sakit. Wanita hamil itu memikirkan hal yang tidak-tidak.


"Kak, apa jangan-jangan…," ucapan Mala di potong oleh Satria. Lelaki itu menatap tajam istrinya yang ingin mengucapkan kata-kata yang bisa membawa petaka. "Papi hanya ingin melakukan tes DNA ulang."


Sepi sejenak di antara pasangan suami istri itu hingga dering ponsel Satria mengagetkan mereka. Satria segera menggeser tombol hijau tersebut. 


"Halo," Satria segera menyapa sang Papi ketika sambungannya telepon terhubung. 


"Halo, Sat. Kamu sudah ke sini?" 


Dari suaranya Satria bisa tahu kalau yang bertanya ini adalah maminya, bukan sang papi. 


"Sat, apa masalah kalian sudah selesai?"


Pertanyaan maminya membuat Satria tergagap, ia yang sedari tadi memperhatikan istrinya yang berganti baju. Entah mengapa syahwatnya menjadi naik, tubuh istrinya sangat berisi dari sebelumnya. Mungkin faktor hamil, akan tetapi hal itu membuat Satria gelisah. Keringat mengalir deras di dahinya, serta tangan yang bergetar menahan gejolak di dada. 


"Satria!"


"Ha, iy-ya Mi!" jawab Satria tergagap. 


"Bagaimana masalahkan? Sudah selesai kah?"


"Sudah, Mi! Kami mau berangkat ini! Satria tutup ya," tanpa menunggu jawaban dari maminya Satria memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Dia tidak tahan lagi hingga memeluk istrinya dari belakang. 


"Nur, kamu cantik sekali," puji Satria sambil mencium pipi wanita hamil itu. 

__ADS_1


"Kak, ayo kita berangkat," ajak Mala sambil mengurai pelukan suaminya, Mala sangat hafal dengan perangai lelaki itu. Jika, dia berlaku manis, maka akan ada hal sadis yang terjadi.


"Nur!" lirih Satria.


"Kak, nanti Mami marah-marah kalau kita terlambat," Mala menegaskan keadaan dan berlalu meninggalkan suaminya setelah mengambil tas selempang miliknya.


"Ya Tuhan, ini cobaan," lirih Satria sambil bersiap-siap mengganti bajunya. 


Setelah selesai berganti baju, Satria mengajak istrinya masuk kedalam mobil. Mereka berdua mulai meninggalkan halaman rumah dan memecah jalan raya yang diterangi sinar rembulan. Damai dan indah, akan tetapi hal itu hanya sesaat. Inilah hidup dunia semuanya serba fana, tidak ada keabadian di dalamnya, sifatnya yang semu terkadang membuat penghuninya mengutuk Tuhan. Manusia memang makhluk yang paling berani dalam membangkang Sang Pencipta. 


"Kak, memangnya apa alasan Papi melakukan tes DNA malam ini?" pertanyaan ini yang sedari tadi Mala pikirkan. Akhirnya ia utarakan ketika mereka telah sampai di parkiran rumah sakit. 


"Entahlah, Nur! Kita tanya saja nanti," jelas Satria sambil membukakan pintu mobil untuk istrinya. Mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan, menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang sepi. Walau sesekali bertemu dengan staf atau pengunjung lainnya. Namun, memang aneh menurut mereka. Kenapa sang papi menyuruh mereka ke rumah sakit malam-malam seperti ini? Apa lagi dengan alasan utamanya yaitu tes DNA. 


"Akhirnya kalian sampai!" teriak Marissa girang sambil menyambut anak dan menantunya tersebut. 


"Ayo masuk, di dalam sudah ada dokternya," terang Marissa senang. 


"Laki-laki, atau perempuan?" tanya Mala sambil menatap penuh curiga.


"Perempuan!" celetus Marissa kesal sambil menyeret tangan pasangan suami--istri tersebut masuk ke dalam ruangan. Namun, betapa terkejutnya mereka melihat  dokter perempuan yang tengah berbincang-bincang dengan sang papi. 


"Dia!"


.


.


.


...Bersambung … . ...

__ADS_1


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2