Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Menjadi Orang Lain


__ADS_3

Acara pelantikan kepemimpinan perusahaan baru berjalan dengan sukses, Satria menganti nama perusahan yang sebelumnya Permata Group menjadi Permata Nur. Lelaki itu berharap banyak dari nama yang telah ia berikan, Nur yang artinya cahaya. Dia berharap cahaya Permata yang akan menyilaukan mata siapa yang melihatnya nanti. 


"Selamat ya, Pak Satria!" ucap salah satu petinggi perusahan sambil menjabat tangan Satria. Semua orang terlihat senang menyambut pemilik baru perusahaan. 


"Terimakasih, Pak. Semoga saya bisa menjalankan perusahan dengan baik," jelas Satria sambil mengurai jabat tangan mereka.


"Kak," lirih Mala. Entah kenapa, wanita hamil itu terlihat pucat.


"Kamu kenapa, Nur?" tanya Satria panik melihat wajah istrinya tersebut.


"Aku mual, Kak."


"Apa istri anda sedang hamil, Pak Satria?"


Satria menatap lelaki yang tadi menjabat tangannya, ia lalu mengangguk menjawab pertanyan lelaki itu. 


"Sebaiknya anda bawa pulang, Pak. Wanita hamil memang suka kelelahan."


Satria lalu menatap istrinya, apa yang dikatakan lelaki dihadapannya benar. Istrinya kelihatan kelelahan, "Apa boleh kami pulang duluan?"


Akhirnya kata itu yang Satria ucapkan, dia tidak enak hati meninggalkan acara yang belum selesai. 


"Anda bisa meminta Pak Ikbal untuk menggantikan posisi anda."


Satria segera menjalankan perintah lelaki itu, ia mencari sang papi. Ketika melihat lelaki itu, Satria segera mendekat dan mengutarakan permintaan yang langsung disetujui sang papi. 


"Hati-hati di jalan," pesan Ikbal kepada putranya sebelum berlalu yang hanya di balas angukan kecil.


 


Ikbal menatap kepergian sang putra bersama istrinya sambil membatin, terbelensit sebuah rasa haru dalam hatinya. "Apakah benar, kamu anak kandungku? Jika, itu benar? Maka aku akan memperjuangkan cita-cita kamu, Sat."

__ADS_1


Satria segera meninggalkan aula lalu menuju parkiran bersama sang istri, setelah meminta izin kepada sang papi. Dia tidak tega melihat istrinya yang sangat tersiksa di tengah-tengah acara tersebut.


"Kita akan segera pulang, kamu istirahat di rumah!" jelas Satria sambil melajukan mobil yang dikendarainya sambil menatap sekilas sang istri yang bersandar di sampingnya dengan wajah yang pucat. 


Maka benar-benar merasa mual dan pusing, entah memang bawaan hamil atau apa? Yang pasti wanita hamil itu hanya diam tidak banyak berbicara. Terlihat jelas jika wanita hamil itu tengah tersiksa dengan keadaan yang tengah dirasakan. 


"Kamu, baik-baik saja 'kan, Nur?" tanya Satria yang mengkhawatirkan keadaan istrinya. "Apa kita ke rumah sakit saja?"


Mala menggeleng menanggapi usul suaminya, ia hanya ingin segera pulang. Dia ingin tidur di kasur yang  empuk sambil mendengarkan murotal Al-Qur'an.


"Nur!" pekik Satria yang gelisah dari tadi istrinya yang tidak menjawab pertanyaannya. 


"Aku ingin pulang, Kak," lirih Mala sambil memejamkan mata. Wanita hamil itu tertidur dengan posisi duduk. Satria yang melihat sekilas keadaan istrinya merasa kasihan. 


"Kita akan segera sampai," ucap Satria pelan. 


Kendaraan beroda empat itu melaju dengan kecepatan sedang, menggilas jalan aspal yang dilewati tanpa ampun. Satria sesekali menatap wajah istrinya yang tertidur dengan tenang, ada perasaan haru yang menyeruak begitu saja tanpa permisi. Wanita yang di sampingnya adalah wanita yang sangat spesial. Wanita yang tanpa ikatan darah dengan nya, akan tetapi mau berkorban untuknya. Wanita yang membiarkan rasa sakit hinggap di tubuhnya hanya untuk menampung benih cinta mereka. Wanita yang tahu akan sifat buruknya, akan tetapi tetap bertahan dan menutupi aib-aibnya. 


"Kamu akan selalu jadi cahaya dalam hidupku, Nur," ucap Satria dengan senyum yang terus mengembang, hingga tidak terasa mereka telah memasuki halaman rumah. Satria memarkirkan kendaraan roda empatnya dengan cantik, setelah itu ia keluar dan memutar menuju pintu mobil sebelah guna membukakan istrinya. 


"Mala kenapa, Sat?"


Satria hanya mengedipkan mata menjawab pertanyaan maminya yang berada di ambang pintu. Wanita itu hanya tersenyum melihat putranya yang menurutnya genit, "Dasar anak muda."


Marissa membiarkan putranya itu berlalu dengan menggendong istrinya, walau ia tidak suka dengan Mala. Namun, ia tidak akan pernah tega untuk melukai hati putranya. Ia paham, jika Satria mencintai istrinya dengan sepenuh hati. Biarlah benci ia simpan demi putranya. 


Satria membaringkan istrinya pelan-pelan, ketika sudah sampai di kamar. Lelaki itu berusaha tidak membuat wanita yang dicintainya itu terbangun. Satria mengusap pelan ujung kepala istrinya sebelum mencium lama kening wanita yang sangat berarti dalam hidupnya tersebut.


"Nur, aku cinta sama kamu karena Allah dan aku ingin berpisah denganmu, juga karena Allah."


Setelah mengucapkan  hal tersebut, Satria beranjak ke kamar mandi guna menyegarkan perasaannya. Lelaki itu terlalu berkeringat ketika berada di tengah acara pelantikannya tadi. Setelah selesai dengan rutinitas mandinya, Satria melihat istrinya yang masih tertidur. Dia mengenakan baju dan beranjak meninggalkan kamar, ia merasa haus. Namun, ketika berada di dapur, ia harus dikejutkan oleh kehadiran Suci. 

__ADS_1


"Bang!" panggil Suci yang juga kaget melihat kedatang lelaki di hadapannya. Satria berusaha mengacuhkan gadis itu, ia berlalu menunaikan niatnya yang ke dapur untuk mengambil air minum. 


"Abang!" pekik Suci lebih nyaring, ia benar-benar tidak tahan lagi dengan sikap semua orang yang berubah drastis. 


"Jangan teriak-teriak! Bisa?" bentak Marissa yang mengejutkan gadis tersebut, akan tetapi tidak dengan Satria yang memang sudah melihat kedatangan maminya ketika membuka pintu kamar tadi. 


Suci tergagap, ia benar-benar dibuat seperti anak tiri di cerita cinderella. Wanita yang tengah menatapnya tajam itu telah menjadikannya upik babu, ia harus mengerjakan ini dan itu yang tidak pernah dilakukan selama tinggal di rumah ini.


"A--n--nu …,"


"Anu apa?" bentak Marissa yang sangat menghayati peran antagonisnya. 


"Mami! Sudah makan?" Akhirnya kata itu meluncur juga di mulut Satria. Dia tidak tega menyiksa psikis gadis itu, terlebih maminya yang memang suka menindas orang lain. Hati Satria bagaikan teriris-iris ketika mendengar ucapan pedas maminya, hal itu yang membuat ia trauma jika maminya telah marah-marah.


Marissa membuang nafas kasar, ia menatap tajam gadis munafik di hadapannya sebelum mendekati putranya, "Awas kamu."


"Mi!" panggil Satria, ia mendegar ucapan maminya dengan jelas. 


"Kamu mau makan, Sat?" tanya Marissa lemah--lembut. 


"Kenapa? Kenapa kalian berubah? Aku bukan binatang peliharaan atau bidak catur kalian!"


"Kamu hanya gadis yang menumpang hidup!" balas Marissa dengan nada tinggi. 


"Hentikan!"


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung… ....


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2