Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Balon KB


__ADS_3

"Balon KB! Maksudnya?" tanya Azzam yang tidak paham akan apa yang istrinya katakan. 


Tasya menjelaskan tentang hadiah yang diberkan oleh Mala dan Satria, karena wanita itu menjadi seorang Dokter kandungan ia tahu banyak tentang istilah penunda kehamilan. Sebagai Dokter kandungan wanita itu juga sering menyarankan berbagai alat kontrasepsi untuk pasiennya, sebagai bentuk menunda kehamilan. 


Kebanyakan pasangan yang baru menikah melakukan pencegahan kehamilan dengan berbagai alasan. Ada yang belum siap memiliki anak, ada yang katanya ingin mengenal lebih dekat dengan pasangan. Dan berbagai spekulasi yang dikemukakan.


Azzam menatap istrinya nanar, ada perasaan kecewa jika mendegar pasangan suami istri yang menunda kehamilan, akan tetapi tidak bisa ia pungkiri jika adiknya setelah menikah menunda kehamilan.


"Beb, aku menikahi kamu karena aku ingin menjalankan ibadah yang lama. Aku juga ingin memiliki keturunan yang soleh dan cerdas. Kamu adalah wanita yang soleh dan cerdas, aku ingin anakku lahir dari rahimmu," jelas Azzam panjang lebar. 


Tasya tertegun akan ucapan suaminya, ia mendogak dan menatap lelaki yang telah mengambil tanggung jawab besar atas dirinya. 


Untuk pertama kalinya Tasya mendengar kata-kata romantis sang suami, karena selama mengenal lelaki itu. Tasya hanya mengetahui jika sosok suaminya adalah orang yang serius dalam bekerja, akan tetapi suka bercanda dengan anggota keluarganya.


"Beb, sudah fitrahnya seorang wanita hamil dan melahirkan. Aku tidak ingin menunda kehamilanmu, kalau aku melakukan hal itu? Sama saja artinya aku mencegah karunia Allah," jelas Azzam sambil menggenggam tangan istrinya. Meyakinkan wanita itu agar tidak pernah ragu akan rahmat Yang Maha Kuasa. 


"Tapi, Beb. Ini hadiah dari Mala dan Satria, apa Bebeb mau menggunakannya sekali ini saja," pinta Tasya dengan perasaan yang campur aduk. 


"Nanti saja aku mengunakannya, untuk saat ini aku ingin yang alami," jelas Azzam dengan mata yang mendambakan. 


Pasangan pengantin baru itu, membaca doa terlebih dahulu. Sebelum melakukan ibadah yang sangat besar pahalanya, dimata Sang Robb.


Betapa indah dunia bagi pasangan yang menikah dan mencintai karena Sang Robb. Setiap detiknya kebersamaan mereka dinilai ibadah, manisnya cinta yang dirasakan sangatlah manis. 


Ketika seseorang mengejar cinta Robbnya, maka cinta makhluk akan mengejar dirinya. Apa lagi jika orang itu telah mendapatkan cinta Robbnya secara utuh, maka tidak ada kebahagian yang mampu mengalahkan perasaan cinta tersebut. 


Cinta karena mahkluk akan binasa, akan tetapi cinta kepada Sang Pencipta maka akan abadi.


.


.


.


Hari demi hari yang dilalui terasa semakin bahagia, setelah pernikahan Azzam dan Tasya. Kini Satria menjalankan minimarket sang istri, lelaki itu mengurusi semua hal diminimarket setelah Azzam menikah. 

__ADS_1


Lelaki itu mengatur keuangan, mengatur keluar masuknya barang-barang. Walaupun kedua orang tuanya ingin agar Satria meneruskan kuliah dan mejadi CEO di perusahan Permata Nur. 


Namun sebagai seorang suami dan ayah, Satria tidak ingin jauh-jauh dari putri dan istrinya.


Memang semuanya memerlukan uang, akan tetapi uang tidak  bisa mengembalikan waktu. Hal itu membuat Satria memilih untuk meneruskan usaha minimarket daripada menjalankan perusahan.


Saat ini mereka ingin sarapan bersama, dengan Cahaya yang sudah mulai belajar bejalan. 


"Hati-hati, Sayang," kata Satria mengingatkan istrinya yang menuntun putri kecil mereka. 


"Kak, sepi ya? Enggak ada Umi dan Bapak," ucap Mala ketika duduk dikursi makan dengan sang putri disampingnya.


"Mau bagaimana lagi, Nur? Umi dan Bapak harus bekerja, apa lagi ketika Azzam telah menikah. Tidak ada yang bisa bantuin mereka," jelas Satria sambil mengambilkan buah-buah segar yang telah dipotong kecil-kecil dipiring putrinya. 


Cemilan yang sehat yang selalu diberikan oleh Satria untuk putri kecilnya, karena bagi lelaki itu. Tumbuh kembang sang putri adalah periotas utama. 


"Iya sih, Kak. Tapi aku jadi kangen sama mereka," lirih Mala sendu. 


Mala sangat senang jika dirumahnya ada sang Umi dan Bapak. Wanita itu merasa sudah seperti keluarga yang sempurna.


Mala hanya menatap heran suaminya, ia kemudian mengangguk kecil. Akhirnya mereka menikmati sarapan pagi dengan khidmat. 


Sebuah perjalan hidup yang panjang, dengan berbagai macam ujian yang telah menempa diri mereka sebagai pasangan suami istri. Partner hidup yang saling menguatkan dan menjaga satu sama lain. 


Setelah sarapan mereka bertiga betangkat ke TPU setempat, Satria memiliki najar ingin bertemu dengan orang-orang terkasih yang telah pergi meninggalkan mereka. 


Walaupun jasad mereka telah tiada, akan tetapi jasa dan asa telah melekat didalam hati Satria. Kenangan indah bersama orang yang dulu pernah hidup membuat Satria mengerti bahwa hidup pasti akan mati. 


Disinilah mereka, di atas pusaran opa Malik. Orang pertama yang Satria datangi sebelum yang lainnya. 


"Kak," panggil Mala dengan suara yang lirih. 


Mala yang melihat suaminya meneteskan air mata menjadi tidak kuasa atas segala yang pernah mereka lalui bersama.


"Nur, telah lama aku pakai balon KB setelah Cahaya lahir. Didepan Opa Malik, aku ingin meminta anak lagi darimu," pinta Satria dengan tatapan masih diatas pusara sang opa. 

__ADS_1


"Kak, aku akan melahirkan anak untukmu lagi," jawab Mala sambil duduk disamping suaminya sambil menggendong Cahaya. 


Mereka larut akan suasana yang sendu, kehilangan memang sangat berat. Hal itu membuat Satria menginginkan adik untuk Cahaya. 


Satria yang terlahir sebagai anak tunggal, paham betul bagaimana nanti perasaan putri mereka jika sudah mulai beranjak besar. Kesendirian dan tidak memiliki teman, hal itu yang akan pertama kali Satria rasakan. Dia tidak ingin putri mereka merasakan hal itu. 


Pernah melakukan kesalahan, akan tetapi jangan pernah mengulanginya. Itu prinsip Satria, orang tuanya mungkin pernah salah karena menunda kehamilan sampai tidak bisa hamil lagi. Satria tidak akan melakukan kesalahan yang sama.


Setelah berdoa untuk opa Malik,  mereka menghampiri kuburan oma Yolanda dan disusul yang lainnya. 


Berziarah bukan hanya untuk membuat kita bersedih karena kehilangan orang yang terkasih, akan tetapi sebagai pengingat bahwa kita pasti mati.


Satria dan Mala dipaksa dewasa sebelum waktunya, membuat pasangan suami istri itu telah kuat dalam segi kehidupan.


Tempaan demi tempaan kehidupan membuat pribadi mereka menjadi lebih baik. Terkadang perlu pecutan yang kuat untuk seseorang menjadi lebih maju dan berkembang dari sebelumnya.


"Nur, aku bahagia hidup denganmu. Disini aku meluapkan segala yang kurasakan padamu. Kamu cinta yang aku dapat ketika dalam kesusahan."


Satria sampai meneteskan air mata mengucapkan hal itu, membuat istrinya menghapus jejak air yang luluh lantah tanpa halangan. 


"Kak, aku mencintaimu karena Allah. Aku juga berharap kita terpisah karena Allah," kata Mala dengan tatapan sendu. 


Karena Mala tahu, setiap ada pertemuan. Maka ada perpisahaan. 


"Semoga kita selalu bersama sampai akhir," batin Mala. 


.


.


.


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...

__ADS_1


__ADS_2