Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Musabah Diri.


__ADS_3

Malam semakin larut, Mala mengajak suaminya untuk istirahat. Sebab, esok adalah hari yang berat bagi mereka.


Namun, dipertegahan malam Mala tersentak akan sebuah mimpi buruk yang mengerikan. Wajah wanita itu menjadi pucat pasih, dengan keringat yang mengucur deras. 


"Ya Robb, apa yang terjadi padaku?" batin Mala. 


Tiba-tiba sang suami mengagetkannya, membuat wanita itu sontak berteriak karena terkejut. 


"Aaaa… !"


"Nur! Jangan teriak! Kamu bisa membangunkan Cha-Cha," ujar Satria mengingatkan istrinya.


"Kamu sih,  Kak!"


Mala kesal akan suaminya, sambil memukul pelan sang suami. Akan tetapi, suaminya hanya meringis dan bingung melihat tingkahnya.


"Kamu kenapa sih, Nur?" 


Akhirnya Mala menceritakan apa yang terjadi, bahwa ia bermimpi berada dalam tempat yang gelap gulita. Dia tidak bisa melihat apapun dan merasa sangat ketakutan. Seolah-olah dia sedang tersesat dan tidak tahu jalan kembali. 


Satria yang mendengarkan cerita istrinya berfikir sejenak. Melihat dari sudut pandang yang berbeda dan memahami apa maksud dari mimpi sanh istri. 


"Mungkin kamu berada dialam barzah, Nur!" jelas Satria mengutarakan argumennya. 


Wajah Mala menajdi pias seketika mendengar penuturan sang suami. Dia segera bergegas bagun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Mengambil air wudhu dan mengerjakan solat tahajud disepertiga malam.


Satria yang melihat istrinya ikut solat juga, mereka mengerjakan solat sunah itu dengan berjamah. Nikmatnya iman tidak ada bandingannya dengan apapun yang ada dibumi maupun yang dilangit. 


Perasaan Mala yang sempit awalnya, kini menjadi luas seketika. Mengadu kepada Sang Robb adalah jalan yang terbaik.


Ketika mereka telah selesai solat dan Mala meraih tangan suaminya lalu mencium punggung tangan tersebut. Air mata Mala meneteskan air mata tanpa sebab. 


Satria yang merasa aneh dengan sikap istrinya kemudian menangkup kedua pipi sang istri dengan kedua tangannya menghadap ke arahnya. 


"Kamu kenapa, Nur?" tanyanya sambil menatap lekat mata sang istri.


Mereka saling menatap dan mengunci penglihatan mereka. Ada perasaan yang sulit diartikan oleh kata-kata. Ketika mereka melakukan hal itu.


"Kak, aku memang bukan Siti Khodijah! Aku bukan empat wanita yang sempurna seperti firman Allah, tapi… ," Mala seolah-olah kehabisan oksigen. Membuat dadanya bergemuruh hebat. 


"Lepaskan, Nur! Jangan ditahan," pinta Satria kemudian memeluk istrinya. Dia tahu jika sang istri merasakan tekanan yang sangat berat, sama seperti dirinya. 


Apa istilah yang mengatakan bahwa pasangan suami istri seperti dua raga dalam satu jiwa. Mereka berada di tubuh yang berbeda, akan tetapi merasakan apa yang pasangannya rasakan. 

__ADS_1


Ikatan batin yang mereka miliki sangatlah kuat, sebab penyatuan yang mereka lakukan hingga menghadirkan sang putri. Merupakan suatu bukti nyata jika mungkin darah mereka berbeda. Namun, hati mereka menyatu. 


Tangis Mala pecah di pelukan suaminya, entah kenapa? Tiba-tiba hatinya sangat lemah tak berdaya. Padahal ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar menjalani hidup ini. 


Hidup yang bagaikan penjara bagi seorang muslim. Hanya ada ujian dan ujian yang datang. Kebahagian hanya akan mereka dapatkan, nanti ketika berada disisi Sang Robb. 


"Nur, kamu memang bukan wanita yang sempurna. Tapi, kamu harus menjadi istri yang terbaik," jelas Satria menghibur istrinya.


"Kak, aku hanya meminta kamu menjadikan Suci sebagai sandaran kita dengan cara menikahinya. Bukan aku tidak cemburu atau rasa cintaku padamu hilang! Tapi, aku ingin kita menjadi sebuah keluarga baik didunia sampai diakhirat kelak."


Satria tidak bisa berkata apapun, dia semakin memeluk erat istrinya. Wanita yang dulu sangat ia damba-dambakan. Kini meminta sesuatu yang mungkin akan sulit ia berikan. 


Bukan perkara mudah bagi seorang laki-laki untuk berpoligami. Namun, karena sebuah janji. Mereka harus melakukannya, sebab Allah sangat tidak menyukai Hambanya yang ingkar.


Sebab, salah satu tanya orang munafik adalah jika berjanji dia ingkar, karena hal itu Mala tidak ingin mengingkari janji yang pernah diucap. 


"Apapun yang terjadi kita hadapi bersama, ya," pinta Satria sambil mengurai pelukannya dan menatap sang istri. 


Satria hapus jejak air mata yang membasahi pipi wanita yang ia cintai karena Sang Robb. Bukan karena nafsu, apalagi harta. Wanita yang sangat dimuliakan yang telah memberinya keturunan.


"Insya Allah, Kak," jelas Mala dengan mantap. 


Malam itu mereka lewati dengan bermuhasabah diri, mengingat kembali dosa-dosa yang pernah mereka lakukan. Berusaha memperbaiki dan menjadi pribadi yang selalu menjadikan Sang Robb sebagai tujuan utama. 


Mala dan Satria mempercayai hal itu hingga saat ini, membuat mereka bisa kembali lagi ke jalan yang Allah ridhoi. 


"Aku akan berusaha untuk membahagiakanmu, Nur," batin Satria. 


.


.


.


Keesokkan harinya. 


Sama seperti hari-hari kemarin, pagi ini keadaan di rumah Mala dan Satria sangatlah sibuk. Sudah beberapa bulan ini Satria menjalankan dua bisnis sekaligus, membuat waktu bersama keluarga kecilnya sangatlah sedikit. Tidak sama seperti sebelumnya.


Pagi hari ini saja, lelaki itu harus melewatkan waktu sarapan bersama sang istri dan putrinya. Setelah dia mendapatkan telepon dari Aziz untuk menghadiri rapat mendadak. 


Satria sangat terbantu akan adanya Aziz, lelaki itu telah menjadi orang kedua terpenting di dalam perusahan. Dia lah yang mengatur hampir semua hal di perusahaan.


Lelaki yang tetap Satria anggap sebagai Abi mertua, sebab sang istri yang pernah diasuh dan dibesarkan oleh lelaki itu ketika masih menjadi suami sang umi. 

__ADS_1


Bagi Satria, orang tua tidak pernah ada bekasnya. Walaupun sekarang dia adalah bosnya. Namun, Satria tetap menunjukkan rasa hormat kepada Aziz. 


"Kak, hati-hati dijalan!" teriak Mala kepada suaminya yang terburu-buru masuk ke mobil. Seking terburunya sampai lelaki itu lupa untuk mencium istri dan putrinya. 


Mala hanya mampu menggelengkan kepala melihat suaminya yang telah berlalu. Walaupun dalam hati kecilnya ingin kehidupan mereka seperti dulu. Sederhana, akan tetapi sangat bermakna. 


Daripada sekarang, bergelimang harta. Namun, terasa hampa. 


"Nak Mala, sini Cha-Cha. Saya mandikan, airnya sudah siap," pinta Mak Diam kepada Mala membuat wanita itu terkejut. 


"Ya ampun, Mak! Aku kaget," jelas Mala sambil cengengesan.


Mak Diam hanya tersenyum melihat tingkah majikannya, selama beberapa bulan kerja di rumah Mala dan Satria. Di merasa seperti dijadikan orang tua sendiri oleh pasang suami istri itu. Sampai panggilan pun, dia tidak diperbolehkan memanggil nyonya atau tuan. Dia hanya diizinkan memanggil nama.


Namun, karena segan. Maka wanita itu menambahkan Nak setiap kali memanggil Satria ataupun Mala. 


"Mak Dim, kitakan sudah tahu tugas masing-masing?  Aku bagian mengurus Cha-Cha dan Kak Satria. Sedangkan Emak, mengurus rumah," jelas Mala yang memang sudah membuat kesepakatan dengan wanita itu.


Seorang janda yang telah lama ditinggal suaminya meninggal dunia, terlebih anak-anak wanita itu yang telah menikah dan merantau membuatnya hanya sebatang karang. 


Mala sangat senang adanya Mak Diam, akan tetapi yang pasti suaminya tahu mencari yang mana boleh diberi nafkah dan mana yang berpotensi menjadi duri. 


"Boleh ya Nak Mala," pinta Mak Diam memohon dengan mata yang berbinar. Membuat Mala tidak kuasa menolak permintaan wanita itu dan akhirnya memberikan putrinya kepada Mak Di untuk dimandikan. 


"Ma-Ma."


Mala dan Mak Diam tertegun akan celotehan Cahaya.


"Assalamualaikum."


Mala segara menoleh kebelakang melihat siapa gerangan yang mengucapkan salam. 


"Muhasabah diri, Mala!" batin Mala. 


.


.


.


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...

__ADS_1


__ADS_2