Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Merajut Asa Kembali


__ADS_3

"Dia…," Satria benar-benar bingung harus mengatakan apa? Keringat mengucur deras dari pelipis lelaki itu, mau jujur atau tidak? Dia bagaikan memakan buah simalakama. Maju salah, mundur salah. 


"Kak! Aku punya Allah. Aku berserah diri kepada Robbku, maka Kakak sendiri yang akan merasakan Kuasa-Nya nanti," jelas Mala sambil kembali berbaring. Dia enggan untuk berdebat dengan suaminya itu, lebih baik ia beristirahat daripada berdebat. 


Satria melihat ekspresi istrinya menjadi murung, lelaki itu merasa tidak enak hati. Bukankah senjata orang Mukmin adalah doa? Jika istrinya berserah diri dan berdoa kepada Sang Robb? Maka tamatlah riwayatnya, karena saat ini ia telah zalim kepada wanita yang tengah mengandung anaknya tersebut. Akhirnya dengan meneguhkan hati, ia akan mengatakan yang sebenarnya.


"Nur!" panggil Satria sambil menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya, "Kamu ingat wanita yang memanggilku siang tadi?" Satria menunggu reaksi istrinya. Namun, sayang! Wanita hamil itu tidak bergeming, dia masih setia berbaring sambil menatapnya nanar. 


Satria kembali melanjutkan ucapannya, "Nur! Apa kamu cemburu?" Akhirnya kata itu terucap juga dari bibir Satria. Lelaki itu sudah setelah mati menahan perasaan gelisah menunggu reaksi istrinya yang selalu cemburu buta terhadapnya. 


Sayang seribu sayang, wanita hamil itu tetap diam seribu bahasa. Hal ini membuat Satria langsung menindih tubuh istrinya, ia mengunci tatapan mata mereka. Cukup lama posisi Satria yang seolah-olah mengintimidasi istrinya sendiri. Hening yang tercipta, tatapan mata mereka yang saling bertemu membuat sesuatu yang ada di dalam diri Satria meronta-ronta. Hingga akhirnya dia memberanikan diri meminta izin sang istri. 


"Nur! Bolehkah aku… ," ucapan  Satria dipotong oleh istrinya. 


"Tidak boleh! Kak, sesuatu yang menzalimi diri hukumnya HARAM! Kakak tahu kalau saat ini aku sedang sakit? Di dalam rahimku ada anak kita dan tumor yang terus tumbuh bersama. Aku mohon maaf kak, jika hasrat Kakak bergejolak? Kakak bisa menikah lagi."


'Bunuh diri' mungkin hal itu yang akan Satria lakukan. Sudah kesekian kali istrinya itu meminta ia menikah lagi, Satria benar-benar frustasi sendiri. Lelaki mana yang bisa melihat wanita yang dicintainya menderita? Kecuali, dia yang tidak memiliki hati nurani. Berkali-kali Satria membuang nafas kasar hingga ia turun dari tubuh istrinya dan kemudian memeluk wanita hamil itu yang berbaring terlentang sambil berujar. 


"Nur! Aku tidak akan menikah jika hanya untuk menuruti hawa nafsu? Maaf, aku tadi bingung mau bercerita sama kamu. Wanita yang memanggilku tadi, katanya teman satu kampus. Teman Abdul juga, tetapi aku tidak mengenalnya sama sekali. Kamu tahu bukan jika waktu kuliah aku hanya memikirkan kamu dan memikirkan tugas-tugas kuliah saja. Nur, tadi setelah kamu pergi. Wanita itu datang dan menceritakan hal-hal yang tidak aku mengerti. Aku menghindarinya dan kembali kesini, terserah kamu percaya atau tidak? Satu hal yang pasti, aku ingin merajut asa kembali dengan kamu. Sama seperti kita dulu, ketika tidak memiliki uang dan hanya memiliki harta warisan yang kini menjadi sumber pemasukan kita."

__ADS_1


Mala tersenyum lebar setelah mendengar curhatan suaminya yang panjang dan lebar tersebut. Dia tahu kalau suaminya itu tidak akan pernah bisa menyembunyikan apapun darinya, cukup libatkan Allah dalam segala hal dalam hidup kita. Insya Allah, Allah akan selalu ada untuk kita. Hal itu yang membuat Mala tidak ingin terlalu menunjukan rasa cemburunya, karena ia tersadar ketika bertemu Dokter Tasya. Wanita yang dulu dia hajar, akan tetapi di saat ini menjadi orang yang akan membantunya untuk sembuh. 


Hukum karma itu berlaku, supaya apa? Supaya Manusia itu sadar, jika pernah melakukan kesalahan. Namun, hanya mereka yang mau berfikir. Jika diri telah merasa paling benar? Maka sulit untuk menerima kebenaran yang hakiki. Apa itu kebenaran yang hakiki? Kebenaran yang membuat Manusia mau berubah menjadi lebih baik dari kemarin. 


Mala mengelus lembut lengan sang suami yang melingkar di atas tubuhnya dengan lembut, sambil menatap wajah tampan lelaki yang tidak lama lagi akan menjadi seorang ayah itu. 


"Kak, aku hanyalah titipan Allah. Suatu saat nanti aku akan kembali kepada-Nya, aku mohon saat itu terjadi? Kakak bisa ikhlas dan menjadikan anak kita sebagai harta yang paling berharga," ujar Mala dengan mata yang berkaca-kaca. Wanita hamil itu bukannya pesimis dengan keadaan, akan tetapi ia hanya ingin menguatkan dan mengingatkan suaminya akan tugas yang berat jika dirinya benar-benar kembali ke pangkuan Ilahi. 


"Nur! Jangan katakan hal itu," rengek Satria manja kepada istrinya. Dia tidak bisa membayangkan hal itu sampai terjadi. 


"Iya, iya, aku cuma ingatkan Kakak. Janji adalah hutang, wajib dibayar. Karena jika tidak? Maka Kakak akan termasuk ke dalam golongan orang MUNAFIK!" 


Jika berbicara ia dusta. 


Jika diberi amanah ia tidak bisa menjaga


Jika berjanji ia ingkar. 


"Nur!  Besok kita pulang ya?" Satria mengalihkan pembicaraan, karena tidak ingin memperpanjang masalah yang mungkin akan berakhir dengan pertumpahan darah.

__ADS_1


"Iya, terserah Kakak. Aku juga kangen ingin menjaga minimarket bersama Kakak," terang Mala sambil mengingat bagaimana keseruan mereka saat merintis usaha warisan dari orang terkasih tersebut. Dari toko kelontong, hingga menjadi minimarket. Bukan suatu yang mudah, banyak pasang dan surut yang pernah mereka lewati. 


"Sama, aku juga kangen saat kamu punya uang tapi nggak bagi-bagi sama aku," terang Satria kembali di saat mereka dulu baru menikah. Akhirnya pasangan suami--istri itu tertawa bersama, mengingat betapa konyolnya mereka waktu masih baru menikah. Ternyata telah banyak hal yang mereka lalui bersama, tanpa disadari waktu tengah menunjukkan tengah malam. Satria yang terus bercerita tidak menyadari jika istrinya telah tertidur. Lelaki itu baru tersadar ketika menoleh kearah istrinya  karena tidak ada jawaban dari wanita hamil tersebut. 


Satria menyelipkan anak rambut sang istri yang menjuntai di wajah wanita hamil tersebut, lelaki itu memandang penuh haru wajah wanita yang ia cintai karena Allah sambil membatin.


"Nur, jika memang nanti telah datang waktu perpisahan kita? Maka aku berharap hanya Allah yang memisahkan kita, aku berjanji akan menjadi imam yang terbaik untukmu dan anak kita nanti."


Satria mencium kening istrinya dengan penuh kasih--sayang. "Aku mencintaimu karena Allah."


Cinta yang tulus akan mendatangkan cinta yang tulus pula dari Sang Robb, percaya akan ketentuan-Nya. Insya Allah, Sang Penciptapun akan rodho terhadap hamba-Nya. Percayalah!


.


.


.


...Bersambung  … ....

__ADS_1


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2