
Satria dan Mala serta putri mereka kini berada di restoran untuk makan siang. Setelah urusan dengan pihak kepolisian selesai, mereka memilih mengisi tangki terlebih dahulu.
Canda dan tawa mereka membuat siapa aja tidak akan pernah tahu, jika saat ini mereka tengah menghadapi sebuah musibah. Kehilangan orang yang disayangi sangat lah berat, akan tetapi jika hanya meratap dan bersedih maka hanya perbuatan sia-sia saja.
Mereka bisa menutupi perasaan sedih, dari semua orang. Namun, mereka tidak akan pernah bisa membohongi perasaan sendiri. Cara terbaik yang bisa mereka lakukan hanya terus berusaha dan ikhlas menjalani suratan takdir.
"Nur, biar aku yanh jaga Cha-Cha. Kamu makan aja dulu, nanti setelah kamu selesai baru aku makan."
Mala tersenyum bahagia akan perhantian suminya, ketika mereka diluar rumah. Sang suami sebisa mungkin membuatnya merada nyaman.
"Yah-Yah … ."
Satria terus berusaha mengajari putrinya agar bisa memanggil namanya. Namun, belum juga berhasil.
"Nur, apa kamu sudah memeritahu Umi dan Bapak?" tanya Satria yang teringat akan sang mertua.
"Memberitahu apa, Kak?" tanya Mala sambil meminum minuman miliknya.
Satria menghembuskan nafas panjang setelah mendengar jawaban sang istri, yang berarti bahwa istrinya belum memberi kabar duka ini kepada sang mertua.
"Kak, aku sudah selesai," jelas Mala seraya mengambil alih sang putri dari pangkuan suaminya.
Satria segera menelpon sang mertua, karena ia tidak ingin sampai tidak mengabari tentang musibah ini. Sebab, nanti uminya akan ngomel seperti kerata api eskpres.
"Halo," Satria menyapa ketika sambungan teleponnya telah tersambung.
Mala hanya memeprhatikan suaminya dan mulai menyuapi sang putri. Wanita itu tidak mendengarkan apa yang Suaminya bicarakan lewat telepon. Pikirannya hanya fokus kepada sang putri hingga terdengar suara terikan yang nyaring membuatnya terkejut. Begitu juga dengan sang putri.
"Apa! Inalilahi!"
"Ada apa, Kak?" tanya Mala penasaran.
Satria hanya menggelengkan kepala kemudian memejamkan matanya untuk beberapa saat. Mencoba menenangkan gejolak didalam dadanya yang terus berhemuruh menahan perasaan sakit yang bertubi-tubi.
"Kak, makan dulu. Setelah ini kita cari musola untuk solah Zuhur," pinta Mala kepada sang suami.
Terlihat dari raut wajah suaminya, bahwa mereka akan menerima satu musibah lagi. Namun, Mala berusaha untuk terlihat tegar dan kuat. Karena hanya ia tempat suaminya untuk berbagi cerita.
Dengan perasaan yang tidak menentu, Satria memaksakan diri untuk memakan makanan yang sudah dipesan. Hingga air matanya menetes dan jatuh begitu saja. Terasa sesak dadanya, akan tetapi ia beusaha keras untuk menghabiskan makanan miliknya. Sebab, ia tidak ingin menyia-nyiakan rezeki dari Sang Robb.
__ADS_1
Setelah selesai makan dan mebayar, mereka menuju mobil. Kemudian jalan sebentar sambil mencari musolah terdekat.
"Kak, berhenti disana," pinta Mala ketika melihat musola.
Satria hanya diam, akan tetapi tetap membawa laju mobilnya untuk singgah disebuah musolah yang berdekatan dengan sebuah pom bensin.
Mereka bertiga masuk dan melaksanakan solat berjamaah didalam musolah tersebut. Walaupun Mala kesulitan dalam menjalankan kewajibannya, sebab sang putri yang merengek terus. Namun, Mala tetap menjalankan kewajibannya.
Ujian hanya akan selseai jika dihadapi dan dijalani dengan baik. Apapun halangannya, Mala percaya semua akan berakhir.
Ketika mereka keluar dari musolah tersebut, tiba-tiba datang seseorang yang amat mereka kenal.
"Kakek," panggil Mala yang kemudian mencium punggung tangan lelaki tua itu.
"Kalian mau kemana?" tanya lelaki itu yang tidak lain adalah kakek Sulaiman.
Kebetulan beliau sedang jalan-jalan sambil memeperhatikan usaha pom bensin miliknya. Hingga tidak sengaja mekihat sang cucu dan cicitnya.
Satria menatap lekat wajah lelaki yang kini berdiri dihadapkannya, ia bingung kenapa Kakek Sulaiman berada disaat yang tidak tepat seperti sekarang.
"Apa yang Kakek lakukan disini?"
Mala dan Satria menerima ajakan lelaki itu, apalagi putri mereka sepertinya sudah mengantuk. Sebab, balita itu mulai rewel.
Disinilah mereka, diruangan yang ber-AC. Mereka duduk disofa yang nyaman, ruangan yang sepertinya memang didesien khusu untuk tempat istirahat. Karena ada tempat tidur disana dan ada sofa panjang juga serta mini bar. Sangat lengkap menurut Satria.
"Jadi, kalian mau kemana?" tanya Kakek Sulaiman sambil memangku cicitnya yang terus saja menguap.
Satria menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Kakek Sulaiman hanya mampu membuang nafas panjang.
"Apa Kakek belum mengetahui tentang Umi?" tanya Satria penasaran. Karena lelaki itu sangat santai, seolah-olah tidak terjadi apapun.
"Eh, cicit Kakek sepertinya mengantuk sekali ya, " jelas Sulaiman sambil memperhatikan balita yang kini tertidur di pangkuannya.
Lelaki itu membawa Cahaya dengan perlahan dan membaringkan sang cicit diatas tempat tidur yang tersedia disana. Setelah itu ia kembali duduk dan menatap wajah Satria dan Mala bergantian.
"Kakek tahu tentang Azzahra, dia masuk rumah sakit," jelasnya dengan raut wajah serius.
Mala yang mendengar hal itu segera menatap suaminya, seolah-olah meminta penjelasan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Lalu, kenapa Kakek tidak ke rumah sakit?" tanya Satria penasan dan mengabaikan tatapan sang istri kepadanya.
"Untuk apa?" tanya Sulaiman acuh. Dia tahu kedua cucunya akan berpikir yang bukan-bukan kepadanya setelah mendengar pertanyaan itu.
"Tapi, Kekek. Umi itu juga anak Kakek. Walaupun hanya sebatas anak saudara," jelas Satria yang heran akan apa yang kakek Sulaiman sampaikan.
"Iya, Kakek tahu hal itu. Tapi, kamu juga tahu! Jika, Umi kalian menikah tanpa Kakek," jelas Sulaiman yang ingin kedua cucunya itu paham jika ia hanya ingin memberikan peringatan kepada Azzahra.
Mala hanya mampu menggelengkan kepalanya, dia kemudian menatap sang Kakek sambil bertanya, "Memangnya Kakek tidak kasihan dengan Umi yang sedang ditimpa kemalangan?"
Sulaiman tertegun akan pertanyaan Mala, kemudian menjelaskan alasan kenapa ia tidak ingin menjenguk Azzahra.
Sulaiman yang waktu itu sedang mengurus usaha miliknya mendapatkan telepon dari anak buahnya yang mengatakan jika Azzahra masuk ke rumah sakit. Ternyata wanita itu mengalami pendarahan hebat sampai dilarikan ke rumah sakit dan harus mengalami pengerukan rahim.
Awalnya Sulaiman sangat miris dan prihatin akan musibah kehilangan tersebut. Namun, setelah anak buahnya menjelaskan jika Azzahra yang sedang hamil ternyata tidak mengetahui kehamilannya tersebut. Hingga sebuah kejadian menimpa wanita itu.
Azzahra terjatuh ketika berada dikamar mandi yang mengakibatkan pendarahan hebat. Sulaiman yang menerima berita itu hanya mampu membuang nafas panjang.
"Musibah tidak ada yang tahu, tapi sebagai Manusia kita wajib berikhtiar. Jika, yang kalian alami ini namanya musibah Tuhan. Sebab, maut dan kematian hanya ada ditangan yang Kuasa. Berbeda dengan Azzahra! Dia ceroboh! Kakek sangat kesal."
Mala dan Satria saling pandang, mereka antara mau protes. Namun, tidak mungkin bisa melawan lelaki yang kini duduk di hadapan mereka dengan santai. Akhirnya mereka memilih untuk pamit menjenguk sang Umi.
Namun, Mala bingung mau ikut atau tidak, karena sang putri yang masih tertidur pulas. Sulaiman yang melihat raut wajah kebingungan Mala meminta izin untuk menjaga cicitnya.
"Tapi, Kek. Cha-Cha nanti akan rewel," jelas Mala yang masih belum bisa pisah jauh dari sang putri.
"Cahaya itu cicitku! Pergi sana kalian! Jangan pikirkan Cahaya, Kakek bisa menjaganya!" hardik Sulaiman pura-pura marah.
"Punya Kakek, ko' gini baget?" batin Mala dan Satria.
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1