
Satria menggantung ucapannya, dia belum mengatakan apa yang ia pinta kepada sang istri. Membuat wanita itu penasaran setengah mati, akan tetapi tetap berusaha menunggu.
Bagi Mala perinta suami sesuatu yang mutlak dan wajib dilaksanakan selama masih dalam jalan yang benar tentunya.
Satria akan menjelaskan apa yang dia inginkan malam ini ketika Cahaya sudah tertidur, pikiran Mala berkeliaran kemana-mana jika mendengar tentang kata malam hari.
Saat ini wanita itu pura-pura tidur sambil menyusui sang putri ketika suaminya naik keatas ranjang.
"Nur, kamu sudah tidur?" tanya Satria ragu-ragu.
Sebisa mungkin Mala menahan pergerakan tubuhnya agar suaminya tidak curiga, akan tetapi pertanyaan sang suami membuatnya ingin tertawa.
"Masa ia aku jawab? Lalu bilang jika lagi tidur?" batin Mala.
Satria yang menatap sang istri hanya tersenyum, lalu mencoba memancing agar wanita itu mau berbicara jika memang belum tidur.
"Nur, kamu ingat 'Kan dengan Pak Marcel?"
Mala yang mendengar hal itu tertegun dan penasaran, ada apa lagi dengan lelaki itu. Mala tentu masih ingat dengan lelaki yang mereka pikir adalah ayah biologis dari suaminya. Namun, ternyata bukan.
Satria menatap sekilas snag istri dan ternyata nampak guratan diwajah wanita itu yang menandakan jika sang istri belum tidur, sebab memikirkan apa kelanjutannya cerita yang akan diucapkan olehnya.
"Sayang kamu sudah tidur, Nur! Padahal aku ingin memebirahukan ka--," ucapan Sateia terpotong. Lelaki itu merasakan sesuatu dibagian pahanya dan terasa sakit. Ternyata sang istri tengah mencubit pahanya membuatnya hanya mampu mengendus kesal.
"Jangan berisik! Cha-Cha lagi tidur," kilah Mala seraya menatap suaminya.
Satria segera memeluk sang istri dari samping seraya menarik wajah istrinya agar menghadap kearahnya.
"Ada apa?" tanya Mala ketus.
Namun, hak itu malah membuat suaminya terkekeh.
"Nur, aku mau meminta izin sama kamu boleh?" tanya Satria yang masih menahan tawa melihat ekspresi sang istri.
"Apa itu? Jika, sesuatu yang aneh aku enggak mau."
Satria mempererat pelukkannya kepada sang istri, ada perasaan bingung mau menyampaikan sesuatu. Namun, sekali lagi Satria menguatkan hatinya.
"Nur, aku bertemu dengan Pak Marcel ketika beliau berbelanja diswalayan kita. Aku juga menjamu beliau dan alhamdulillah beliau mau dan menerima dengan baik."
__ADS_1
"Terus?" tanya Mala penasaran dengan cerita suaminya yang terlalu bertele-tele.
"Beliau mengajak aku bekerjasama, bagaimana menurutmu?" tanya Satria meminta pendapat.
Mala berpikir sejenak, apa yang disampaikan oleh suaminya belum masuk dalam pikirannya. Sebab, terlalu tiba-tiba Pak Marcel datang keswalyan dan mengajak bekerjasama.
"Coba Kakak, jelasnya yang sebenarnya?" tanya Mala mulai curiga dengan sang suami dan mengira ada yang ditutupi oleh lelaki itu.
"Itu yang sebenarnya, Nur."
"Kak, aku ini istrimu dan kita menikah sudah lebih dari 3 tahun lamanya. Aku sangat mengenal kamu dan begitupun kamu!"
Satria menelan silvernya seking tengang mendengar pertanyaan sang istri, Satria kira aura istrinya benar-benar hilang. Namun, sekarang seperti kembali lagi.
Akhirnya Satria menjelaskan apa yang ia bicarakan dengan Pak Marcel ketika mereka bertemu beberapa waktu yang lalu. Walaupun mungkin istrinya akan marah karena baru menyampaikan sekarang, akan tetapi bagi Satria yang penting dia telah berusaha menyampaikan dan tidak menyemunyikan apapun dari sang istri.
Satria menjelaskan jika ia terkejut ketika Pak Marcel yang notabennya seorang pengusaha yang sukses mau berbelanja ketempatnya. Namun, bukan hanya itu yang membuat Satria semakin merasa aneh. Akan tetapi, sikap dan penampilan Pak Marcel yang seperti urak-urakan. Bahkan Satria sampai berpikir bahwa lelaki itu depresi atau bangkrut.
"Memangnya seperti apa penampilannya?" tanya Mala memotong cerita sang suami membuat lelaki itu menampakkan wajah masam.
"Mau mendengarkan? Atau mau ikut bercerita?" tanya Satria yang mendapatkan anggukan kepala membuat lelaki itu tambah kesal.
"Mendengarkan," ujar Mala dengan wajah serius.
Akhirnya Satria meneruskan ceritanya, dari permintaan Pak Marcel yang tiba-tiba mengajak dirinya untuk bekerja sama dan juga menceritakan keadaan Elissa yang mengalami depresi dan memilih bunuh diri.
"Ko' bisa sih, Kak?" tanya Mala penasaran.
Satria membuang nafas kasar, istrinya terlalu antusias akan ceritanya hingga tidak bisa membiarkan ia bercerita hingga selesai.
"Apa kamu ingat kita pernah bertemu dengan beliau dirumah sakit waktu itu?" tanya Satria.
Mala memutar memorinya, mengingat terakhir kali mereka bertemu dengan lelaki itu. Waktu dirumah sakit, memang pada saat itu keadaan Pak Marcel memang sudah terlihat urakan.
"Emangnya kenapa, Kak?" tanya Mala penasaran.
"Saat itu, Beliau tengah mengurus Elissa yang ternyata melakukan aborsi! Elissa, mengalami pendarahan cukup hebat, setelah memakan pil untuk menggugurkan bayi dalam kandungannya," jelas Satria menyampaikan apa yang Pak Marcel ceritakan.
Mala yang mendengar penuturan sang suami sampai tidak sadar air matanya jatuh, dia merasa sedih mendengar hal itu.
__ADS_1
"Nur, kamu ko' nagis?" tanya Satria sambil mengusap air mata yang membasahi pipi sang istri.
"Kenapa ya, Kak? Elissa bisa tega seperti itu, padahal bayi yang dikandungnya tidak bersalah."
Satria terenyuh mendengar penuturan sang istri, ia tahu jika istrinya sensitif akan kisah anak yang tidak diharapkan kehadirannya.
"Sudahlah, Nur! Aku tidak ingin kamu menangis, kita akhiri saja ya ceritanya," jelas Satria yang tidak ingin istrinya kembali bersedih.
Mala menggelengkan kepala menanggapi ucapan suaminya, wanita itu menatap lekat wajah sang suami yang sangat ia cintai.
"Kakak, tadi mau meminta izin untuk apa?" tanya Mala.
Satria tersentak, ia baru teringat akan alasan utama mengajak sang istri untuk bercerita. Lelaki itu mulai mengatur nafas dan posisi berbaringnya, menyiapkan mental sebelum beradu argumen dengan sang istri. Sebab, Satria sudah siap dengan praduga apa yang akan istrinya kemukakan nanti setelah mendengar berita ini.
"Jadi, aku ingin meminta izin sama kamu. Pak Marcel 'kan mengajak bekerja sama, sebab beliau tidak bisa meneruskan perusahaannya sendirian lagi seperti dulu. Terlebih setelah kehilangan Elissa, beliau merasa hartanya tidak ada artinya lagi."
Sebisa mungkin Satria memilih kata-kata yang tepat agar mudah dipahami oleh sang istri, sesekali Satria menatap istrinya melihat ekspresi dari wanita itu sebelum meneruskan ucapannya.
"Apa kamu izinkan, aku meneruskan perusahan Pak Marcel? Beliau ingin aku menjalankannya."
Akhirnya kata itu keluar juga, sekian cara Satria bisa mengucapkan dengan perlahan.
Namun, wajah Mala berubah drastis. Ada aura yang tidak sedap ketika menatap Satria. Lelaki itu sampai menelan silvernya seking tertekan.
"Katanya kerja sama? Kenapa jadi meneruskan perusahaan?" tanya Mala yang merasa ada menjanggal.
Deg… .
"Tamatlah aku," batin Satria.
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1