
...Setelah selesai melakukan pertemuan dengan pengusaha lain, dan membahas masalah perusahaan. kini, aku kembali ke Apertermen untuk beristirahat. Entah kenapa perasaanku malam ini tiba-tiba rindu dengan anak dan istri yang berada di tanah air. Sudah setahun lebih aku meninggalkan mereka, jujur saja aku ingin kembali dan berkumpul bersama keluargaku. Menikmati setiap waktu yang berlalu kian cepat tanpa terasa. Namun, apalah daya, perusahaan Permata Grub mengalami banyak masalah setelah kepergian Sang pimpinan. Almarhum Malik mertuaku yang sangat di segani. Tiba-tiba ketika di lobi Apertemen ponsel milikku bergetar. Tertera di layar nama putraku, tidak biasanya dia menelpon jika tidak ada hal yang penting. Aku pun segera mengangkat panggilan tersebut....
"Halo." Suara putraku menyapa.
"Halo, Asssallamuallaikum Nak. Ada apa?" tanyaku cemas. Sebab, pasti ada sesuatu yang mendesak.
"Keadaan Mami memburuk."
"Apa?"
...Mendegar berita dari putraku tentang keadaan Maminya yang memburuk, membuatku lemas. Cobaan apa lagi yang Tuhan berikan untuk keluargaku? Baru setahun ini masa pemulihan istriku berjalan lancar. Jika, keadaannya membaik terus maka dia bisa keluar dari RSJ dan kami akan berkumpul kembali sebagai keluarga yang utuh seperti sedia kala. Namun, malam ini. Berita buruk yang aku dengar. ...
"Pi, apa masih di situ?"
...Aku mendegar panggilan putraku, aku linglung setelah mendegar berita yang tidak pernahku harapkan terjadi. ...
"Iya, Sat? Papi syok saja, padahal Dokter yang Papi suruh merawat Mami kamu mengatakan. Kalau, Mami kamu akan sembuh selama keadaannya setabil."
...Aku coba membuang pikiran negatif yang mulai benjala merasuki hatiku. Mencoba berprasangka baik kepada Sang Robb bahwa semua yang terjadi adalah wujud cinta kasih-Nya kepada seorang hamba. ...
"Iya Pi, Mami memburuk setelah bertemu dengan seseorang."
...Mendegar penjelasan putraku, membuat aku memikirkan sesuatu. Siapa yang menemui istriku hingga membuatnya kembali drop? Pertanyaan itu mengusik pikiranku. ...
"Siapa yang menemui Mamimu?"
"Satria enggak tahu, Pi? Tapi ada rekaman CCTV yang menangkap wajah orang tesebut."
"Kalau begitu, kirim rekaman vidio tersebut ke alamat email Papi."
...Aku penasaran dengan siapa yang di temui istriku, samapai putraku sendiri tidak mengenalnya. ...
"Baik Pi, oh iya. Papi pulangkan tahun ini?"
...Aku tersenyum mendegar permintaan putraku tersebut, aku memang ingin pulang ke tanah air. Perasaan rindu mengalahkan perasaan tanggung jawabku di sini. Masalah akan terus ada selama kita hidup di dunia, dan pekerjaan apa pun tidak akan pernah ada habisnya. Aku tidak ingin mengabaikan keluarga demi harta yang tidak akanku bawa mati nanti. ...
"Insya Allah, Sat. Papi sudah mengajukan hal ini dengan Pak Rudy dan Beliau bersedia mengantikan posisi Papi selama tidak berada di sini," jelasku.
"Alhamdulillah, kalau begitu Pi. Maaf menganggukan waktu Papi."
...Aku merasa tersinggung akan kata-kata Putraku tersebut, seolah-olah dengan orang lain saja. Kaku dan baku bahasa yang keluar dari mulutnya. ...
"Kamu Putra Papi, Sat. Mana mungkin pernah nganggu Papi? Malahan Papi kerja mati-matian untuk kalian," jelasku dengan nafas naik-turun menahan gejolak di dalam hati. Aku paham mungkin karna jarak dan waktu hubungan kami yang dulu hangat menjadi dingin.
__ADS_1
"Maaf Pi, maksudku---, Di sana siang atau pagi?"
"Malam."
...Aku tersenyum mendegar pertanyaan Putraku, mungkin dia berfikir mengganggu dalam artian waktu. Sebab, sebagai pimpinan perusahan besar. Waktu bagiku adalah hal yang sangat berharga. ...
"Oh, ya sudah Pi. Papi istirahat dulu, aku juga Nur akan mengurus Mami dengan baik."
...Aku teringat dengan Menantuku itu, setelah Satria mengucapkan nama istrinya....
"Apa kabar Mala?" tanyaku penasaran.
"Alhamdulillah, baik Pi. Papi ingin berbicara?"
"Kalau boleh?"
"Asssallamuallaikum, Pi?"
"Waallaikum sallam, kamu sehat Nak?"
"Alhamdulillah, sehat Pi. Papi jadi pulang?"
"Insya Allah, jika tidak ada halangan. Papi akan tiba besok malam. Oh iya, apa ada kabar baik untuk Papi?"
"Kabar, apa ya Pi?
...Aku tersenyum mendegar pertanyaan Menantuku yang polos seperti ini. ...
"Kabar, kalau kamu berbadan dua."
"Badanku, cuma satu Pi."
"Allahu Akbar,"
...Aku mundur jika berbicara dengan Menantuku dalam mode abigu seperti ini....
"Berikan teleponnya kepada Satria," pintaku.
"Halo, Pi."
"Apa kamu tidak membuatnya dengan sungguh-sungguh, Sat?" Tanyaku ketika mendegar seruan Putraku.
"Astagfirullah alazim, Pi. Kami menundanya makannya belum jebol."
__ADS_1
"Kenapa di tunda?"
"Maaf Pi, kuota nelpon luar Negriku habis. Assalamualaikum."
Tuttt....
"Dasar anak kurang ajar!" makiku.
...Aku segera melangkah menuju lift guna kbali ke kamar milikku. Ketika aku sampai di depan pintu, tiba-tiba ponsel milikku bergetar tanda ada notifikasi masuk. Aku hanya melihat sekilas, lalu masuk ke dalam kamar. Lelah yang kurasakan membuat diri ini ingin menyerah rasanya. Namun, jika teringat wajah yang amat aku rindukan. Lelah ini menghilang seketika. ...
"Ya Robb, hanya satu pintaku kepada Mu. Satukan kami di surga," doaku di dalam hati.
...Lagi dan lagi ponselku bergetar, aku jadi penasaran. Setelah menganti pakain jas yang aku kenakan tadi dengan piyama tidur. Aku duduk di sova yang ada di dalam kamarku lalu membuka ponsel yang sedari tadi bergetar. ...
"Pi, aku ingin tahu siapakah dia?" Pesan dari Putraku, membuat aku binggung. Siapa yang di maksud. Hingga aku membuka vidio yang di kirim Satria dan melihatkan wajah lelaki blasteran yang tengah asik berbicara dengan sang istri.
"Allahu Akbar, ujian apa lagi ini ya Robb?" liriku ketika mengenali siapa lelaki itu.
...Aku hanya bisa menghembuskan nafas kasar, bukan aku tidak ingin menjelaskan kepada Putraku yang memiliki hak tentang hal ini. Namun, aku belum siap jika dia perpaling dariku. Aku sangat menyayanginya seperti Putra kandungku sendiri, dan aku takut ke hilangan dirinya jika aku memberitahukan hal yang sebenarnya....
"Ya Robb, jagalah lisanku agar bisa selalu berkata jujur."
...Alu hanya bisa berdoa dan berusaha, semoga apa yang aku lakukan adalah hal yang benar. Sebab, tanggung jawab yang aku pikul amatlah berat. Jika, Almarum sang Mertuaku masih hidup. Maka aku akan meminta Beliau yang menjelaskan semuanya agar tidak ada yang di sembunyikan lagi. ...
"Aku memang harus pulang," batinku.
...Aku memilih tidur dari pada membalas pesan Putraku. Besok akan menjadi hari yang lebih berat dari hari ini. Sebab, besok aku sudah akan berangkat untuk pulang ke tanah air. Membawa tanggung jawab yang barat di pundakku. Siap atau tidak aku harus tetap mengatakan yang sebenarnya....
"Bissmillahi tawakaltu lahaulla wa llakuata ilabilla."
"Dengan menyebut nama Allah aku betawakal, tidak ada daya dan upaya kecuali kehendak-Nya"
...Ikbal hanya membawa sang Robb dalam urusannya. Karna, hari esok masih misteri....
.
.
.
...Bersambung.... ...
*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*
__ADS_1