
Satria mendapatkan lampu merah dari sang Dokter, baru ingin menghirup udara segar. Sekarang harus menghirup aroma tidak sedap, tapi mau bagaimana lagi? Dia harus memahami jika istrinya saat ini dalam keadaan sakit.
Mala hanya banyak diam sedari keluar dari rumah sakit, wanita hamil itu terlihat murung. Namun, ungkam untuk menceritakan hal yang dirasakannya.
Azzahra yang sedari tadi memperhatikan keadaan Mala akhirnya bertanya juga, ketika mereka telah sampai di rumah.
"Mala, kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Azzahra seraya membuka pintu rumah.
Mala hanya mengangguk menanggapi ucapan Uminya tersebut dan berlalu masuk meninggalkan orang-orang yang mencemaskan keadaannya.
"Biarkan dia menenangkan hatinya dulu, Ra. Kasihan, dia pasti kepikiran tentang masalah kandungannya dan operasi pengangkatan tumor yang nanti akan dia lakukan."
Udin mengingatkan Azzahra tentang keadaan putri mereka yang pasti tertekan dengan keadaan ini. Satria yang mendengarkan obrolan kedua orang tersebut pun memikirkan hal yang sama.
"Sat, Umi tinggal di sini ya? Kita juga menunggu kabar selanjutnya dari Dokter Tasya tentang hasil tes Mala tadi," pinta Azzahra kepada Satria.
Satria hanya mengangguk dan masuk, ia kepikiran dengan sang istri. Dia ingin menenangkan hati istrinya yang pasti tengah bergejolak.
Setelah kepargian Satria, Udin berpamitan untuk pulang. Namun, ditahan oleh Azzahra.
"Ra, aku balik dulu."
"Kenapa buru-buru? Kita makan siang dulu," pinta Azzahra yang mendapatkan gelengan kepala lelaki di hadapannya tersebut.
"Aku masih ada pekerjaan di rumah," jelas Udin menolak halus permintaan wanita yang katanya akan menjadi calon istrinya tersebut.
Udin selalu membuat benteng yang tinggi terhadap Azzahra, bukan dia tidak tertatik kepada wanita tersebut. Namun, karena Udin paham akan yang namanya hukum agama. 'Tidak boleh berinteraksi dengan yang bukan mahram', kutipan kata-kata itu yang selalu Udin selalu ingat. Kata yang pernah di ucapaka oleh alhmarhum Azzizah sang istri sebelum mereka sah menjadi suami--istri.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Akan tetapi, ingat akan janji yang pernah kau ucapkan? Karena janji adalah hutang," jelas Azzahra mengalah.
Udin hanya mengangguk menanggapi ucapan Azzahra sebelum keluar rumah, ia sempatkan mengucapkan kata-kata mutiaranya kepada wanita itu.
__ADS_1
"Aku bukanlah lelaki yang baik! Namun, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu," ucap Udin dengan senyum yang mengembang.
"Sudah sana! Aku mau tutup pintu," balas Azzahra yang merasa malu sendiri akan ucapan sang pujangga tersebut. Wajahnya kini memerah menahan malu dan marah, belum juga menjadi suami? Sudah banyak gombalnya, pikir Azzahra.
Setelah kepergian Udin, Azzahra menyibukkan diri di dapur. Memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah yang lain.
"Semoga, kamu bisa merasakan kebahagian, Nak," batin Azzahra berdoa di sela melakukan aktivitasnya. Dia sangat kepikiran tentang musibah yang ditimpa oleh putrinya tersebut.
***
Di kamar
"Nur, aku disini! Bukan disitu!" celetus Satria dengan wajah memelas. Sedari tadi istrinya tidak mengindahkan kehadirannya, wanita hamil itu hanya diam seribu--bahasa. Satria tidak bisa bila terus-terusan didiamkan oleh sang istri akhirnya mengutarakan perasaannya dengan wajah yang masam tentunya.
"Nur! Kita ini Manusia yang statusnya hanya Hamba, sepatutnya kita hanya menerima apa yang sudah Allah berikan dengan lapang dada. Bukannya meratap! Apalagi berputus asa," jelas Satria panjang lebar.
Mala akhirnya menyerah dan mengatakan sesuatu yang mengganjal di hatinya, "Kak, aku hanya takut tidak bisa istiqomah sampai akhir."
"Nur, kita hanya bisa berikhtiar dan berdoa. Aku ingin kamu berserah diri kepada Sang Robb, biarkanlah DIA yang Maha Kuasa menentukan. Apakah kita mampu atau tidak? Dalam menjalani ini semua,"jelas Satria dengan menatap sendu wajah sang istri yang amat ia sayangi tersebut.
"Kak, bukan aku goyah akan musibah yang menimpaku ini! Akan tetapi, ada janji yang pernah aku ucapkan dan ingin sekali aku tunaikan."
Satria mencerna baik-baik ucapan istrinya tersebut sambil mengangguk-angguk mengira apa maksud dari kata-kata yang keluar dari bibir istrinya tersebut.
"Aku tidak paham, Nur!" akhirnya ia mengatakan hal itu.
Mala tersenyum seraya mengurai tautan tangan mereka dan beralih mengelus lembut wajah suaminya dengan penuh kasih--sayang. Lelaki yang halal untuknya, yang tidak memiliki hubungan darah. Namun, mau berkorban jiwa dan raga.
"Kak, aku mencintaimu karena Allah dan aku ingin melepaskanmu juga karena Allah," jelas Mala.
Wajah Satria berubah pias setelah mendengar ucapan sang istri, ada bau-bau tidak sedap yang ia endus dari kata-kata barusan.
__ADS_1
"Maksud kamu apa? Coba jelaskan!" pinta Satria dengan wajah serius.
"Biarkan waktu yang menjawab semuanya," jelas Mala seraya beranjak dari tempat tidur. Namun, langkahnya ditahan oleh sang suami.
"Mau ke mana?"
"Mau ke dapur, Kak. Mau memasak untuk makan siang," jelas Mala seraya mengurai tangan suaminya. Namun, sayang lelaki itu semakin mempererat cengkraman tangannya.
"Kak! Lepasin!" pinta Mala dengan mata melotot. Dia heran kenapa suaminya seperti enggan melepaskannya yang hanya ingin ke dapur melaksanakan tugas menjadi istri yang baik.
"Kamu tidak perlu memasak, ada Umi yang akan menggantikan tugas itu. Aku ingin kamu istirahat yang cukup selama kita menunggu hasil lap dari Dokter Tasya. Jujur, Nur! Aku tidak ingin kehilangan kamu. Tolong, dengarkan apa yang aku inginkan. Selama kita bersama saja, setelah ini! Aku tidak yankin kita akan … ."
"Hentikan ocehan yang tidak berfaedahmu, Kak!" bentak Mala yang memotong ucapan suaminya tersebut. Mala kemabali duduk disamping suaminya itu dan menatap tajam lelaki yang kini tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Jadi, hal yang berfaedah apa yang bisa kita bicarakan?" tanya Satria dengan wajah serius.
"Hal apa yang Kakak mau?" tanya Mala 'tak kalah serius. Mala sangat penasaran sekali dengan apa yang ingin diminta oleh suaminya itu, bukannya apa? Mala merasa ada yang tidak beres dengan suaminya, karena setelah mendapat jawaban dari Dokter Tasya tadi, suaminya tersebut nampak murung dab kecewa berat. Entah apa penyebabnya, yang pasti Mala merasa tidak nyaman akan hal itu.
Satria memgembangkan senyum lebar, seoalh tengan mendaptkan undian besar. Lelaki itu akhirnya mengutarakan keinginannya yang tidak bisa ditahan lagi. Dirinya sudah sekian lama berpuasa, seperti seorang kusafir yang berpergian jauh dan dihilangkan makanan yang lezat. Hal itu tidak akan pernah ia lepaskan begitu saja. Sayang pikirnya.
"Aku mau mengaulimu."
"Apa?"
.
.
.
...Bersambung ••• •...
__ADS_1
...* Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...