Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
POV Satria Putra Permata


__ADS_3

Setelah kejadian tadi, aku semakin merasa bersalah kepada Nur. Sebagai seorang suami seharuanya aku bisa melindunginya, tetapi aku hanya bisa menyuruhnya bersabar dalam menghadapi kelakuan keluargaku. Mungkin ini sudah saatnya aku mencoba menjadi suami yang baik untuk dirinya, Nur cahaya hidupku.


Setiap malam kupandang wajah polos gadia hitam manis yang sudah sah menjadi istriku. Ah... teringat kata istri, aku teringat kelakuannya malam tadi. Senyumku terukir sempurna jika teringat akan kelakuannya, tapi ketika aku teringat akan air mata yang jatuh karna rasa sakit hati yang ia terima membuat senyum ini lenyam seketika.


Nurku yang pemberani dan tak takut akan apapun kecuali Robbnya, akan tetapi di karna menjadi istriku dia menangis. Entah mengapa melihat butiran bening itu membuat hatiku terasa amat sakit.


Aku tatap wajahnya yang sedang tertidur damai dan aku elus rambut panjangnya yang selalu tertutup dan kini bisa aku lihat bahkan ku sentuh.


"Nur, aku mintak maaf belum bisa menjadi suami yang bertanggung jawab. Aku juga belum bisa memberimu nafkah baik lahir atau pun batin" Ujarku sambil meneteskan air mata begitu saja.


"Dan aku tidak ada keberanian untuk mengucapkannya secara langsung. Aku malu Nur, sekali lagi maaf"


Aku memang pengecut, karna hanya berani menyampaikan permintaan maafku kepada sang istri ketika dia tertidur. Memang suami yang payah dan tak berguna, tetapi aku berjanji kepada sang Robb kalau aku akan ikhlas menjalani pernikahan ini dan berusaha melakukan yang terbaik sebisaku.


Hampir semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak, hingga menjelang subuh. Aku lihat istriku bangun dari kasur dan menuju kamar mandi.


"Dia pasti ingin mengambil wudhu, tetapi kenapa malam tadi dia tidak shalat tahajud seperti biasanya ya? Mungkin kelelahan" Ujar ku berbicara sendiri.


Aku tahu, bahwa istriku juga Manusia biasa. Sekuat -kuatnya dirinya menerjang kerasnya kehidupan pasti ada saatnya dia merasa lelah dan beristirahat sejenak.


Kalau masalah ibadah aku memang masih suka lalai, berbeda dengan istriku itu yang memang dari kecil sudah dibiasakan oleh keluarganya. Berbeda dengan keluargaku yang minim akan ilmu agama, kecuali papi. Beliau memang berasal dari keluarga yang agamis, tapi apalah daya papi kalau berhadapan dengan mami? Ah... teringat mami aku tersenyum kecut.


Ibu mana yang sanggub melihat putra semata wayangnya menderita? Begitu juga dengan mami ketika mengetahui bahwa papi ingin membawaku pulang ke kampung halamannya hanya untuk memasukanku kepondok pesantren Nurul Huda.


Mami menggila dan berteriak histeris, tetapi papi tidak perduli sama sekali. Keputusan yang beliau ambil bersifat mutlak tidak bisa di ganggu gugat.


Seiring jalannya waktu aku mulai mengerti mengapa beliau melakukan semua itu! Semua demi kebaikanku. Hidup tanpa agama bagaikan rumah tanpa tiang RUBUH.


Walau awal mula masuk pondok pesantren menyakitkan


Flasblack on


Hahaha....


Tawa renyah sekelompok anak lelaki di lapangan bola basket tengah berkumpul.


"Kambalikan bukuku" Pinta Satria yang saat itu masih berusia belia.


"Eh,,, anak bule! Buku pegangan anak ponpes itu Al-Qur'an bukan tuntunan mengaji" Ejek anak lelaki berkulit hitam sambil mengangkat tinggi-tinggi buku Satria.


Satria geram akan kelakuan anak-anak nakal itu, tetapi apalah daya ia hanya sendirian. Hingga dirinya teringat akan kata-kata seorang gadis hitam manis yang mampu membungkamkan mulut orang dewasa waktu itu.


"Kembalikan bukuku" Pinta Satria sekali lagi.


"Kalau kami tidak mau, kamu mau apa? " Tantang anak lelaki yang pendek dan kurus dari pada Satria.


"Tangisnya pendosa lebih dicintai Allah, dari pada sombongnya ahli ibadah" Teriak Satria mengebu-ngebu dengan semangat 45.


Deg....


Kata-kata keramat itu mampu menghentikan tawa sekelompok anak laki-laki itu.


"Sudalah, lepaskan saja anak bule itu. Dia berani mengucapkan kata dari yang tidak boleh disebut namanya" Perintah anak laki-laki berkulit hitam.


"Iya, sudah gak asik lagi" tambah anak laki-laki yang lain.


Mereka melepaskan Satria dan pergi berlalu meninggalkan Satria seorang diri.


Ketika Satria melihat kepergian anak-anak nakal itu satu persatu hingga tidak disengaja ia melihat gadis hitam manis yang selama ini dikaguminya.


Tatapan mereka bertemu hanya sebentar karna gadis itu pergi berlalu menjauh dengan membawa banyak buku ditanggannya.


Walaupun santri laki-laki dan perempuan dipisahkan baik dari kelas apalagi asrama akan tetapi pertemuan Satria dengan gadis pujaan hati sering terjadi. Dikarenakan gadis itu selalu datang dan masuk keruang ustad Aziz untuk membawakan barang.


Dan tidak ada yang berani menegur gadis itu.


flasblack off


Hufff....


Helaan nafasku terasa sangat panjang, aku kembali mengingat bagaimana mengagumkannya gadis hitam manis yang sekarang sudah bersetatus sebagai istriku, bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan.


.


.


.


Ketika istriku itu sudah selesai dengan rutinitasnya. Aku perhatikan dia mengemas barang-barangnya walaupun aku sudah tahu dia akan pulang tetapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


"kamu yakin Nur, kalau ingin pulang kerumah? " Tanyaku kepada sang istri.


"Iya kak, lagian kamu lihat sendirikan perhatian keluarga kakak sama aku? "


"Tapi aku ikut kamu ya Nur, bagaimana pun kamu istri aku"

__ADS_1


"Iya kak, tapi izin dulu sama mami" Perintah Mala yang langsung aku aknguki.


.


.


.


Keesokan harinya.


Diruangan makan sudah berkumpul semua orang, ada oma Yolanda, Mami Marissa, tapi tidak ada Elissa disana.


Aku menghembuskan nafas pelan ia akan berbicara dengan sang Mami setelah makan.


"Sat, kenapa wajah kamu murung? " Tanya Oma Yolanda menginterogasi sang cucu.


"Kurang tidur Oma" Jawabku asal.


Uuukkkhhh....


Mami Marissa tersedak, mendengar ucapanku.


"Emangnya apa yang kalian lakukan berdua? " Tanya Mami Marissa dengan nada tinggi membuatku sampai terkejut dibuatnya.


"Kami suami istri mi, jangan berfikir yang aneh-aneh" Jawabku geram akan tingkah laku sang Mami.


"Iya Mami tau, tapi kamu kan sudah berjanji"


"Sudalah Mi, saat ini Satria tak ingin ribut"


"Ya sudah kamu ceraikan saja istrimu" Jawab Mami Marissa enteng.


"Cukup Mi" Teriakku


Aku tak tahan lagi akan ucapan Mami.


"Sudalah kak, jangan ribut di depan rezeki" Ujar istriku mengigatkan.


"Yang membuat kami ribut itu kamu babu" Teriak Oma Yolanda yang sedari diam dan kini ikut bersuara.


"Oke, sudah Satria putuskan akan membawa Nur keluar dari rumah ini. Maaf Mi, maaf Oma jika kalian tidak bisa menerima Nur sebagai anggota keluarga maka Satria yang akan keluar"


"Emangnya kamu mau kemana? " Ejek Oma Yolanda.


"Kami akan pulang kerumah Nur"


"Cukup Mi"


"Ayo Nur kita kemas pakaian kita dan pergi meninggalkan rumah ini" Perintah Satria sambil menggandeng tangan sang istri menjauh dari meja makan.


"SATRIA.. " teriak mereka berdua kompak.


Aku tulikan pendengaranku dan terus melangkah pergi meninggalkan dua perempuan itu menuju kamar.


"Kak, apa tidak apa-apa seperti ini? " Tanya istriku.


"Sudahlah Nur jangan dipikirkan, sekarang kita kemas pakaian dan pergi dari sini oke"


Ketika kami sedang sibuk berkemas Mami datang mengejutkan kami.


"Sat, apa kamu benar-benar akan pergi?" Lirih sang Mami tapi tidak ku tanggapi.


"Nur, ayo kita pergi! " Ujarku sambil menyeret koper yang berisi pakaian dan ku suruh istriku membawa tas sikut yang ringan saja.


"Sat, Mami mohon jangan seperti ini! "


"Mi, Satria hanya ingin pulang"


"Tapi, rumah kamu disini nak"


Aku menggelengkan kepala tanda tidak menerima pernyataan itu, aku sudah telanjur kesal akan sikap Mami.


Tanpa memperdulikan tangisan dan teriakan sang Mami, aku membawa sang istri menuju pintu keluar rumah.


"SATRIA.... " Teriakakan sang mami tidak ku indahkan, aku tetap akan keputusanku.


.


.


.


"Kak, apa tidak apa-apa seperti ini? "


"Biarkan saja Nur, Mami orangnya memang seperti itu suka menggila" Ujarku memberitahu istriku yang mungkin saat ini merasa tak enak hati.

__ADS_1


"Oh, ya sudah"


"Ya sudah apa? "


"Kita mau naik apa? Gak mungkinkan kita jalan kaki? "


"Kita naik taksi aja Nur biar cepat sampai, tapi kita harus jalan sampai kedepan karna taksi hanya ada di jalan besar didepan sana". Ujarku memberi tahu.


Cukup lama kami bedua berjalan dan akhirnya berada di pinggiran jalan raya.


ketika mobil taksi lewat dengan sigap aku langsung menghentikan laju mobil itu.


"Taksi.... "


Mendengar teriakan penumpang mobil itu berhenti.


"Pak kejalan Merpatii" Perintahku kesang sopir sambil membawa koper yang ku bawa masuk kebagasi mobil.


"Bremmm...."


Suara mesin mobil menyala melaju dengan kecepatan sedang, tak ada pembicaran diantara aku dan Nur, kami sama-sama termenung dalam pemikiran masing-masing hingga tak terasa mereka hampir sampai.


"Pak behenti di depan rumah bercat putih itu" Pinta Nur yang diangguki oleh sang supir taksi.


"Kak, sudah sampai" Ujar istriku itu sambil menepuk pelan bahu ku yang menyadari tadi melamun dan tak menyadari kalau kami telah sampai.


Kami turun dari mobil dan mengeluarkan koper dari dalam bagasi yang dibantu oleh supir taksi.


"Pak berapa ongkosnya? " Tanya Nur kepada sang sopir.


"150 mbak" Jawab sang sopir sopan.


"Kak, bayar" Pinta Nur kepadaku, tapi jujur saja aku tidak mempunyai uang karna memang aku tidak bekerja maka uang dari mana aku peroleh.


"Nur, aku gak punya uang" Bisik ku pelan.


"Eemmmm.... ongkosnya Mas" Pinta sang sopir.


"Tampang aja kece, tapi hidup kere" Sindiran Nur benar-benar membuat harga diriku jatuh, tapi apalah daya yang diucapkannya adalah kebenatan.


Aku hanya mampu merundukkan kepala, malu.


Og...


Og...


Ogwh....


Suara lolongan anjing mengagetkanku


"Dog" Teriak istriku kegirang.


"Siapa yang menaruh anjing disini? " Gumamku.


"Ini namanya Dog, dia anjing peliharanku"


"Kemarin gak ada tuh"


"Karna kemarin dia pergi bulan madu" Sahut seseorang yang mengejutkan kami.


"Bapak... " Teriak kami bersamaan.


"Wah, sudah kompak ya? "


"Bapak ngapain disini? "


"Kamu itu ya Mala, gak punya sopan santunnya sama orang tua"


"Iya tu pak, kayak gak pernah diajarin tata krama aja" Ujarku menimpali ucapan Pak Udin yang langsung mendapat tatapan tajam dari istriku itu.


"Bapak diminta Umi mu untuk menjaga rumah kalian selama kalian melakukan bulan madu"


"Siapa yang pergi berbulan madu pak? " Tanya istriku.


"Ya kalian lah" Jawab bapak


"Bapak, kak Satria" Teriak istriku yang ku tinggal masuk rumah bersama bapak.


"Sudalah Nur ngomelnya, aku lapar ni !" Teriakku dari dalam rumah, karna sejujurnya aku tadi belum menyentuh makananku sama sekali.


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung......


"setelah baca wajib like end comen ya 😇"


__ADS_2