Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Mengurai masalah lagi


__ADS_3

"Kamu hamil anak kembarkan?" tanya Satria yang masih belum bisa menerima kenyataan. 


Semua orang yang berada di sana hanya mampu meneteskan air mata, baru saja mereka mendapat kabar bahagia. Namun, sekarang kabar duka yang mereka terima. Ini semua adalah permainan takdir dari Sang Robb kepada Hamba-Nya yang terpilih.


"Kak, aku hamil anak tunggal."


Satria menatap dalam mata sang istri, menelisik ada kah kebohongan di dalam sana. Namun, hasilnya nihil. Istrinya memang tidak berbohong. 


"Kak, yang kemarin kita lihat itu," Mala menyeda ucapanya sambil menatap satu--persatu anggota keluarga dan mendapat anggukkan kepala. 


"Adalah janin dan tumor, aku enggak mau di operasi. Aku ingin janin ini tumbuh dan berkembang dengan tumor."


Entah, mau marah atau ketawa. Semua orang jengah akan ucapan Mala yang sulit di cerna tersebut. Berbeda dengan Satria yang memang paham akan sifat sang istri. 


"Sakit tidak? Tumor yang berada di sini?" tanya Satria sambil mengelus perut sang istri yang masih rata. 


"Belum," jelas Mala sambil nyengir memperlihatkan deretan giginya yang rapi. 


"Jadi, kamu akan membiarkannya hidup di dalam?" tanya Satria lagi yang mendapat anggukkan kepala istrinya. 


"Kalau begitu, biarkanlah dia hidup bersama janin kita."


Semua orang tercengang mendegar pernyataan Satria, mereka berfikir kalau Satria akan membujuk istrinya untuk mau di operasi. Namun, nyatanya Satria malah mendukung tindakan sang istri. Azzahra tidak tahan lagi, ia angkat bicara.


"Satria, kamu tidak sedang kerasukan? Atau efek obat telah mempengaruhi pikiranmu?"


"Hey,  wanita bar-bar! Jaga biaramu," ujar Marissa tidak terima putranya di rendahkan. 


"Sabar, Mi. Kita di rumah sakit," kelaa Ikbal menenagkan istrinya. 


"Aku baik-baik saja ko, Umi. Mami, jangan marah-marah. Nanti kembali ke RSJ lagi loh."


Semua orang  benar-benar tercengan akan sikap Satria tidak terkecuali Mala. Dia sangat tahu akan sifat dan watak suminya itu. 

__ADS_1


"Kakak, kenapa?" tanya Mala binggung. 


"Nur, kamu beruntung menjadi putri dari Ibu Azizah," ujar Satria sambil tersenyum mengingat akan pertemuan singkat dirinya dengan Almarhumah ibu mertua. 


Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering membuat  semua mata menatap Ikbal. 


"Mohon maaf, saya keluar mengangkat telepon terlebih dahulu," jelasnya sambil berlalu keluar. Marissa penasaran dengan siapa yang menelpon suaminya akhirnya mengikuti lelaki itu keluar. 


"Maksud Kakak apa?" tanya Mala setelah kedua mertuanya pergi keluar. 


"Bukan apa-apa, kamu termasuk beruntung lahir dari rahim seorang wanita yang baik," jelas Satria menutupi yang sebenarnya. Dia belum siap menceritakan apa yang terjadi ketia ia pingsan sebelumnya.


"Nak, sampai kapan kalian akan berada di sini?" tanya Azzahra penasaran. 


"Apa kamu lupa ya, Zahra? Dokter tadi mengtakan kalau besok mereka boleh pulang," jelas Udin menimpali. 


"Iya… ,iya…, kamu selalu benar!" balas Azzahra sambil memutara bola malas. Dia sebenarnya tahu, tetapi hanya ingin mengalihakan perhatian Mala dan Satria supaya melihat keberadaannya saja.


"Bapak sama Umi cocok," celetus Mala membuat kedua orang tersebut menatap tajam ke arahnya. 


"No… ,no… ," balas Azzahra menolak keras pendapat tersebut. 


"Siapa juga yang mau sama janda seperti kamu?" ujar Udin sewot.


"Hati-hati Pak, ucapan adalah doa," ujar Satria sambil megedipkan sebelah bola matanya menggoda.


Seperti itu lah meraka, saling meledek dan melempar canda. Hidup terkadang tidak selalu mulus seperti jalan tol. Bahkan jalan tol sekalipun ada belokkan dan tanjakan. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa jika di uji, ikhlas dan ihtiar adalah teman karib kita dalam melewati ujian demi ujian yang akan selalu  datang dan pergi. Dari siang berganti malam, dan dari sedih menjadi bahagia. Belajar dari kamarin dan menjadi baik untuk esok. 


.


.


.

__ADS_1


Setelah keluar  dari ruangan Satria dan Maka, Ikbal mengangkat teleponya. Di layar ponsel tertera nama Pak Rudy asisten kepercayaan Almarhum mertuanya selama hidup, dan sekarang  menjabat menjadi perwakilan ke dua setelah dirinya. Semua hal hampir di lakukan lelaki itu, kecuali mendatangani sebuah hal yang penting barulah Ikbal. Selebihnya lelaki itu yang bertanggung jawab.


"Halo, ada apa Pak?" tanya Ikbal setelah sambungan tergubung. 


"Halo Pak Ikbal, mohon maaf. Anda bisa kembali ke Amerika?" tanyanya gugup terdengar jelas dari nada suaranya yang berat. 


"Memangnya ada apa ya, Pak?" tanya Ikbal penasaran, sebab tidak biasanya lelaki itu seperti sekarang. Karna Ikbal sudah paham akan kinerja lelaki itu yang totalitas.


"Ada masalah dengan perusahaan Pak, ada yang mengalih namakan kepada seseorang. Bapak kembali, kita selesaikan bersama."


Ikbal mengatupkan giginya menahan marah, siapa yang berani mengambil alih perusahaan yang sudah susah--payah Almarum mertunya perjuangankam selama ini. 


"Baiklah, saya akan berangkat!" jelas Ikbal sambil menutup sambungan teleponnya. Ketika ia hendak berbalik, Ikbal di kejutkan oleh istrinya yang mentap nanar dirinya seolah-olah menaruh curiga. 


"Siapa yang menelpon, Papi?" tanyanya. 


"Pak Rudy, Beliau meminta Papi untuk kembali ke Amerika. Ada sedikit masalah," jelas Ikbal yang tidak ingin istrinya sampai kepikiran dengan masalah yang ia hadapi. 


"Mami ikut," pinta Marissa. Dia tidak ingin jauh lagi dari suaminya, sudah cukup lama mereka terpisah akibat penyakit yang ia derita. Sekarang Marisaa ingin selalu bersama dengan lelaki yang telah banyak berkorban untuknya itu. 


"Bagiamana dengan Satria?" tanya Ikbal binggung. Perusahaan memang penting, akan tetapi keadaan sang Putra juga tidak kalah penting. 


"Kita mintak orang tua Mala untuk menjaga Satria," jelas Marissa. Ikbal tersenyum kecut mendegar pernyataan istrinya, seharusnya mereka yang menjaga Mala. Sebab, Mala adalah istri Satria yang berati tanggung jawab mereka. Sedangkan Satria adalah kepala keruarga, aneh rasanya menitipkan Satria kepada keluarga Mala. 


"Dunia memang sudah terbalik?" batin Ikbal. 


.


.


.


...Bersambung… ....

__ADS_1


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2