
Sudah beberapa minggu Satria tidak henti-hentinya mengoceh, semua sebab surat dari kampus yang baru dia terima beberapa hari lalu menyatakan bahwa ia di berhentikan secara sepihak tanpa ada alasan yang jelas. Satria semakin curiga akan dalang di balik semua ini adalah Maminya, berawal dari ia yang juga dirawat bersama istrinya di rumah sakit dengan alasan bahwa takut mengalami dehidrasi berlanjut. Padahal ia hanya pingsan satu kali saja.
"Nur, aku mendaftar ke kampus baru saja ya?" pinta Satria kepada istrinya yang tengah berbaring terlentang sambil menatap langit-langit kamar.
"Seberapa pentingnya sih, kuliah buat Kakak?" tanya Mala sambil beralih menatap suaminya yang berbaring di sampingnya dengan tatapan penuh perasaan ingin tahu. Mala tidak paham akan keadaan yang menurutnya semakin lama semakin rumit. Apakah ia telah salah langkah? Menikah dengan Satria adalah ke inginan Almarumah ibunya, bukan ke inginnya sendiri. Terkadang Mala berfikir bahwa pernikahannya adalah yang terbaik sebab dia di cintai dan di perhatiakan oleh Satria suaminya. Namun, jika ujian datang seakan tidak ingin berhenti. Mala terasa ingin mengakhiri pernikahan ini, lelah dan resah yang ia rasakan. Manusia adalah makhluk yang mudah jenuh, terkadang saat belum memiliki apa yang di miliki? Manusia akan mengejarnya. Namun, jika sudah di miliki? Maka akan timul rasa jenuh yang membuat Manusia kehilangan rasa syukur akan nikmat yang telah Sang Robb berikan.
"Sangat penting, Nur! Bagaimana aku bisa menjalankan perusahan Permata Grub? Kalau pemimpinnya tidak memiliki wawasan yang luas? Menurutku pendidikan itu sangat penting."
Mala hanya mampu membuang nafas kasar, entah mengapa? Suaminya sudah berubah haluan dari niat pertamanya. Dulu Papi Ikbal yang memaksa suaminya untuk kuliah, karna Satria yang ingin menjalankan pernikahan mereka dengan baik. Menjadi Imam yang layak untuk dirinya. Namun, sekarang? Suaminya memikirkan perusahan yang nanti akan di wariskan kepadanya.
"Kak, sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu agama. Kita berpegang teguh dengan kepada Sang Robb. Dia yang Maha mengetahui dan Berkuasa atas segalanya. Kakak, hanya perlu menjalankan dengan keikhlasan dan kesabaran," jelas Mala sambil mengengam tangan suaminya. Menyalurkan energi positif yang ia miliki agar suaminya menjadi tenang.
Satria pun akhirnya tertegun akan ucapan istrinya tersebut, walau terkadang istrinya sering membuatnya kesal. Namun, ada kalanya istrinya menjadi patner yang paling terbaik. Menegur ia jika salah tanpa mengurui dan menyingung hatinya sebagai suami.
"Nur, perut kamu sekmakin besar," celetus Satria sambil mengelus perut istrinya yang mulai menonjol. Padahal sebenarnya ia mengalihkan pembicaraan agar istrinya tidak mengupas masalah kuliahnya semakin dalam.
"Iya ya, Kak? Mungkin tumot dan anak kita sudah beteman baik, makanya mereka tumbuh dengan cepat."
"Allahu Akbar."
Satria hanya mampu tersenyum kecut mendegar pernyataan istinya tersebut, memang istrinya seperti bunglon. Kadang berbicara penuh akan wibawa. Namun, bisa menjadi ambigu yang membuatnya Satia ingin bunuh diri jika istrinya mengeluarkan ucapan yang bagaikan sunami. Mengombak-ambikan perasaan orang yang menghadapinya.
"Kak, apa boleh aku meminta sesuatu?" tanya Mala ragu.
"Kalau bisa aku berikan? Insya Allah, akan aku berikan," jelas Satria yang masih mengelus perut istrinya.
"Aku ingin Suci jadi pendamping, Kakak?" balas Mala sambil menatap bola mata suaminya dalam.
Satria terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan istrinya, ada perasaan tidak nyaman yang ia rasakan setelah mendengar hal itu.
"Menjadi pendamping seperti apa, maksudmu?" tanya Satria hati-hati, takut salah berbicara? Maka bencana yang akan terjadi.
__ADS_1
"Menjadi pendamping hidup, Kak. Jika nanti aku ma---, " belum selesai Mala berbicara ucapannya telah di potong suaminya.
"Jangan berbicara yang bukan-bukan! Aku tidak suka, Nur," jelas Satria yang paham ke mana arah pembicaraan tersebut.
"Kak, sedia payung sebelum hujan. Sedia istri cadangan sebelum meninggal."
Satria menjentik dahi istrinya, perasaan Satria benar-benar kesal akan ansumsi istrinya yang menjerumuskan menurutnya. Ada-ada saja istilah sedia istri cadangan sebelum meninggal? Memang hanya Mala yang mampu memikirkan hal tersebut. Sebab, tidak ada istri-istri yang lain mampu melakukan hal tersebut.
"Aduh, sakit Kak! Ini sudah KDRT," ujar Mala sambil mengelus dahinya yang terasa panas akibat di sentil suaminya.
"Biarkan, ini akibat permintaan kamu yang aneh-aneh," jelas Satria sambil menatap tajam Mala.
"Kak, aku serius! Kakak tahu bukan kalau Suci itu anak yatim? Sama seperti aku. Jadi, aku paham betul rasanya seperti dia. Tidak ada siapapun tempat bersandar dan berkeluh-kesah. Untuk dulu aku mengengam iman, kalau tidak? Sudah tersesat."
Satria menatap nanar istrinya, ia tahu betul rasanya berada di posisi tidak memiliki siapapun tempat untuk mengadu. Kecuali, Sang Robb yang selalu setia mendegar keluh--kesah Hamba-Nya yang terkadang lalai akan perintah-Nya. Namun, kasih--sayang Sang Robb tidak pernah putus atau pun memudar sampai kapan pun juga. Hanya kita yang sebagai Mahluk ciptaan-Nya yang selalu berpaling dan menyalahkan Sang Robb jika di uji.
"Kamu serius ingin menjadikan Suci, pendampingku?" tanya Satria memastikan permintaan istrinya bukan hanya ide sesaat.
"Insya Allah, Kak."
"Ko, aku? Yang ingin menikah kan kalian," tanya Mala binggung.
"Kamu yang minta tadi, katanya mau menjadikan Suci pendampingku? Jadi, kamu yang harusnya melamarnya," jelas Satria.
"Enggak, aku malu! Masak perempuan melamar perempuan."
Satria tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya, seking gemas akan ucapan istrinya tadi.
"Hahahaha… , kamu lucu loh Nur!" jelasnya sambil mengurai tawanya setelah melihat tatapan tajam istrinya.
"Oke, aku aneh!" ujar Mala sambil berpaling dari suaminya. Dia benar-benar merajuk.
__ADS_1
"Maaf, Sayang. Kamu jangan marah ya?" Satria mencoba merayu sang istri.
"Kamu mau mendegar cerita tetang Ibunya Nami Ismail?" Satria mencoba memancing sang istri dan binggo. Istrinya berbalik menghadap ke arahnya.
"Enggak usah di ceritain, aku sudah tahu!" balasnya sewot.
"Benarkah? Coba ceritakan," tanya Satria.
"Istrinya Nabi Ibrahim meminang Ibunya Nabi Ismail menjadi istri. Karna istrinya Nabi Ibrahim yang belum di karuniai anak. Setelah mereka menikah lahirlah Nabi Ismail. Tamat," jelas Mala menyelesaikan cerita singkat yang ia ketahui tentang kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut.
Satria mengusap dagunya yang runcing berfikir. Bagaimaan caranya menjebak sang istri. Akhirnya Satria memiliki ide yang luar biasa.
"Kamu mau menjadi seperti istrinya Nabi Ibrahim?" tanya Satria sambil menatap istrinya.
"Enggak! Aku kan istrinya Kakak," elak Mala.
"Bukan seperti itu, Sayang! Maksudku sari tauladannya Beliau. Kamu mau meminta Suci menjadi pendampingku, bukan?" jelas Satria supaya istrinya paham. Mala hanya mengangguk menangapi ucapan suaminya tersebut.
"Maka, besok kamu datangi Suci dan mintalah ia menjadi madumu," jelas Satria.
Mala memahami ucapa suaminya dan akhirnya ia mulai paham akan maksud suaminya tersebut.
"Baiklah, besok aku akan meminta Suci menjadi Maduku," jelas Mala.
"Allahu Akbar, alamat salah rumah ini?" batin Satria.
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung …....
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...