Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Dokter Anatasya


__ADS_3

"Dia …," ucapan Mala terhenti seketika. Matanya menatap sang umi yang menggendong Cahaya. 


"Umi, Cahaya haus 'kah?" tanyanya ketika melihat regekan sang putri. 


"Iya ni, La. Umi tadi berjemur sama Cahaya, lihat dia rewel. Umi bawa kesini," jelas Azzahra sambil memberikan cucunya kepada Mala agar disusui. 


"Sat, bisa ikut Umi sebentar?" pinta Azzahra sambil menatap serius ke arah lawan bicaranya. 


Satria tidak langsung mengiyakan permintaan uminya itu, dia menatap kearah sang istri untuk meminta izin dan mendapatkan anggukkan kecil wanita itu. 


Azzahra segera berlalu bersama Satria, ada yang mengganjal di hatinya dan ingin disampaikan kepada sang menantu. Namun merasa tidak nyaman jika didengar oleh putrinya. 


Kini mereka berdua duduk saling berhadapan, tidak biasanya Satria merasa gugup berhadapan dengan sang umi. 


Azzahra membuang nafas panjang terlebih dahulu sebelum mulai berbicara, setelah merasa tenang ia pun mulai bertanya, "Sat, Mas Udin sudah bicarakan masalah untuk Cahaya, bukan?"


Satria mengangguk kecil menanggapi pertanyaan tersebut.


"Jadi, apa pendapatmu?" tanya Azzahra lagi. 


Akhirnya Satria menjelaskan semua yang ia ceritakan bersama sang mertua tadi pagi kepada uminya. 


Azzahra terharu mendengar penuturan menantunya itu, betapa bertanggung jawanya Satria kepada Cahaya dan berusaha menjaga perasaan putrinya.


"Tadi Nur tanya, siapa kiranya yang bisa menyunat, Cahaya?" tanya Satria kepada uminya meminta pendapat wanita itu. 


"Mami kamu menyarankan jika Dokter Tasya yang akan menyunat, Cahaya."


Satria tertegun mendengar jawaban dari sang umi, ia tidak menyangka sama sekali jika maminya ikut andil akan hal ini. 


"Mami! Mamiku? Mami Marissa 'kan?" tanya Satria meyakinkan ini semua bukan hanya khayalan semata. 


Azzahra tertawa lepas melihat ekspresi dari menantunya itu, lalu ia menjelaskan jika yang mempunyai ide untuk menyunat Cahaya adalah Marissa. Azzahra juga menyampaikan jika maminya Satria itu ingin yang terbaik untuk Cahaya. 


Karena Cahaya adalah cucu pertama dari keluarga mereka dan semua orang menyayangi bayi manis itu.


Hingga tak terasa air mata Satria menetes karena haru, ia tidak menyangka jika hadirnya Cahaya benar-benar membawa dirinya ke jalan yang lebih terang. 


"Kalau kamu izinkan? Umi akan menyampaikan hal ini kepada mamimu," jelas Azzahra tiba-tiba membuat Satria bingung mau menjawab apa.


"Umi, sebaiknya biar aku saja yang mengatakannya. Mohon maaf Umi, tapi aku tidak ingin menyusahkan Umi," pinta Satria hati-hati karena takut menyinggung hati sang umi. 


"Terserah kamu saja, Umi hanya menyampaikan amanat. Sebab Umi tidak mau menjadi orang yang tidak bertanggung jawab!"


Setelah mengatakan hal itu, Azzahra meninggalkan Satria yang merenungkan kata-kata yang ia kerjakan.


"Umi, mau menyinggung siapa?" batin Satria. 


.


.

__ADS_1


.


Dikamar, Mala memandikan Cahaya. Walaupun ia tahu jika suami atau uminya melihat hal ini maka, kedua orang itu akan marah kepadanya. Namun Mala kasihan dengan putrinya yang habis berjemur dan belum mandi. 


Kata bahagia kini mengisi hati Mala, menjalankan kewajiban sebagai ibu merupakan hal yang sangat luar biasa. Setelah memandikan putrinya, kini wanita itu mulai mengenakan pakaian bersih untuk sang anak hingga muncul suaminya.


"Nur, apa yang kamu lakukan?" tanya Satria sesampainya di dekat sang istri. Betapa terkejutnya ia melihat keadaan putri mereka.


"Nur, kamu mandikan, Cahaya?" tanya Satria tidak percaya.


"Iya,"  jawab Mala polos.


"Ya Allah, Ya Karim."


Mala menatap heran kearah suaminya, dengan tangan yang masih cekatan memasangkan pakain kepada putrinya. 


"Jangan tatap aku seperti itu," pinta Satria mengalihkan wajahnya. Walaupun mereka sudah menjadi suami istri cukup lama, akan tetapi Satria masih belum terbiasa jika sang istri menatap ke arahnya dengan tatapan seperti itu. 


Mala secepat mungkin menyelesaikannya tugasnya dan berlalu ke kamar mandi, meninggalkan sang suami dan putrinya.


Satria menatap punggung istrinya yang menghilang di balik pintu kamar mandi, ia lalu berbaring disamping Cahaya yang sudah mulai tertidur setelah dimandikan. 


Setelah memastikan jika sang anak tertidur, Satria mengambil ponselnya dan menelpon sang mami. 


Cukup lama Satria menunggu hingga panggilannya tersambung. 


"Halo, Mi,"  sapa Satria. 


Satria hanya mampu membuang nafas panjang, ada perasaan kecewa ketika kata itu keluar dari bibir sang mami. Wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini dan menjadi cinta pertama untuknya.


"Aku mau menyampaikan masalah Cahaya yang mau disunat …," belum selesai Satria menjelaskan alasan ia menelepon sang mami telah memotongnya.


"Mami sudah minta Dokter Tasya untuk melakukannya, kamu konfirmasi saja kapan waktunya. Nanti dia akan datang, Mami tutup dulu soalnya mau meeting ini."


Setelah mengatakan hal itu, panggilannya terputus secara sepihak. 


"Siapa, Kak?"


Seakan mau terjun bebas jantung Satria mendengar pertanyaan itu. 


"Nur! Jangan kagetkan aku seperti tadi!" bentak Satria kesal kepada istrinya.


"Aku hanya bertanya," balas Mala acuh sambil mengenakan pakaiannya di depan suaminya.


Tingkah Mala seperti itu membuat Satria semakin geram, dirinya yang berpuasa sekian lama ditambah kelakuan istrinya seperti itu. Membuat jiwa lelakinya tariak, memberontak. 


"Nur,  kamu bisa tidak menjaga sikap?" tanya Satria sambil mengalihkan penglihatannya ke sembarang tempat.


"Menjaga sikap seperti apa?  Aku tadi hanya bertanya," balas Mala sewot.


Satria merasa ingin menangis jika menghadapi sikap istrinya yang ambigu, namun tiba-tiba ponsel miliknya berdering menandakan ada panggilan masuk. 

__ADS_1


Nomor tidak dikenali membuatnya ragu untuk mengangkat panggilan tersebut, sampai suara perintah sang istri menggema di dalam ruangan itu. 


"Kakak!  Angkat telponmu itu, Cahaya ini lagi tidur! Nanti malah terbangun."


"Dasar, jadi Ayah tidak paham-paham."


Sampai gumaman terakhir sang istri ia dengar, Satria segera mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, ini siapa ya?" tanya Satria pelan agar sang anak yang tertidur tidak terganggu.


Mala yang melihat gelagat aneh suaminya segera mendekati lelaki itu dan duduk disebelah sang suami agar bisa mendengar siapa penelpon tersebut.


Satria paham akan tingkah istrinya yang curigaan menekan tombol speaker agar sang istri  ikut mendengarkan apa yang nanti akan dibicarakan.


"Halo," balas seseorang di seberang sana. 


Namun suara sang penelpon membuat Mala naik pitam, karena terdengar jelas jika lawan bicara suaminya di telepon adalah seorang wanita.


"Anda siapa!" tanya Mala ketus. 


Satria hanya diam karena ia tidak tahu siapa sang penelpon tersebut.


"Saya Dokter Anatasya, Bu Mala."


"Mau apa menghubungi kami?" tanya Mala setelah tahu jika itu Dokter Tasya. 


"Saya mau menyampaikan permintaan Tante Marissa."


Mala mematung seketika setelah mendengar nama sang mertua. 


"Oh iya, masalah itu 'kan?  Saya sudah setuju, Dok. Nanti akan saya hubungi kembali jika sudah menentukan harinya."


Mala menatap tajam suaminya setelah mengatakan hal yang tidak ia mengerti.


"Oh iya, Pak. Saya tunggu informasinya." Setelah itu panggilan terputus.


"Kak! Apa hubungannya Kakak dengan Dokter Tasya!" 


Deg… .


"Perang lagi," batin Satria. 


.


.


.


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...

__ADS_1


__ADS_2