
Drama baru dimulai Mala mau dilawan ya gak bisa lah, karna gadis hitam manis itu sudah banyak melewati transit nya kehidupan yang membuat pribadinya kebal akan lika liku kehidupan.
Sudah seminggu mami Marissa di rawat inap dan hari ini akhirnya ia bisa keluar karna sudah mengantongi izin dari Dokter dengan catatan kalau dia merasakan sesuatu harus kembali untuk cek up lagi.
"Alhamdulillah mami bisa pulang dan kita bisa berkumpul bersama lagi" Ucap Satria penuh syukur.
"Ini berkat istri mu sayang, dia menjaga mami mu dengan baik" Ucap sang opa.
"Terimasih ya Nur kamu memang istri yang baik"
"Berterimakasih lah pada Allah kak, yang sudah menyembuhkan mami"Jawab Mala.
"Sayang,,,kamu tinggal sama mami kan? " tanya mami marissa penuh harap.
"Iya mi,,, Bersama Nur istriku"
"Apa tidak bisa kamu antarkan istri mu kerumahnya saja dan kamu tinggal sama mami? "Tanya mami Marissa ragu.
"Apa yang kamu katakan Rissa?? Kamu ingin memisahkan satria dari istrinya? " Tanya opa Malik yang bingung akan jalan pikiran sang putri.
"Bukan begitu maksudku pa" Kilahnya.
"Tidak apa mi, semuanya terserah kak Satria, Mala hanya mengikuti ucapan suami sebagai bentuk patuh istri kepada suami" Ucap Mala dingin dia tahu maksud dari ucapan mami Marissa.
"Sayang, nama istri kamu itu Nur atau Mala?" Tanya opa bingung.
"Keduanya... "Jawab mereka kompak.
"Sudahlah jangan dipermasalahkan cepat kita pulang oma sudah gak tahan lama-lama di rumah sakit"Keluh oma Yolanda.
Dirumah oma Yolanda semuanya nampak tenang dari luar tapi tidak di dalam yang terjadi drama konflik yang sedang bergejolak.
"Mami cuma inggin kamu tinggal sama mami Sat, itu saja" Regek mami Marissa kepada sang putra.
"Tapi mami mau memisahkan aku sama Nur, Satria gak mau mi"
"Tolonglah mengerti Sat, mami kamu baru saja keluar dari rumah sakit dan kini keadaannya belum setabil" Bela oma Yolanda.
"Sudalah ma kamu jangan ikut campur urusan mereka, bersiap-siap lah kita akan berangkat malam ini ada masalah di Amerika dan kita akan terbang malam ini juga" Ujar opa Malik kepada sang istri.
"Pa,,, Kalian baru datang dan ingin pergi lagi"
Pak Malik menarik nafas panjang apa yang dikatakan sang putri benar adanya tapi apalah daya, dia telah meinggalkan tanggung jawab dan hal itu tidak bisa ia konformikan karna tanggung jawab harus di pikul bukan biarkan.
"Perusaan memerlukan papa sayang dan tolong beri pengertiannya"
"Papa boleh pergi, biarkan mama yang tinggal di sini" Ujar mami Marissa sambil terenyum penuh arti.
"Baiklah, ma kamu tinggal sama putri mu dan papa mau kamu menjaga Nur dengan baik paham? " Jelasnya kepada sang istri.
"Nur.. "
"Iya Nur, istri Satria cucu kamu"
__ADS_1
"Oh... Iya pa, mama akan menjaga istri tercinta cucu papa" Ujar oma Yolanda sambil menatap Mala.
"Baiklah papa akan masuk kekamar dulu mau istrirahat nanti malam jam 11 papa sudah berangkat" Ujar opa Malik sambil berlalu meninggalkan ruang tamu.
"Jangan pikir saya benar-benar mau menjaga kamu ya BABU"
"Oma...."Teriak Satria geram dengan omanya.
"Sayang tolong bawa mami ke dalam kamar, mami capek mau istritahat juga"
"Baik mami, ayo Nur" Ajak Satria.
"Sayang, apa poleh kamu saja jagan bawa istrimu? "Tanya mami Marissa.
"Tapi mi.... "
"Tidak apa-apa kak, aku juga mau kedapur mau masak"Ujar Mala yang tau maksud sang mertua.
Mami Marissa tersenyum puas, dia berniat akan menghasut sang putra supaya mau menceraikan sang istri.
"Kamu mau kemana ha babu? "Tanya oma Yolanda dengan angkuhnya.
"Bukan urusan anda nyonya"
"Heyyy,,,Disini saya tuan rumahnya kamu cuma numpang"
Mala menatap wajah sang oma dengan tajam dia teringat akan almarum sang nenek yang suka berbicara kasar.
"Ini rumah opa Malik, karna beliau yang bekerja bukan anda" Ucap Mala sambil berlalu.
"Aku harus pakai cara yang lain untuk menaklukkan anak itu, dia memang sepertinya kebal akan cacian dan hinaan" Batin oma Yolanda.
.
.
.
Di dalam kamar satria memijat kaki sang mami yang mengeluh kakinya pegal.
"Sayang apa kamu sudah melakuan itu bersama istri mu" tanya Marissa ragu-ragu.
"Maksud mami apa? "
"Hubungan suami istri masak kamu gak tau? jadi untuk apa kamu menikah? " Ucap Marissa kesal dengan sang putra.
"Oh itu.... Nur sudah mengatakan nya kalau dia belum siap mi, jadi Satria gak bisa maksa karna sebelum menikah kami sudah memang memiliki kesepakatan" Ujar Satria menjelaskan.
"Maksudmu dia gak mau gitu? Jadi apa yang dia inginkan dari kamu? "
"Nur itu berbeda dengan perempuan yang lain mi, dia mau menikah dengan Satria karna Nur bermimpi ibunya membawa membawa aku dihadapannya, dia juga shalat istiqorah dan hatinya menetapkan aku, jadi dia langsung mengutarakan niatnya padaku mi" Jelas Satria panjang lebar.
Mami Marissa tertegun dengan ucapan sang putra Marissa berfikir keras apa maksud dan tujuan gadis itu menikah dengan putranya.
"Maksudmu bermimpi tentang ibunya? emangnya ibunya kemana? "
__ADS_1
"Ibunya Nur sudah meninggal ketika Nur baru lahir mi"
"Jadi apa kesepakatan kalian sebelum menikah? " Tanya mami Marissa mencari tahu.
"Nur menjelaskan tentang Rassulloh dan istrinya Aisyah mi, dia katakan bahwa Rasullolah tidak menggauli istrinya Aisyah sampai sang istri siap, karna sebaik-baiknya lelaki adalah dia yang memuliakan istrinya mi"
"Emang mami gak pernah dengar tentang kisah Rassululloh dengan istrinya Aisyah, sampai ada lagunya loh mi"
"Mana mami tau sat, mami ini lahir dan besar di Amerika" Kilah Marissa merasa malu akan dangkalnya pengetahuan tentang agama.
"Makanya itu mami terjerumus *** bebas kan" Balas Satria tajam, dia tahu bahwa dirinya bukan anak kandung papi Ikbal tapi beliau tetap menyayangi nya seperti anak kandung.
"Kamu jangan bicara sembarangan Sat" Kilahnya.
"Satria tau mi, papi sendiri yang ngasih tahu"
"Dasar suami sialan, bakalan aku sayang kalau engak aku tendang dia" Batin Marissa.
"Kak.... "
"Nur.... Kamu bawa apa itu? "
"Ini aku buat bubur untuk mami dan kakak, dari rumah sakit tadi kakak belum makan kan".
"Nur kenapa tanganmu" Tanya Satria yang memperhatikan tangan sang istri yang cekatan menata makanan tapi ada sesuatu di sana.
"Oh ini.... Tadi ada pelayan yang ngatai mami anak pembawa sial, aku gak terima jadi ku bungkam mulutnya dengan tangan" Jawab Mala santai sambil menyerahkan semangkok bubur kepada sang suami.
"Lain kali jagan di pukul ya Nur, kasihan ini rumah oma kita harus menghargai tuan rumah" Ucap Satria mengingatkan sang istri dan mendapat angukan kepala.
Kalau bagi Satria itu hal biasa lain cerita bagi maminya, sang mami menelan silvernya takut.
"Satria membawakan aku menanti luar biasa" Batin mami Marissa.
Marissa merasa ngeri melihat tangan Mala yang berdarah.
"Sayang,,, Suruh istri mu cuci tangannya dulu"
Satria yang memahami keadaan hanya melihat kearah sang istri dan tanpa di suruh Mala tahu apa yang harus dilakukan.
Ketika Mala berlalu kekamar mandi Satria meraih tangan sang mami.
"Mi,,, Nur itu sepasial dia tidak akan menyakiti mami apa pun yang terjadi percayalah, malahan Nur akan melindungi mami, walau akan ada kata-kata nya yang meyakitkan tapi dia tidak mungkin melukai pisik mami".
Mendengar ucapan sang putra membuat perasaan mami marissa getar getir sang putra membawakannya menatu yang luar biasa.
.
.
.
...bersambung......
*setelah baca wajib like end comen ya 😇*
__ADS_1