Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Sok Kenal Dan Akrab


__ADS_3

"Dia?"


"Satria? Kamun Satria 'kan?" tanya wanita  itu dengan nafas ngos-ngosan karena berlari mengejar Satria dan akhirnya bisa terkejar juga pikirnya. 


"Kamu siapa, ya?" tanya Satria yang tidak mengenal wanita itu. Mala segera semakin menempelkan tubuhnya ke sang suami, seolah-olah tidak ingin dipisahkan dari lelaki itu. Satria hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang dalam mode cemburu buta. 


"Gue teman satu kampus lo dulu, masa udah lupa?" tanyanya sok akrab. Mala menjadi mual melihat tingkah wanita di hadapannya.


"Uek, uek, uek"


"Nur, kamu kenapa? Ayo kita ke cafe Abdul," pinta Satria sambil menuntun istrinya menuju cafe temanya tersebut dan meninggalkan wanita yang katanya mengenalnya. Namun, Satria tidak mengingatnya sama sekali. 


Wanita itu merasa dicuekin oleh lelaki yang menjadi incaran waktu di kampus dulu merasa kesal. Dia menghentak-hentakkan kakinya di atas pasir pantai sambil menatap nanar punggung Satria yang sudah berlalu menjauh tersebut, ia tidak paham kenapa lelaki itu tidak pernah muncul lagi di kampus hingga hampir dua tahun lamanya. Dia yang menaruh hati kepada Satria merasa tersiksa karena tidak bisa lagi melihat wajah tampan lelaki itu. 


"Gue akan melakukan apapun, demi mendapatkan perhatianmu," batinnya sambil tersenyum penuh arti. 


***


Abdul yang melihat Satria dan istrinya mendekat segera sugab menghampiri pasangan suami--istri tersebut sambil menawarkan bantuan. 


"Bro, ada yang gue bisa bantu?" tanyanya setelah pasangan itu duduk.


"Istri gue mual-mual. Lo, ada makanan atau saran supaya istri gue nggak mual lagi?"


Abdul hanya menggeleng, dia tidak tahu apapun tentang wanita hamil. Istri saja dia tidak punya, apa lagi mau mengurusi wanita hamil? Pikirnya. Namun, dia teringat seseorang yang pasti bisa membantu. 


"Kalian tunggu di sini, nanti gue balik lagi," pintanya sambil berlalu masuk. Namun, tetiakna Satria membuatnya berhenti sesaat untuk mendengarkan apa yang diminta temannya itu. 

__ADS_1


"Bro, nanti baliknya bawakan makanan ya! Gue laper baget nih," jelas Satria yang mendapatkan acungan jempol temannya itu. 


"Apa, Nur?" tanya Satria yang merasa risih dipandangi terus oleh istrinya. Seolah-olah ia telah melakukan kesalahan. 


"Enggak apa-apa, Kak! Cuma mau tahu aja, siapa wanita tadi," jelas Mala yang masih penasaran dengan wanita yang memanggil-manggil suaminya tadi. 


"Aku nggak ingat, Nur! Sumpah!" jelas Satria sambil mengangkat tangannya.


"Nanti, mungkin ingat! Setelah makan dan minum, apalagi di kasih yang satu itu," Satria menaik--turunkan alisnya menggoda sang istri. Dirinya bagaikan musafir yang berpergian jauh, menahan lapar dan dahaga. Satria tlah puasa sekian minggu lamanya, selama berita kehamilan sang istri menguak ke publik. 


Mala paham akan sindiran halus suaminya, wajahnya merona merah karena malu. Dia juga merindukan sentuhan suaminya yang lembut, membuat ia terbang melayang ke Nirwana. Namun, wanita hamil itu kembali merasa mual. Semua orang menatap risih mereka, Satria paham akan keadaan. Mereka kini tengah berada di cafe yang para pengunjungnya tengah menikmati hidangan. Sedangkan suara istrinya yang ingin muntah sangat mengganggu pengunjung yang lain, siapapun pasti merasa risih jika sedang menikmati hidangan ada yang mau muntah di dekat mereka. Pasti semua orang akan merasa jijik dan kehilangan selera makan. 


"Bro! Ikut gue, ajak istri lo."


Satria dan Mala di selamatkan oleh Abdul yang tiba-tiba datang dan menyuruh mereka mengikutinya. Kalau tidak ada temanya itu? Satria yakin para pengunjung lain akan mengutarakan keluhan mereka kepada dirinya dan sang istri. Pasangan suami--istri itu mengekor dari belakang, mengikuti langkah Abdul masuk kedalam cafe tersebut. Hingga sampai di sebuah ruangan yang lumayan luas, terdapat meja dan kursi di dalam sana. Satria tidak tahan untuk tidak bertanya.


"Bro, kita mau ngapain di sini?"


Setelah menjelaskan hal itu, Abdul berlalu meninggalkan Satria dan Mala. Pasangan suami--istri itu kemudian menarik salah satu kursi yang ada di sana dan duduk sambil menunggu pemuda tadi kembali. Mereka berbincang-bincang ringan dan tidak berapa lama datang wanita paruh baya dengan nampan berisi hidangan yang menggugah selera. 


"Ini hidangannya, maaf ya! Agak terlambat, Nak. Soalnya Ibu  keteteran mengurus semuanya sendiri. Punya anak bujang tidak banyak membantu," sindir sang ibu membuat Abdul hanya nyengir kuda.


Satria mengambilkan lauk--pauk untuk istrinya, membuat ibu dan anak itu menatap heran. Namun, mereka menyadari, kalau perhatian Satria kepada istrinya adalah bentuk kasih sayang. Sang ibu baru teringat akan rujak yang ia buat untuk wanita hamil teman anaknya tersebut. 


"Dul, tolong ambilkan rujak cingur buatan Ibu tadi yang ada di atas meja," perintah sang ibu kepada putranya tersebut. 


Tidak berapa lama, pemuda itu membawa pesanan sang ibu, lalu meletakkannya di atas meja makan.

__ADS_1


"Ini rujak cingur buatan Ibu, cocok buat kamu yang lagi hamil dan mual-mual," jelas sang ibu dengan senyum yang tulus. 


Satria memandang aneh makanan yang dihidangkan kepada istrinya, dia tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak bertanya, "Ibu! Rujak cingur itu? Rujak apa? Yang aku tahu hanya rujak dengan isi buah-buah asam yang segar."


Sang ibu tersenyum lebar sebelum menanggapi ucapan teman putranya itu, "Nak, rujak cingur ini isinya baik untuk istri kamu yang hamil. Ada lontong, tahu--tempe, dan tentu saja cingur atau bibir sapi."


Setelah mendengar penjelasan ibu itu, Satria tiba-tiba mual. Dia tidak menyangka kalau bibir sapi bisa dimakan, ia pun menggelengkan kepala ketika melihat istrinya yang ingin memakan rujak cingur itu. 


Namun, Mala seolah tidak mengindahkan suaminya, dia melahap rujak cingur hingga ludes tidak tersisa. Bumbu kacang yang ditumpahkan kedalam isian rujak tersebut benar-benar membuat lidah wanita hamil itu menari-nari girang, perutnya juga tidak terasa mual lagi. 


"Emmm, enak, Kak!" jelas Mala di sela mengunyah makanannya. 


Satria hanya bergidik--ngeri melihat istrinya makan, terlebih adanya bahan yang dikatakan ibu Abdul tadi, membuat lelaki itu enggan untuk ikut mencicipi hidangan tersebut. 


Abdul dan Ibunya tersenyum senang melihat Mala makan dengan lahap, akhirnya mereka pamit ingin kembali melanjutkan aktivitasnya yang tadi sempat tertunda. Satria bisa bernafas lega, setelah kepergian ibu dan anak itu, Satria mulai bergosip dengan istrinya.


"Nur, kamu tidak takut memakan cingur yang kata ibu Abdul tadi bibir sapi?" tanya Satria pelan yang mendapat gelengan pelan istrinya.


"Hati-hati, nanti bibir kamu besar seperti sapi."


"Apa!"


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung … ....


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2