Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Sunat Untuk Anak Perempuan


__ADS_3

"Alamat perang Bumi," batin Satria. 


Terjadilah adu argumen antara suami istri itu hingga adzan subuh berkumandang, sampai Udin turun tangan untuk mendamaikan Satria dan Mala. Karena perdebatan pasangan itu hingga matahari terbit menyinari bumi. . 


Terkadang Udin merasa jengah akan tingkah menantu dan putrinya itu yang memiliki sifat kekanakan padahal sudah memiliki anak. 


Sekarang pasangan itu tengah saling dorong untuk makan, Satria yang menyuapi istrinya bubur. Sedangkan sang istri menutup mulutnya rapat membuat Satria kesal,  akan tetapi ia tahan hingga sang mertua keluar dari kamar mereka. 


"Nur, kamu kenapa sih? Aku ini nyuapi kamu biar cepat pulih," jelas Satria dengan geram. 


"Aku nggak suka makan bubur, Kak! Dari hamil sampai melahirkan, dikasih bubur terus!" balas Mala 'tak mau kalah.


"Seterah kamu, mau makan atau tidak!"


Setelah mengucapkan hal itu Satria menggendong Cahaya dan membawanya keluar, meninggalkan istrinya yang kembali mengomel.


Ketika Satria berjalan di ruangan tamu, ia melihat mertuanya yang tengah meminum kopi. Satria kemudian menyapa lelaki itu. 


"Pak, belum siap-siap?" tanya Satria sambil duduk di depan sang mertua.


Udin menyeruput kopinya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan mentunya itu. 


"Bapak sudah mau berangkat, tapi Umi kamu bilang mau ngadain syukuran lagi untuk Cahaya," jelas Udin sambil menatap serius kearah Satria. 


Satria bingung, acara apa lagi yang ingin dilakukan oleh sang mertua. Sehingga tidak berapa lama datang Azzahra dengan membawa beberapa kue dan teh hangat.


"Sarapan dulu, Sat," tawar Azzahra kepada menantunya itu.


"Kamu mau mengajak Cahaya, berjemur?" tanyanya. 


"Iya, Umi. Panas Matahari pagi 'kan baik," jelas Satria.


Dia pernah belajar akan hal itu dulu ketika sekolah, di mana panas Matahari pagi bisa membuat sel-sel kulit yang terpapar menjadi lebih sehat dan yang pasti bisa mengeluarkan keringat.


Ketika tubuh Manusia mengeluarkan keringat, sebenarnya juga sedang mengeluarkan racun yang ada di dalam tubuh. 


"Sat, sini Umi gendong Cahaya," pinta Azzahra. 


Satria menyerahkan putrinya kepada sang umi, setelah itu wanita itu beranjak keluar. Kini tinggal Udin dan juga Satria yang saling berhadapan.


"Nak Satria, mohon maaf jika Bapak sedikit lancang. Namun Bapak hanya ingin mengingatkan tentang hukum bayi perempuan untuk disunat," jelas Udin hati-hati.

__ADS_1


Satria terdiam sesaat mencerna ucapan mertuanya itu, hingga ia menganggukkan kepala setuju akan permintaan sang mertua. 


Udin membuang nafasnya lega setelah melihat jawaban menantunya itu, "Jadi, kapan kita akan melaksanakannya?"


Satria kembali berpikir, waktu yang tepat untuk menyunat Cahaya. Karena menurut sunnah Rasulullah waktu paling baik ialah ketika akan memberi nama sang anak. 


Namun Cahaya kemarin sudah diberi nama dan tasyakuran, Satria menimbang-nimbang hingga ia menentukan selepas 40 hari istrinya. 


"Bagaimana jika setelah lepas 40 hari, Nur. Jadi, Ibunya  sendiri bisa membacakan tilawah Qur'an dan kalau boleh, Pak. Aku mau sekalian Aqiqah untuk Cahaya."


Udin terkesima mendengar jawaban menantunya yang sangat bijak, Udin juga baru ingat jika cucunya belum dikurbani atau Aqiqah dengan seekor kambing karena Cahaya anak perempuan.


"Baiklah, Bapak setuju dengan usul kamu. Nanti kita rundingkan lagi dengan yang lain, Bapak mau berangkat ke pasar dulu."


Setelah mengucapkan hal itu, Udin bersiap berangkat ke pasar. Ketika lelaki itu melewati istri serta cucunya, dia menyempatkan diri untuk mencium dua orang yang amat disayanginya.


Udin berangkat dengan mobil pick up dengan hati yang bahagia tentunya. 


.


.


.


Ketika memasuki kamar, mata Satria tertuju ke mangkuk bubur yang masih utuh. Hal itu berarti istrinya tidak memakan bubur itu. 


Satria segera mengambil mangkuk itu dan memakannya, bagi Satria makanan adalah rezeki yang tidak boleh disia-siakan. Pernah merasakan kesusahan materi di awal pernikahan telah mendidik lelaki itu untuk menghargai apa yang telah ia miliki, karena tidak mudah untuk mendapatkan itu semua. 


Mala hanya menatap diam suaminya, ia kasihan dengan lelaki yang kini tengah duduk ditepi tempat tidur sambil memakan bubur sisa miliknya. 


"Alhamdulillah, kenyang, rezeki," ucap Satria bersyukur sambil menatap sekilas sang istri. 


"ya kenyang, kalau semangkuk bubur habis dimakan," kata Mala dengan cemberut. Dia paham kalau suaminya tengah menyindirnya yang tidak menghabiskan makanan itu. 


"Orang malas, selalu rugi," celetus Satria setelah meletakkan mangkuk kosong dan meminum air putih. 


Mala membuang wajahnya mendengar ucapan sang suami. 


"Nur, aku mau berbicara," ucap Satria tiba-tiba sambil menatap istrinya dengan serius.


"Iya, ngomong aja, Kak. Aku masih menjadi pendengar yang baik," balas Mala. 

__ADS_1


Satria tersenyum kecut mendengar jawaban istrinya.


"Nur, Bapak tadi bilang mau menyunat Cahaya dan… ," ucapan Satria dipotong oleh sang istri. 


"Gak boleh, Kak! Cahaya itu masih kecil, lagian bagian mana yang mau dipotong? Aku gak mau!" balas Mala tidak setuju. 


Satria membuang nafas panjang kadang istrinya pintar. Namun kadang tidak, membuat kata sabar harus senantiasa menjadi teman abadi buatnya. 


"Nur, hukum menyunat anak perempuan itu wajib. Aku juga mau sekalian aqiqah Cahaya, menyembelih seekor kambing. Masalah ini 'kan pernah kita pelajari ketika di pondok."


Mala terpaku akan kata-kata yang keluar dari mulut suaminya, memang hukum menyunat anak perempuan wajib. Namun sekarang para Dokter tidak melakukannya, karena berbahaya akan nafsu syahwat untuk sang anak ketika menikah nanti. 


Ada sebuah penelitian yang menemukan hal yang luar biasa ketika seorang anak perempuan yang disunat ketika kecil dengan yang tidak disunat. 


Ketika mereka menikah nanti, anak yang disunat akan kehilangan gairahnya kepada pasangannya. Berbeda dengan anak yang tidak disunat, dia akan lebih agresif kepada pasangannya. 


Keharmonisan dalam rumah tangga terdapat pada hal pemberian nafkah batin, hal ini yang membuat para Dokter atau tenaga medis enggan untuk menyunat anak perempuan.


"Tapi, Kak… ," Satria memotong ucapan istrinya.


"Nur! Tanggung jawab Cahaya kita pikul hingga akhir! Aku nggak mau putri kita nanti menarik kita ke dalam Neraka karena kita tidak memenuhi kewajiban terhadapnya," jelas Satria yang tidak mau dibantah oleh istrinya.


"Tapi, siapa yang nanti akan menyunat Cahaya?" tanya Mala dengan tatapan sendu.


Satria diam mematung, ia tidak sampai sejauh itu memikirkannya. Karena yang di pikiran oleh lelaki itu adalah kewajibannya kepada sang putri. 


"Siapa yang bisa menyunat, Cahaya?" batin Satria. 


Satria pun bingung sendiri, karena ia tidak membuat daftar nama yang mungkin bisa dan mau menyunat putrinya mereka. Sampai teriakkan istrinya membuatnya terkejut. 


"Dokter itu pasti bisa!" pekik Mala kegirangan.


"Siapa?" tanya Satria penasaran.


"Dia… ."


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2