Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Sebuah Tragedi


__ADS_3

"Calon apa?" tanya Azzahra yang ikut duduk disamping sang putranya dan mendengar sedikit pembicaran mereka berdua. 


Azzam menjadi kikuk dibuatnya, akan tetapi senyum diwajahnya memperlihatkan bahwa pemuda itu senang akan pertanyaan uminya tersebut.


"Itu, Mi. Katanya Azzam punya calon …," ucapan Satria dipotong oleh Azzam dengan cepat.


"Calon Mantu buat, Umi."


Azzahra menatap nanar putranya tersebut dan memperjelas ucapan yang tadi diucap. 


"Calon Mantu? Maksudnya Menantu buat, Umi?" tanya Azzahra yang mendapatkan anggukkan kepala Azzam.


Namun, seketika tawa lepas Azzahra terdengar. 


"Hahaha, sudahlah, Zam. Jangan suka bercanda," kata Azzahra sambil menahan tawanya. 


Azzam yang merasa berkecil hati akan ucapan uminya yang mengira bahwa ia hanya bercanda tersenyum kecut.


"Umi, aku benar-benar ada calon Mantu buat, Umi. Nanti aku kenalkan sama Umi buar percaya," jelas Azzam yang mendapatkan tatapan indimindasi dari uminya. 


Satria penasaran akan yang diucapkan oleh Azzam akhirnya bertanya, "Memang ada yang mau sama kamu, Zam?"


Azzam kesal dengan pertanyaan Satria dan kemudian membalas ucapan suami adiknya itu dengan ketus. 


"Punyalah, aku ini tampan dan punya uang. Sudahlah, aku mau ke kampus. Ingat Sat, ini hasil bulan tadi. Bulan ini belum aku hitung," jelas Azzam seraya berlalu dan menyempatkan diri mencium tangan uminya berpamitan.


Setelah kepergian Azzam, Azzahra menatap Satria yang tengah serius menatap lembaran kertas yang tadi diserahakan Azzam.


"Sat, apa yang kamu lihat?" tanya Azzahra penasaran. 


"Oh, ini, Umi. Hasil pemasukkan minimarket," jelas Satria seraya menyerahkan lembaran tertas itu kepada uminya. 


Ditengah membuka lembaran kertas yang diberikan Satria, Azzahra bertanya, "Sat, kamu yakin atau tidak dengan ucapan Azzam, tadi?"


Satria terkekeh kecil membuat Azzahra mendongak dan menatapnya tajam. 


Satria menjadi salah tingkah dan mengaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal seking kikuknya. 


"Kamu yakin atau tidak dengan ucapan Azzam tadi?" tanya Azzahra lagi. 


Satria menggelengkan kepala, Azzahra yang melihat hal itu membuang nafas panjang. 


"Umi, merasa jika tidak akan ada wanita yang mau sama Azzam? Kamu tahu bukan, Sat. Jika sifat Azzam terlalu kekanak-kanakan," lirih Azzahra dengan mata yang sendu.


"Bukan kekanak-kanakan? Tapi juga bisa bikin anak," batin Satria. 


***


Malam harinya, seperti biasa. Satria, Mala, Udin, dan Azzahra menikmati makan malam bersama setelah shalat isya berjamaah tentunya. 

__ADS_1


Kini mereka tengah kembali ke kamar masing-masing karena lelah akan aktivitas hari ini, terlebih Udin yang harus bolak--balik dari rumah ke pasar mengurus tokonya dan mengecek swalayan milik istrinya.


Walaupun ada Azzam, akan tetapi pemuda itu kadang sibuk dengan kuliahnya. 


Entah mengapa, malam ini perasaan Satria gelisah. Setelah menidurkan istrinya, ia turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi guna mengambil air wudhu. 


Jika, sedang gundah seperti ini? Satria akan menenangkan hatinya dengan membaca Al-Qur'an hingga hati dan pikirannya menjadi tenang.


Waktu terus berlalu tanpa Satria sadari, hingga suara kokokan ayam milik tetangga terdengar masuk ke kamar membuat Satria menatap kearah jam dinding.


Betapa terkejutnya Satria melihat telah pukul 02.00 dini hari, mungkin karena larutnya ia dalam lantunan ayat-ayat suci sampai tidak menyadari hal tersebut.


Satria menatap ke arah tempat tidur di mana istrinya yang masih terlelap, ia penasaran karena bisanya sang istri  akan bangun dan mengerjakan sholat sunah dua rakaat. 


Betapa terkejutnya Satria ketika mendapati istrinya yang tertidur dengan wajah penuh akan keringat. Ia lalu mengelap keringat tersebut dengan tisu, akan tetapi ia dikejutkan akan gerakan tubuh sang istri yang menenang tangannya dengan kuat sambil bergumam. 


"Ibu! Ibu! Ibu! Aku belum bisa bersamamu!"


Tubuh Satria seketika menegang, ia lalu membagunkan istrinya karena sudah dipastikan bahwa sang istri bermimpi bertemu ibunya. 


"Nur!" panggil Satria saraya menggoyangkan tubuh sang istri. 


Tidak berapa lama, Mala terbagun karena merasakan goncangan ombak hingga ke dunia nyata. Wanita hamil itu mengucek-ngucek matanya dan ketika ia melihat sang suami membuatnya langsung memeluk lelaki itu sambil menangis.


"Kakak," panggil Mala disela tangisnya. 


Satria hanya mampu membalas pelukkan istrinya sambil memgusap-usap punggung wanita hamil itu agar merasa tenang.


Satria tetap mengusap-usap punggung istrinya hingga teriakan nyaring sang istri membuatnya terperanjat. 


"Kakak! Perutku sakit!"


Satria panik segera menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuh istrinya dan memegang perut sang istri.


Namun, ada hal aneh yang Satria temukan.


"Nur, kamu ngompol?" tanya Satria polos yang mendapatkan tamparan dari sang istri.


Plakkk… .


"Panggil 'kan Umi dan Bapak!" teriak Mala nyaring membuat Satria segera berlari  menuju kamar kedua mertuanya. 


Ketika di depan pintu kamar mertuanya, Satria menggedor-gedor pintu itu tanpa ampun membuat penghuninya keluar dengan raut wajah marah. 


"Ada apa?" tanya Azzahra kesal. 


"Umi! Nur!  Ngompol! Sakit perut!"


Satria bingung mau berbicara seperti apa hingga ia meninggalkan uminya yang mlonggo ambang pintu.

__ADS_1


Pikiran Satria kalut dan panik, membuat ia tidak mampu berpikir dengan baik. Satria kembali lagi ke kamar dan melihat istrinya terbaring. 


Satria segera menghampiri dan menanyakan kembali keadaan istrinya itu. 


"Nur, perutmu masih sakit?" tanya Satria dengan perasaan was-was. 


 


Namun, tidak ada sahutan dari sang istri membuat Satria semakin ketakutan dan berteriak memanggil kedua mertuanya.


Bapak dan uminya segera menghampiri dan melihat keadaan Mala dengan seksama. 


"Mala kenapa?" tanya Udin yang masih penasaran karena penjelasan istrinya yang kurang jelas tadi. 


"Nur, bilang dia sakit perut, Pak.  Terus, aku lihat dia ngompol di tempat tidur," jawab Satria apa adanya. 


Udin menyuruh Azzahra memeriksa dan wanita itu mengatakan, "Ini bukan air seni. Tapi, air ketuban!."


Udin yang mendengar hal itu segera berlari menuju keluar dan memerintahkan Satria mengangkat Mala. 


"Satria! Gendong Mala! Bapak tunggu di luar," jelasnya sambil berlalu tergesa-gesa. 


Satria masih bingung akan apa yang terjadi hingga sang umi berteriak mengejutkannya.


"Satria! Angkat Mala! Kita harus kerumah sakit! Sekarang!"


Walaupun masih bingung, akan tetapi Satria tetap menjalankan perintah tersebut. Ia mengangkat tubuh istrinya yang tidak sadarkan diri dalam keadaan basah yang ia kira karena buang air kecil. 


Lelaki itu membawa istrinya sampai masuk kedalam mobil seperti perintah sang bapak yang ternyata telah menunggu di dalam mobil. 


Setelah Satria masuk datanglah uminya yang tadi sempat mengunci pintu. Udin melajukan mobil yang dikendarainya dengan kecepatan tinggi. Pikiran lelaki itu tertuju kepada Mala yang tidak sadarkan diri.


Hingga mereka sampai di rumah sakit, mobil yang dikendarai oleh Udin berhenti tepat di depan ruang IGR. Mobil mereka dikerumuni oleh staf yang berjaga di sana. 


"Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang suster mendekat. 


"Tolong putri saya! Dia mau melahirkan, tapi kehilangan kesabaran!"


 Para staf yang mendengar penjelasan singkat Udin segera menaruh tubuh Mala di atas bangkar dan membawanya masuk kedalam. 


"Ya Robb, selamatkan 'lah putriku," batin Udin. 


.


.


.


...Bersambung  ••• •...

__ADS_1


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2