
"Maksud, Kakek," tanya Satria dengan tubuh gemetar.
"Kakek teman baik almarhum opa Malik?" tanya Mala lembut yang mendapat anggukkan kepala sang kakek.
"Jadi kakek sudah mengenal Kak Satria?" tanya Mala lagi.
"Kakek mengenalnya ketika masih kecil, sekarang sudah dia sudah bisa buat anak kecil."
Mala hanya terkekeh pelan mendengar pernyataan sang kakek.
"Pantas, kakek tadi terkejut setelah mendengar nama asli Kak Satria."
"Emangnya, kelihatan sekali ya?" tanyanya yang mendapat anggukkan kecil Mala.
"Kakek kemari ada apa?" tanya Mala penasaran karena tidak biasanya sang kakek datang tiba-tiba pasti ada maksud dan tujuan tertentu.
"Menjenguk kamu 'lah," jawabnya sambil mencubit kecil hidung sang cucu akibat gemas.
"Jangan sakiti istriku!" ucap Satria tidak terima akan perlakuan sang kakek.
"Cemburu itu boleh, tapi pada tempatnya. Apalagi kakek ini mahramnya istrimu," balasnya membuat Satria terdiam
Akhirnya mereka bercerita banyak hal, Udin dan Azzahra pamit undur diri untuk pulang guna mempersiapkan kepulangan Kakek Sulaiman. Atau lebih tepatnya Kakek Sulaiman yang mengusir pasangan suami istri itu karena ingin menghabiskan waktu bersama sang cucu.
Setelah kepergian Azzahra dan Udin, Mala yang sudah makan sore dan diberi obat kembali tertidur karena memang harus banyak istirahat. Walaupun Satria tidak ingin istrinya yang tertidur habis sholat ashar karena tidak baik, menurut sabdah Rasulullah apa lagi tidur habis sholat ashar akan mendatangkan perasaan malas buat Manusia.
Namun, setelah mendapatkan penjelasan bahwa istrinya memang harus kembali tertidur supaya mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena operasi serta mempercepat proses penyembuhan membuat Satria akhirnya menurut.
Kini tinggal sang kakek dan Satria yang berada di ruangan itu. Mereka duduk berhadapan seolah ingin berdebat saja, sang kakek mulai membuka suara.
"Kamu sudah lama menjadi suami cucuku?"
Satria merasa diintimidasi akan kata-kata tersebut akhirnya menjawab, "Sudah satu tahun lebih, itulah akibatnya jika punya cucu tidak diperhatikan. Jadi, tidak tahu akan berita terbaru."
Sang kakek tersenyum tipis mendengar jawaban Satria seolah-olah menyudutkannya. Karena ia tipe orang yang suka menjebak lawan bicaranya ini merupakan sebuah tantangan buat lelaki paruh baya itu.
"Karena Kakek tidak tahu, makanya bertanya? Apakah itu salah?" balasnya.
__ADS_1
"Tidak salah, akan tetapi itu menunjukkan bahwa kakek bukanlah kakek yang baik untuk cucunya."
Satria sangat geram akan sang kakek yang menurutnya tidak peduli akan keadaan sang cucu, terlebih lagi Satria yang baru mengetahui jika kakeknya itu adalah teman baik almarhum opa Malik.
Namun, ada satu hal yang membuatnya bingung. Kakek Sulaiman ini kakek dari garis keluarga yang mana dengan sang istri.
"Emangnya seperti apa cara memperhatikan orang yang disayang menurutmu?" tanyanya yang mulai menjalankan serangan terhadap Satria.
"Kalau kita sayang kepada seseorang? Kita harus tahu keadaannya, bagaimana perasaannya dan yang paling penting kunjungi orang yang kita sayangi. Kita harus menunjukkan kepedulian terhadap orang yang kita sayangi baik dengan lisan apalagi perbuatan," balas Satria dengan bangganya akan argumennya sendiri.
Kakek Sulaiman hanya tersenyum tipis seolah-olah mendapatkan sebuah emas di dalam lubang yang sedang ia gali.
"Jadi, menurut kamu? Saya yang datang kesini dan berada di hadapanmu memiliki maksud apa?"
Satria bungkam ketika mendengar pertanyaan tersebut, seolah memakan buah simalakama membuat Satria seakan ingin terjun ke jurang yang dalam atau menggunakan jurus menghilang jika bisa.
"Sudahlah, saya juga sudah tahu akan jawabnya, karena sudah kamu jawab tadi. Saya ingin pamit dulu soalnya sudah sore, pagi nanti saya kembali menjenguk, Sari."
Satria menangkap kata-kata terakhir dari ucapan sang kakek yang menurutnya bisa dijadikan senjata untuk menyerang lelaki paruh baya tersebut.
Kakek Sulaiman tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan Satria, "Nama Sari diambil dari nama terakhir cucuku yaitu Nur Mala Sari. Sama sepertimu, saya juga memiliki panggilan kesayangan yaitu Sari yang memiliki arti manis."
Setelah mengatakan hal tersebut, Kakek Sulaiman berlalu meninggalkan Satria yang diam seribu bahasa. Senyum kemenangan terbit dengan indah di wajah lelaki paruh baya itu.
"Jangan pernah anggap remeh lawan bicaramu jika kamu belum mengenalnya," batinnya.
***
Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah seminggu Mala berada di rumah sakit. Saat ini wanita itu sudah bisa keluar dari tempat yang menurutnya sangat menyebalkan. Mala yang belum boleh melepas infusan kesulitan untuk mengambil air wudhu, akhirnya tayamum adalah pilihan yang tepat.
Tayamum merupakan cara alternatif lain untuk bersuci. Biasanya tayamum bisa dilakukan jika ada unzur atau sebab yang kuat untuk bisa melakukan hal tersebut, contohnya Mala yang memang belum boleh terkena air secara langsung dikhawatirkan berbahaya untuk dirinya disebabkan oleh impusan yang tertancap di tangannya bisa saja terinfeksi.
Akhirnya hari kemerdekaan untuk wanita hamil itu datang, ada istilah 'Rumahku, syurgaku'. Rumah adalah tempat yang paling nyaman buat seseorang tinggal apa lagi dihuni oleh orang-orang yang terkasih.
Namun, setelah pulang dari rumah sakit hingga sampai ke rumah. Suaminya Mala menjadi super posesif, tidak boleh ini dan itu membuat wanita hamil itu kecewa.
"Kalau seperti ini? Apa bedanya dengan di rumah sakit?" batin Mala kecewa.
__ADS_1
"Jangan cemberut, nanti imutnya hilang loh," ejek sang kakek membuat wajah cucunya semakin tidak enak dipandang.
Kakek Sulaiman masih menemani cucunya Mala atau panggilan kesayangannya adalah Sari. Ada sesuatu yang ingin lelaki paruh baya itu sampaikan. Namun, menunggu keadaan yang tepat saja.
"Jangan mengucapkan kata-kata seperti itu, Kek. Ingat, ucapan adalah doa," celetus Satria mengingatkan lelaki paruh baya tersebut. Satria masih dendam dengan kakek Sulaiman yang telah membuatnya kalah telak waktu itu dan selalu ingin menjatuhkan lelaki paruh baya tersebut, akan tetapi sangat sulit.
Sang Kakek tidak menimpali ucapan suami cucunya tersebut, ia hanya melangkah mendekati tempat tidur dimana Mala yang duduk sambil bersandar dengan nyaman.
Wanita hamil itu disuruh istirahat total, di tembah suaminya yang prosesif membuat Mala sed di tempat tidur saja. Apapun yang dibutuhkan oleh wanita hamil itu akan diberikan oleh sang suami. Mala hanya bangun dari tempat tidur hanya untuk ke kamar mandi sisanya ia lakukan di atas tempat tidur.
Kini Kakek Sulaiman duduk di tepi tempat tidur sang cucu sambil mengusap pelan kepala gadis yang dulu masih kecil, namun sekarang telah besar dan mengandung. Dengan penuh kelembutan kakek Sulaiman mengajak cucunya berbicara dari hati ke hati.
"Sari, kamu tahu 'kan? Kenapa Kakek memanggilmu dengan nama tersebut?"
Mala hanya mengangguk menanggapi ucapan sang kakek, karena dulu kakeknya sudah pernah menjelaskan hal tersebut.
"Sari, ada sesuatu yang pernah terucap oleh Kakekmu Ibrahim. Hal tersebut bisa kakek sebut sebuah janji, karena beliau mengucapkan kepada Kakek dan juga kedua putrinya Azzahra Umi kamu dan Ibu kamu Azizah. Almarhum adalah kakak yang baik terhadap kakek, kamu tahu itu bukan? Akan tetapi kami memiliki karakter yang berbeda membuat pandangan orang terhadap kami juga berbeda sama seperti Umi kamu dan Ibu kamu. Mereka memang saudari dan lahir dari orang tau yang sama, akan tetapi sifat dan watak mereka berbeda."
Satria dan Mala mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh sang kakek, lalu memahami kemana arah pembicaraan ini berakhir.
"Emangnya, apa yang dulu pernah Kakek Ibrahim katakan kepada, Kakek?" tanya Satria tidak sabaran.
"Menikahkan Nur Mala Sari dengan keturunan Kakek," jawabnya dengan sorot mata serius.
Deg… .
"Apa?"
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1