
Keadaan diruangan itu mencekam, Dokter yang datang dan melihat keadaa Mala berinisiatif memerikan suntikkan penenang. Dilihat dari amukkan Mala yang sampai menyakiti dirinya membuat hati Satria serasa diiris-iris.
Dia berusaha untuk kuat menjalani semua ini, akan tetapi jika keadaan istrinya seperti sekarang? Entah, ia bisa atau tidak. Sumber kekuatan terbesarnya adalah sang istri.
"Saya akan panggilkan Staf untuk membantu," jelas sang Dokter sambil pergi meninggalkan pasiennya itu.
"Nur, aku mohon jangan seperti ini," lirih Satria dengan lelehan air mata melihat keadaan istrinya yang tadi mengamuk dan kini diam dengan tatapan mata yang kosong setelah disuntik obat penenang oleh sang Dokter.
"Salah apa aku Tuhan? Sampai Engkau uji seperti ini," lirih Satria yang mulai putus asa.
"Nak, Allah sedang jatuh cinta kepada kita. Kamu jangan takut, Allah tidak akan menguji Hamba-Nya diluar batas kesanggupan," jelas Udin sambil mengusap pungung sang menantu yang kini terduduk lemas dengan memeluk Mala.
Tidak lama kemudian Dokter tadi datang dengan staf sambil membawa bangkar. Tubuh Mala dibawa menuju ruangan yang lain untuk diperiksa.
Namun, ketika para Dokter mulai menjalankan tugasnya. Mala tiba-tiba bangun dan berteriak dengan histeris membuat semua orang panik sektika.
"Nur! Istigfar!" teriak Satria sambil memeluk sang istri yang meraung-raung dan metonta dipelukkannya.
"Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim … ."
Satria melafaskan asmahul husna, dia berharap istrinya mau mengingat siapa Robb mereka. Sampai akhirnya sanh istri terdiam dan hanya menangis.
"Kak," lirih Mala dengan suara cigukkan karena menagis sampai kedua matanya memerah dan sembam.
"Ikhlas 'kan Nur, Allah sedang jatuh cinta kepada kita," jelas Satria menenangkan sang istri.
"Mohon maaf, Pak. Izinkan kami untuk melakukan tugas," jelas seorang Dokter yang sedari memeperhatikan pasangan suami istri itu.
"Saya tidak apa-apa, Dok," jelas Mala menolak sang Dokter untuk memeriksanya.
Sang Dokter hanya mengangguk, lalu kemudian tetap menjalankan tugasnya. Namun, ketika Dokter itu mau menyentuh tangan Mala. Wanita itu menarik tangannya dan menggeleng. Satria yang paham betul jika istrinya tidak akan pernah mau disentuh selain mahromnya meminta suster yang berada didekatnya untuk memeriksa keadaan sang istri.
Setelah dirasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Dokter dan staf yang lain keluar dari ruangan itu. Disusul oleh Mala dan Satria yang ingin pulang. Karena menurut mereka, tidak baik lama-lama di rumah sakit.
Namun, ketika mereka ingin memasuki area pakir. Mereka teringat akan sang putri yang belum dijemput.
__ADS_1
Satria segera menelpon Tasya dan meminta wanita itu untuk mengantarkan putri mereka diarea pakir. Sebab Satria tidak ingin masuk kembali kearea rumah sakit.
"Kalian sudah mau pulang?" tanya Tasya sambil menyerahkan Cahaya kepada kedua orangtaunya.
Satria hanya mengangguk kecil dan menerima sang putri. Sedangkan Mala duduk didalam mobil, perasaannya pusing dan takut nanti malah pingsan. Akhirnya memilih untuk bersandar dikursi mobil.
"Makasih, Sya. Aku titip salam sama Bapak dan Umi. Maaf jika kami hanya bisa menjenguk sebentar saja," jelas Satria menyesal akan keadaan.
"Iya, nanti aku sampaikan. Hati-hati dijalan ya."
Setelah pamitan dengan sang kakak ipar karena Tasya adalah istri dari Azzam abangnya. Mereka melanjutkan untuk pulang. Tidak ada pembicaraan hingga mereka sampai dirumah.
Mala langsung masuk kedalam rumah dan menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa sangat lengket dan tidak nyaman. Wanita itu ingin segera menyegarkan tubuhnya kembali.
Satria yang melihat sang istri berlalu, mengendong sang putri masuk dan menjaganya sebentar sambil menunggu sang istri.
Lama Satria menunggu, sudah hampir sejam lamanya. Namun, sang istri tak kunjung keluar. Hingga ia menyusul istrinya kekamar dan mendapatkan wanita itu tertidur pulas diatas tempat tidur.
"Lihat, Cha. Bubumu lagi bobok cantik."
Sebab lelaki itu tidak akan pernah meninggalkan sang putri sendirian tanpa ada penagwasan.
"Nur, bangun, Nur! Ini sudah sore. Tidak baik tidur diwaktu ini," jelas Satria sambil menggoyangkan tubuh istrinya.
Namun, tiba-tiba sang istri kembali meraung-raung denan histeris samapi Satria kewalahan. Terlebih sang putri yang memangis sebab ketakutan membuat Satria bingung harus berbuat apa.
Akan tetapi, ditengah kebingungan dan ketidak berdayaan Satria. Allah mengirimkan bantuan. Terdengar suara ketukan pintu dan Satria segera membukkakan pintu.
Nampak wanita yang sangat ia kenal, tanpa berbicara Satria menyerahkan sang putri untuk digendong wanita itu. Lalu menyusul istrinya yang barada didalam kamar untuk ia tenangkan.
"Apa yang terjadi?" tanyanya terkejut melihat keadaan Mala yang seperti orang kesurupan. Dengan ilmu yang ia miliki, kemudian membacakan ayat-ayat suci Al-Quran hingga Mala mualai tenang kembali.
"Ada yang terjadi, Bang?" tanyanya penasaran.
"Kami menerima musibah," lirih Satria tak kuasa menahan pilu didalam hatinya. Tagisnya pecah melihat keadaan istrinya yang memperhatinkan sama seperti ketika melihat keadaan sang Bapak mertua.
__ADS_1
Rambut yang acak-acakkan, belum lagi tubuh yang tergores karena mencakar diri sendiri. Membuat hati Satria sebagai suami bagaikan diiris-iris dengan sembilu. Perih dan pedih, kedua hal itu yang ia rasakan saat ini.
"Aku tidak mengerti kenapa Mbak Mala bisa seperti ini. Tapi, aku ingin membantu," jelasnya.
Satria menatap wanita yang kini menggendong putrinya dengan tatapan sendu. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi? Seolah telah kehilangan arah tujuan.
"Tolong 'lah kami," pinta Satria penuh harap.
Wanita itu tersenyum dengan manis menanggapi permintaan Satria. Dia mendekat dan meletakkan Cahaya diatas sofa.
"Insya Allah," ujarnya dengan suara yang lembut.
"Suci? Kamu kah itu?" tanya Mala sambil menatap nanar wanita yang kini tengah dudul disofa yang ada duruangan tersebut.
"Iya, Mbak. Ini aku," jawabnya dengan senyuman.
Namun, beberapa menit kemudian. Air muka diwajah Mala berubah. Wanita itu tiba-tiba mencaci maki Suci yang kebetulan mampir kerumah Satria dan Mala untuk menjeguk Cahaya.
Sebab, waktu dia bertemu beberapa waktu lalu belum berjumpa dengan balita yang mengemaskan itu. Sehingga ia memutuskan untum mampir sebentar. Namun, hal yang diluar dugaan yang terjadi membuatkan memiliki keinginan untuk membantu pasangan suami istri itu.
"Mau apa kamu kesini, hah! Aku yakin semua ini ulah Bapakmu! Mami dan Papi mengalami kecelakaan!"
Tuduhan yang menyakitkan dihujamkan kepadanya membuat wanita itu hanya menangis dalam diam. Dia dan juga sang ayah terlah berusaha sekuat tenaga untuk berubah. Namun, masih saja dipadang sebelah mata.
"Aku harus bagaimana? Apakah aku menolong mereka? Ataukah aku pergi, saja?" batin Suci.
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1