Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Pinangan Tanpa Sengaja


__ADS_3

"Apa!" teriak Azzam yang berada diambang pintu. 


Betapa terkejutnya pemuda itu melihat uminya menangis sambil meminta Tasya menjadi putrinya, pikiran Azzam berkeliaran Kemana-mana. Dia berpikir jika permintaan uminya sebagai bentuk pinangan. 


"Abang! Bisa tidak, sih! Jangan teriak-teriak? Kasihan Cahaya jadi terkejut," pekik Mala kesal kepada sang abang.


Untung ada Satria disana, suaminya itu memujuk Mala dan membawa Cahaya masuk kedalam kamar meninggalkan ruangan tamu. 


Setelah pasangan itu masuk, ruangan tamu diselimuti oleh awan hitam yang pekat.


Azzam menunjukkan sisi negatifnya dihadapkan Tasya, membuat wanita itu menjadi takut. 


Dengan langkah pasti, pemuda itu mendekat dan berdiri sambil melipat tangannya didada lalu menatap sang umi nanar. 


"Ada apa?" tanya Azzahra santai menanggapi tingkah putranya itu.


"Umi, sadarkah telah mengatakan sesuatu yang tidak pada tempatnya?" sindir Azzam dengan tajam.


"Semua sudah pada tempatnya! Umi berbicara menggunakan mulut," balas Azzahra sengit. 


Tasya bingung harus seperti apa? Berada di antara ibu dan anak yang sepertinya mau perang, membuat wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa. 


Sehingga tidak berapa lama kemudian datang Udin yang memberi nafas lega untuk Tasya.


"Bapak Azzam, ada yang bisa saya bantu?" tanya Tasya sambil menghampiri lelaki itu.


Udin bingung akan pertanyaan Dokter wanita itu, akan tetapi ketika ia melihat ke arah istri dan anaknya. Baru Udin tahu apa yang terjadi.


"Tidak perlu Bu Dokter, semuanya sudah selesai," jelas Udin dengan ramah. Namun disalah artikan oleh sang istri.


"Bagian mana yang sudah beres? Ruangan ini masih belum selesai dibersihkan!" celetus Azzahra sewot. 


"Disini 'kan ada kalian! Bapak sudah capek mau masuk dulu."


Setelah mengatakan hal  itu, udin pergi berlalu begitu saja. 


Tasya semakin bingung setelah ditinggal Udin,  hingga akhirnya ia pamit undur diri.


"Mohon maaf, Ibu Azzam. Saya izin kembali," jelasnya sopan sambil menghindari tatapan mata Azzam. 


"Kenapa buru-buru pulangnya? Nak, Tasya makan  malam disini, ya?" pinta Azzahra mencegah Tasya untuk pulang.


"Umi! Ini rumah Mami Satria. Bukan rumah Umi," jelas Azzam mengingatkan sang umi karena mereka berada dirumah Mami Satria.


Azzahra menjadi malu dan akhirnya tertunduk, Tasya yang melihat hal itu menjadi tidak tega. Dia mendekati Azzahra dan duduk di samping wanita tersebut, lalu berkata, "Nanti, saya mampir ke rumah Ibu Azzam."


Azzahra yang mendengar kata-kata itu segera mendongak menatap Tasya dengan mata yang berbinar bahagia. 


"Beneran?" tanyanya memastikan yang mendapatkan anggukkan kepala Tasya. 

__ADS_1


Pinangan yang tidak sengaja ia ucapkan tadi, menjadi kenyataan.


"Alhamdulillah, semoga dia bisa menjadi putriku nanti," batin Azzahra. 


.


.


.


Waktu berlalu begitu cepat, hingga tidak terasa sudah setahun usia Cahaya. Putri Mala dan Satria itu sudah bisa berjalan. 


Banyak hal yang mereka lalui bersama sang putri, canda dan tawa selalu menemani mereka. 


Mala sangat bersyukur, ternyata menikah dengan Satria adalah jalan terbaik dalam hidupnya. 


Dirinya yang dulu selalu diselimuti dengan perasaan sedih dan kesepian, kini bisa merasakan apa yang disebut dengan kebahagiaan. 


Menikah hanya karena sebuah mimpi sang ibu, menjadikannya seperti ratu. 


"Kak, happy anniversary ya," ucap Mala sambil memeluk suaminya. 


Satria terkekeh melihat tingkah manis istrinya itu. 


"Mau dirayakan tidak?" tanyanya menggoda sang istri.


Mala segera menggeleng cepat, apa pun yang ditawarkan oleh suaminya itu selalu berakhir dengan ibadah yang paling mulia. 


Ketika Mala mendengar kata healing, ingatanya kembali ketika suaminya membawanya ke penginapan yang berada di tepi pantai. 


"Tidak, Kak. Terimakasih," jelas Mala menolak.


"Sampai kapan kalian akan mengobrol disana?" tanya Azzahra yang sudah berpakaian rapi sambil menggendong Cahaya. 


"Kami sudah siap, Umi," jelas Satria. Mereka sudah siap dari subuh tadi, akan tetapi karena uminya yang nerves sendiri dengan penampilanya dan Cahaya membuat Mala dan Satria harus menunggu wanita itu.


"Cahaya ikut Bunda dulu, ya," jelas Azzahra kepada cucunya dan menyerahkan Cahaya kepada Mala. 


"Cahaya cantik sekali ya, Kak," terang Mala sambil menatap suaminya yang mendapatkan anggukkan kepala. 


"Sudah,  nanti saja memujinya. Ayo kita berangkat, nanti telat," terang Azzahra sambil berlalu menuju pintu keluar. 


"Umi, Bapak mana?"


Pertanyaan Mala menghentikan langkah Azzahra, ia baru teringat akan suaminya.


"Mas, ayo keluar! Kita sudah mau terlambat ini!" teriak Azzahra. 


Tidak berapa lama, Udin keluar dengan perasaan yang tidak menentu.

__ADS_1


Mala dan Satria yang melihat penampilan sang bapak berusaha menahan tawa mereka dan akhirnya memilih berlalu. Setelah diluar mereka tertawa lepas, sang Cahaya ikut juga tertawa karena mellihat orang tuanya. 


"Ra, aku malu seperti ini," lirih Udin.


"Kenapa harus malu, Mas? Ini baju bersejarah," jelas Azzahra sambil mengatakan kata bersejarah.


Udin hanya mampu menelan silvernya pahit, walaupun ia enggan mengenakan baju koko yang dipilihkan oleh sang istri. Namun ia juga tidak ingin membuat wanita itu kecewa,, karena baju yang ia pakai adalah baju peninggalan almarhum sang mertua. 


"Sudah, ayo kita berangkat," ajak Azzahra sambil menarik tangan suaminya itu. 


Mereka semua masuk ke mobil, tujuan mereka ialah ke gedung tempat acara pernikahan Azzam akan dilaksanakan.


Pinangan tanpa sengaja Azzahra waktu itu ternyata diterima baik oleh Tasya, walaupun terhalang restu orang tua Tasya. Karena mereka menginginkan menantu dari kalangan pebisnis. 


Azzam yang merasa diremehkan oleh keluarga Tasya, akhirnya membungkamkan mereka dengan keberhasilannya menjadi pengusaha muda.


Harta warisan yang diwariskan kepadanya telah pemuda itu kembangkan dengan baik. Bukan hanya menjadi swalayan, bahkan supermarket hingga berkembang menjadi mall. 


Harta yang dikelola dengan baik dan bijak, bisa terus dinikmati. Namun harta yang digunakan dengan nafsu dunia, maka semuanya akan habis tidak berbekas. 


Azzam bukan hanya menjadi pebisnis muda saja, ia juga menjadi sarjana dengan nilai tertinggi. 


Sesuatu yang diperjuangkan dengan usaha dan kerja keras pasti akan membuahkan hasil.


Sejak lama sudah Azzam menaruh perasaan suka kepada Anatasya, akan tetapi ia masih merasa belum layak. Sehingga sang umilah yang menarik Tasya untuknya. 


"Umi, sudah datang, Bi?" tanya Azzam kepada abinya.


"Kamu, menikah tanpa Umimu juga tidak masalah," terang Aziz ketus. Dia masih belum siap melihat kebahagiaan mantan istrinya itu. 


Azzam yang mendengar penuturan sang abi hanya tersenyum kecut. Sehingga suara teriakan terdengar nyaring memanggil namanya. 


"Azzam!"


Azzam segera menoleh ke arah suara tersebut, betapa terkejutnya ia melihat penampilan sang bapak.


"Kakek!" pekik Azzam tidak percaya bisa melihat sosok sang kakek di diri bapaknya, hingga ia meneteskan air mata. 


Aziz yang berada disamping Azzam Pun hanya bisa melongo melihat penampilan Udin. 


"Apa benar, dia Udin?" batin Aziz. 


.


.


.


...Bersambung ••• •...

__ADS_1


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2