
Masalah yang datang dalam hidup seorang Manusia pasti memiliki jalan keluar, sama seperti penyakit. Semua penyakit memiliki obatnya, begitu pula dengan yang namanya masalah. Namun, semua tergantung kepada Manusia itu sendiri bagaimana cara menyelesaikannya.
Mala mencoba mengurai satu demi satu masalah yang terjadi, ia mendatangkan Umi dan abangnya untuk melakukan interogasi terhadap Suci. Azzahra tentu dengan antusiasnya menjabangi rumah putrinya tersebut. Mereka telah memiliki bukti yang kuat untuk menyeret Suci ke ranah hukum. Mereka juga telah melakukan banding di pengadilan agar Mala terbebas dari tuduhan yang tersandung kemarin. Semua bukti telah terkumpul dan mengungkapkan fakta bahwa lelaki yang menyerang rumah Mala waktu itu adalah orang suruhan. Salah satu penjahat itu mati sebab memakan racun yang telah disiapkan sebelum melakukan penyerangan.
Orang-orang yang menyerang rumah Mala adalah anak buah dari inisial SS, semua terbongkar dari kesaksian ketiga orang yang melakukan penyerangan tersebut.
Hidup penuh akan ujian dan ujian, semua hal yang menimpa kehidupan seorang Manusia dari lahir hingga mati telah ditulis oleh Sang Robb. Lari ke mana pun akan tetap menemui masalah dan masalah, baik dari lingkungan, maupun dari perasaan sendiri.
Saat ini keluarga Sang pengejar Robb tengah mengatur siasat supaya masalah yang akan mereka pecahkan tidak merembet ke mana-mana dan melibatkan banyak orang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam, ayo masuk," ajak Mala kepada Umi dan abangnya. Baru saja mereka mengantar kepergian Papi Ikbal dan Mami Marissa, kedua orang tua Satria itu harus berangkat ke kantor. Satria telah menjelaskan alasan kenapa ia tidak bisa berangkat dan meminta maminya untuk membantu sang papi di perusahan. Wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu menyanggupi, lagian dia tidak memiliki kegiatan apapun di rumah.
"Ko sepi?" tanya Azzahra ketika baru masuk kedalam dan menjatuhkan bobot tubuhnya.
"Papi dan Mami ke kantor, Umi mau minum?" tanya Mala ramah.
"Nur! Ingat kamu sedang hamil, tidak boleh kelelahan," jelas Satria mengingatkan istrinya.
"Biar Umi saja, sekalian memanggil Suci," jelas Azzahra sambil berlalu.
"Bang, bagaimana kelanjutannya?" tanya Mala antusias. Mereka semalam membahas semua penemuan Azzam lewat telepon, Mala ingin sekali segera menyelesaikan semua masalah ini.
"Nur, sebaiknya kamu istirahat di kamar saja," pinta Satria yang tidak ingin istrinya kelelahan, akan tetapi mendapat gelengan kepala wanita hamil itu.
"Nanti saja kita bahas, tunggu Umi."
Setelah mendengar penolakan halus Azzam mereka semua terdiam, tidak berapa lama Azzahra datang dengan membawa nampan air dan Suci yang mengekor di belakangnya.
"Ayo duduk dulu," pinta Azzahra lemah--lembut kepada gadis itu. Azzahra melihat dengan jelas bahwa gadis itu tengah tegang, keringat yang mengucur deras. Azzahra juga melihat sesekali gadis itu menggigit bibir bawahnya, entah supaya apa? Azzahra juga tidak tahu.
"Kita mulai saja," Azzam membuka pembicaraan. Semua mata tertuju kepada pemuda itu.
"Suci! Atau bisa aku panggil Sulastri!"
__ADS_1
Wajah gadis itu memucat, tiba-tiba tidak sadarkan diri.
Blurrr… .
Mala menyiram wajah Suci dengan air yang dibawa Azzahra tadi membuat Satria murka.
"Nur! Apa yang kamu lakukan?" teriaknya memenuhi seisi ruangan tersebut.
"Dia hanya berpura-pura," jawab Azzahra santai sambil menikmati eting gadis yang duduk di sampingnya.
Satria menatap tajam Uminya tersebut, ia benar-benar dikuasai oleh emosi.
"Umi! Di mana hati, Umi?"
"Satria!" teriak Azzam mulai tersulut emosi juga akibat ucapan yang Satria tujukan kepada uminya.
"Diamlah!" balas Azzahra menguasai kedua lelaki itu.
"Mala! Jelaskan."
"Suci itu hanya berpura-pura, Kak! Coba pakai mata dan logika, masa hanya dibentak langsung pingsan? Tidak masuk akal!"
"Tidak percaya?" tanya Azzahra yang melihat raut wajah keraguan.
"Suci! Jika, kamu masih ingin berpura-pura pingsan? Maka kami akan membawa kamu ke rumah sakit jiwa!" kata-kata penuh penekanan yang diucapkan Azzahra berhasil membuat pergerakan dari gadis itu. Antara ingin menangis dan kesal, Azzam akhirnya membuka suara.
"Umi, kenapa rumah sakit jiwa?"
"Karena gadis ini sudah tidak waras!" balas Azzahra kesal.
"Ueg …,"
"Jangan ueg, ueg. Aku tidak mudah kamu bohongi!" bentak Azzahra kesal.
"Aku di mana?"
__ADS_1
Suci masih saja berpura-pura, akan tetapi setelah itu ia merasakan panas di pipi kirinya. Ternyata Mala menampar wajah gadis itu seking geram, dari kemarin Mala sebenarnya sudah tahu kalau Suci hanya berpura-pura pingsan. Mala mengetahui dari kelopak mata gadis itu yang bergerak-gerak, terlebih ia berfikir tidak masuk akan jika hanya dengan bentakan seseorang bisa pingsan. Kecuali, Satria, suaminya itu percaya saja dengan akting receh gadis itu.
"Nur!"
"Diam!" bentak Mala kepada suaminya dan menatap tajam lelaki itu.
"Dek, durhaka!" Azzam mengingatkan sang adik.
"Ini semua gara-gara kamu!" bentak Azzahra kepada Suci, gadis itu hanya menunduk.
"Lebih baik kamu mengaku saja, dari pada kami bawa kasus ini ke ranah hukum."
Gadis itu tidak bergeming sama sekali, dia masih bungkam tidak mampu mengatakan apapun.
"Bang! Katakan saja semuanya," pinta Mala yang sudah muak dengan gadis dihadapannya tersebut.
"Baiklah! Aku akan mengatakannya!" teriak Suci menyentakkan mereka semua. Suci telah menguatkan hatinya, ia tidak ingin dianggap sebagai biang masalah lagi. Dengan tubuh yang bergetar hebat gadis itu memantapkan hatinya.
"Nama asliku memang Sulastri! Tetapi aku bukan orang yang mengambil harta kalian! Aku mohon jangan salahkan aku lagi, bukan aku yang melakukannya."
Semua orang terdiam, semua menjadi sunyi. Gadis yang pendiam dan tidak banyak tingkah menurut mereka kini tengah menangis tersedu-sedu, ada rasa tidak nyaman di hati Mala. Dia yang tadi berambisi untuk mengungkap siapa Suci, akan tetapi terasa di tampar oleh keadaan yang seperti ini.
"Lalu, siapa yang melakukannya? Dan kenapa atas nama kamu? Jika, memang kamu tidak terlibat? Jelaskan!"
Pertanyaan beruntun yang Satria ucapkan membuat semua orang menatap heran kearahnya, padahal lelaki itu tadi membela Suci. Namun, setelah gadis itu mengakui kebenaran Satria berubah menjadi mengintimidasi gadis yang masih menangis tersebut.
"Aku hanya dijadikan alat untuk balas dendam, aku tidak ikut campur dengan apa pun yang bersangkutan dengan orang itu!" jelas Suci sambil menatap nanar Satria. Mata mereka bertemu untuk waktu yang cukup lama hingga Satria mengeluarkan kata-kata yang membuat gadis yang duduk di hadapannya tergagap.
"Siapa orang itu?"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung … .
*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*