
Satria melihat perubahan dari ekspresi istrinya kemudian bertanya, "Kamu kenapa, Nur?"
Mala menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan suaminya tersebut. Satria hanya mampu membuang nafas panjang, masih ada gurat keraguan di wajah istrinya jika menyinggung masalah sang Mami.
"Semoga saja, Mami istiqomah baiknya," batin Satria.
***
Perasaan lega langsung menyeruak setelah hampir dua minggu lamanya mereka di rumah sakit, kini Mala dan Cahaya Satria telah bisa pulang ke rumah impian.
Mala menerima nama yang diberikan oleh sang mertua yaitu 'Cahaya Satria' karena nama itu sangat memiliki arti buatnya.
Kini semua anggota keluarga berkumpul menikmati acara Tasyakuran sekaligus Tasmiyah (acara pemberian nama untuk bayi) canda dan tawa mengisi acara tersebut. Semua orang berkumpul dan menikmati hidangan bersama-sama setelah pembacaan doa yang dipimpin oleh Aziz.
Hal yang sangat membangakan buat seorang Aziz yang dipilih untuk memotong rambut Cahaya Satria dan mengiringi doa untuk malaikat kecil itu atas permintaan Mala sendiri.
Semua kesalahan yang pernah lalu telah dimaafkan, dan berharap tidak akan pernah terulang lagi. Hanya itu harapan Mala kepada Abinya, Bapaknya dan orang-orang yang pernah memojokkannya.
Satria mendekati istrinya tersebut lalu mencium mesra wanita yang amat berarti dalam hidupnya membuat semua anggota lain mencibir sikap lelaki itu.
"Terus, terus, nggak tahu aku masih jomblo!" teriak Azzam dengan wajah masam membuat yang lain tertawa.
__ADS_1
"Makanya, nikah!" ejek Satria dengan gelak tawa.
Semuanya pun ikut tertawa mendengar gurauan Satria kepada Azzam, hari ini mereka menikmati waktu kebersamaan yang mungkin tidak akan pernah dapat diulang.
Marissa sampai meneteskan air mata dan membuat suaminya memeluk wanita itu.
"Cie, cie, siapa pengantin baru? Siapa yang bermesraan?" ejek Satria kepada orang tuanya dan mendapatkan pukulan dibahu oleh sang umi sambil mengomel.
"Siapa pengantin baru? Kami ini pengantin lama!" pekik Azzahra.
"Kenapa kamu tersinggung, Ra?" tanya Udin yang membuat wajah istrinya memerah padam akibat malu dan akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu.
Melihat kepergian sang istri membuat Udin mengikuti wanita itu dan pamit dengan anggota yang lain.
Aziz yang melihat Udin dan mantan istrinya merasakan sesak di dada, mungkin ia sudah dimaafkan. Namun, ia tidak akan pernah bisa menikmati hari-hari indah seperti dulu ketika bersama mantan istrinya.
Sesal memang datang terakhir, akan tetapi mencoba ikhlas dan menerima semua ketentuan Sang Ilahi itulah yang paling terbaik.
Keseruan demi keseruan itu pun harus berakhir, Marissa dan Ikbal pamit untuk kembali mengurus perusahan yang mulai berkembang bersama Aziz tentunya.
Azzam pun ikut pamit karena akan kuliah, karena studinya yang sedikit lagi selesai membuat pemuda itu menjadi super sibuk.
__ADS_1
Mala dan Satria kembali kekamar mereka, sedangkan Udin dan Azzahra yang mendapatkan tugas berat yaitu merapikan kembali rumah setelah acara tadi. Walaupun sambil mengomel Azzahra tetap mengerjakan semuanya.
"Kapan selesainya ini?" pekik Azzahra yang membuat Udin mendekati wanita itu.
"Pekerjaan tidak akan pernah selesai jika hanya kamu lihatin!" balas Udin jengah dengan sikap istrinya yang baru ia ketahui.
"Ya tidak akan selesai jika cuma diliatin doang, masih nggak sadar kalau aku nyengir dia? Dasar lelaki tidak peka," batin Azzahra.
"Siapa yang tidak peka?"
Deg… .
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya😇*...
__ADS_1