
Malam semakin larut, akan tetapi Mala enggan untuk menutup matanya. Wanita itu memikirkan hari esok yang masih menjadi rahasia Sang Khalik, ia selalu terbayang akan kata-katanya dulu yang meminta Suci menjadi Ibu buat anak-anaknya nanti.
Gunda dan gulana perasaannya jika memikirkan hal itu, makan tidak nyaman, tidur tidak nyenyak. Apapun yang dilakukannya terasa tidak ada artinya jika ia kembali teringat akan nama Suci atau Sulastri.
Mungkin jika ia bisa memutar waktu, mungkin ia ingin kembali kemasa dimana belum mengucapkan kata-kata itu. Namun sayang ia hanyalah Manusia biasa yang mustahil bisa melakukan hal itu.
Satria mengerjap matanya dan melihat jam di dinding, Sudah jam dua."
Lelaki itu duduk bersandar sambil mengembalikan separuh nyawanya kembali, akan tetapi ketika ia melihat ke samping. Satria melihat istrinya yang melamun dan kemudian menegur wanita itu.
"Nur, kamu sudah bangun?"
Mala menatap suaminya dengan senyuman kecil dan menggelengkan kepala, dirinya yang tidak bisa tidur karena memikirkan Suci hingga dini hari.
Satria hanya membuang nafas kasar melihat jawaban sang istri, lelaki itu segera bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, ia sudah mulai terbiasa menggantikan istrinya dalam menjalankan sholat sunah Tahajud.
Lelaki itu merasa sangat nyaman jika bisa solat tahajud dan mengadukan segalanya kepada Sang Robb.
Sebagai Manusia, ada kalanya merasa lelah dan letih jika terus diuji. Namun jika Manusia itu masih menggenggam erat Iman, maka ia akan menjadikan Allah sebagai sandaran.
Mala hanya menatap suaminya hingga selesai sholat dan mendekat serta mencium dahinya dengan lembut hingga air mata wanita itu menetes. Mala membayangkan jika hal manis ini juga suaminya berikan kepada Suci? Dadanya bergemuruh hebat.
"Nur, kamu kenapa? Tolong jangan seperti ini! Jika kamu sakit? Bagaimana dengan Cahaya nanti," pinta Satria pelan. Dia tidak ingin istrinya mengalami baby blues atau depresi yang berlebihan karena hal itu akan berpengaruh terhadap dirinya dan juga sang putri.
"Kak, aku takut kehilanganmu," lirih Mala sambil terisak. Dadanya sakit bagaikan ditikam sebilah pisau yang tajam, entah bagaimana perasaan itu muncul. Namun yang pasti imannya kini tengah menurun.
Satria memeluk istrinya itu dengan posisi berbaring dan menghadap wanita yang ia cintai karena Sang Robb.
Sebagai Manusia wajar jika diliputi perasaan takut, akan tetapi tidak pantas jika menjadikan perasaan takut itu sebagai acuan yang menyiksa diri sendiri.
"Dimana Nur Ku yang dulu? Nur yang aku kenal karena berani! Gadis hitam manis yang mampu membungkam semua mulut orang yang berani merendahkannya?" tanya Satria sambil menyelipkan anak rambut istrinya agar ia bisa melihat wajah wanita itu.
"Nur itu sudah mati Kak! Yang sekarang hanya Nur yang cengeng dan lemah," lirih Mala yang sudah putus asa.
__ADS_1
Jika dulu Mala terlihat kuat! Padahal sebenarnya ia rapuh, akan tetapi tidak pernah ditunjukkan hal itu kepada siapapun kecuali Sang Robb Yang Maha Mengetahui segala hal.
"kalau Nur Ku yang dulu sudah mati? Maka sekarang hidupkan dia kembali."
Ucapan sang Suami membuat Mala menatap lelaki itu intens, entah bagaimana kata-kata itu bisa keluar dari mulut suaminya.
"Ada apa?" tanya Satria sok tidak mengerti.
"Aku nggak mau pisah dari Kakak! Titik nggak pakai koma! Dan satu hal lagi, aku tidak bisa menghidupkan orang yang telah mati."
Satria tertawa lepas mendengar penuturan istrinya yang terlalu jujur itu, akan tetapi lelaki itu paham. Mungkin ini fase di mana kata 'Sabar' untuknya semakin diperbanyak.
"Nur, kita akan berpisah! Baik hidup maupun mati, selama kita masih di dunia yang fana ini. Maka, berdoa 'lah kepada Allah agar kita bisa di satukan di Jannah-Nya nanti," jelas Satria berharap istrinya ingat jika hakikat cinta kembali kepada Sang Pencipta.
Tidak ada yang kekal abadi kecuali DIA Yang Maha Hidup dan pemberi kehidupan, Dia yang tidak tidur dan selalu memperhatikan setiap Hamba-Nya.
"Kak, aku takut kamu menikah dengan Suci," lirih Mala.
"Ini mungkin jadi kalimat yang tidak akan pernah aku ulang, berpikir dulu sebelum bertindak! Jangan sampai kamu menyesali apa yang pernah kamu perbuat, jika kamu masih hidup? Mungkin masih bisa diperbaiki, akan tetapi jika kamu sudah di liang lahat? Sesalmu tidak akan pernah ada gunanya lagi."
Mala memeluk erat suaminya, ia sadar jika sudah salah. Bahkan kekalahan yang paling fatal adalah Mala tidak mau menuruti perintah suaminya, lelaki yang harus dihormati dan menerima semua perintahnya jika masih didalam jalan yang benar.
"Kak, aku menyesal! Maafkan aku, Kak!"
Satria mengusap lembut lengan istrinya, ia bukanlah suami yang sempurna. Namun terus berusaha menjadi Imam yang baik untuk sang istri. Wanita yang menjadi tanggung jawabnya sekaligus partner hidup.
"Sesal sekarang tidak ada gunanya."
Mala menghentikan isak tangisnya, lalu menatap suaminya dengan penuh akan tanda tanya, apa yang harus ia lakukan untuk kedepannya.
"Nur, kamu kenal 'kan Siti Khodijah?" tanya Satria yang mendapatkan anggukkan kepala sang istri.
"Beliau istri Baginda Rasulullah," jawab Mala cepat.
__ADS_1
"Bukan hanya itu saja, Siti Khodijah juga termasuk empat wanita sempurna. Kamu tahu 'kan alasannya?"
Satria memancing istrinya agar mau berpikir, mungkin memang sudah watak seorang wanita itu keras kepala. Namun ada cara untuk melakukannya yaitu buat mereka mau untuk berpikir lalu buka pikiran mereka agar bisa membedakan yang baik dan tidak.
"Karena Siti Khadijah adalah istri yang taat kepada suaminya!" jawab Mala. Namun ia segera menutup mulutnya setelah melihat senyum aneh sang suami, Mala paham akan berbagai suaminya itu.
"Jadi, kamu termasuk istri yang taat atau belum?" tanya Satria sambil menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.
"Iya, iya, aku tahu maksudmu, Kak! Aku Ridho kamu poligami dan aku menerima Suci sebagai maduku."
Mata Satria melotot, seolah-olah mau keluar dari tempatnya setelah mendengar jawaban istrinya. Maksud hatinya bukan itu, namun istrinya mengatakan hal itu.
"Alamat perang Bumi," batin Satria.
***
Semua perkara bisa berubah jika di mata seorang wanita, karena wanita memiliki otak yang lebih besar dari lelaki. Wanita bisa memikirkan hal yang luas dan mengerjakan berbagai hal dalam waktu yang bersamaan.
Bahkan Allah yang memiliki Asmaul Husna Ar-Rahim, memberikan kuasa yang besar kepada wanita yaitu bisa mengandung dan melahirkan.
Ar-Rahim yang artinya Maha Penyayang. Karena wanita adalah Makhluk penyayang, sebelum anaknya lahir kedunia. Seorang calon ibu akan mengelus dan mendoakan hal-hal baik kepada bayi yang ada di dalam rahimnya.
Masya Allah Tabarakallah… .😇
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1