Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Mencoba Berdamai


__ADS_3

Setelah yakin diterima menjadi karyawan di kantor yang ternyata milik suami Mala, atau lebih tepatnya menjadi OB. Aziz pamit undur diri sebab ada urusan lain, lelaki itu juga tidak enak mengganggu waktu pasangan suami istri tersebut yang tanpa sungkan-sungkan bermesraan di depannya.


"Ah, akhirnya lepas juga dari mereka," gumam Aziz yang sudah berada di parkiran area kantor dan mengambil motornya guna pulang kerumah. 


Waktu yang ditempuh oleh Aziz lumayan cukup jauh, lelaki itu memerlukan hampir 50 menit lebih untuk kembali kerumah. 


Senyum lelaki itu tidak pernah luntur saat sampai di rumah, Fatimah adiknya pun nampak heran melihat tingkah abangnya tersebut dan menegur hingga membuat senyum di wajah lelaki itu menghilang.


"Abang, dapat uang banyak? Kenapa dari tadi tersenyum-senyum sendiri?"


Langkah Aziz berhenti tepat di hadapan adiknya tersebut, ia lalu berkata, "Bukan urusanmu! Kamu cukup jaga Ibu dan rumah."


Setelah mengatakan hal tersebut, Aziz berlalu meninggalkan adiknya. Aziz sangat menyesal pernah mati-matian membela adiknya tersebut waktu masih bersama Azzahra.


Aziz selalu memperlihatkan pilih kasihnya terhadap istri yang merupakan tanggung jawabnya, lelaki itu lebih membela sang adik sampai telah menikah sekalipun. Penyesalan memang selalu datang terlambat, kini lelaki itu harus menanggung semuanya terlebih adiknya Fatimah yang diceraikan dari suaminya dengan alasan suaminya yang tidak mampu memenuhi kebutuhan sang istri yang selalu menuntut ini dan itu. 


Hal yang paling menyakitkan yang seorang Ahmad Aziz rasakan adalah melihat mantan istrinya Azzahra yang menikah dengan Udin. Lelaki yang menurutnya tidak pantas mendapatkan sang mantan istri yang merupakan janda kaya dengan supermarket yang berkembang dengan pesat.


Namun, apalah daya seorang Aziz. Lelaki yang hanya lulusan sarjana pendidikan yang mengabdikan diri di pondok pesantren, inilah alasan yang terbesar untuk seorang Aziz mencari pekerjaan yang lebih baik dengan gajih yang lebih, karena ingin membuktikan bahwa ia mampu menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Namun, tidak lepas juga dari kebutuhan hidup yang memang semakin meningkat setiap waktunya. 


Kini Aziz di depan kamar sang ibu, membuka perlahan kanopi dan masuk kedalam. Aziz melihat dengan jelas wajah sang ibu yang berbaring di tempat tidur dengan mata yang berlinang. Aziz tidak kuasa melihat keadaan ibunya dan menghampiri wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. 


"Ibu,"panggil Aziz dengan lirih seraya duduk ditepi tempat tidur dan menggenggam erat tangan sang ibu. 


Aziz sesekali mencium tangan ibunya yang telah mengerut tersebut, ada rasa sakit yang menusuk di dadanya ketika melihat keadaan sang ibu seperti ini. 


'Malang memang tidak berbau', 'musibah datang tanpa permisi'. 


Kutipan kata-kata itu sudah cukup mewakili apa yang terjadi dalam kehidupan seorang Azizi, setelah bercerai dari sang istri. Musibah datang tidak mau berkesudahan seolah mengatakan jika ini karma untuk dirinya. 


"Ibu,  Aziz mohon jangan bersedih," ucap Aziz seraya menyeka air mata sang ibu. 

__ADS_1


Sakit, namun tidak berdarah. Hal tersebut yang lelaki itu rasakan, semua sebab kelalaian sang adik dalam menjaga ibu mereka. 


Aziz masih ingat bagaimana kejadian itu bermula.


Pagi harinya seperti biasa Aziz berangkat untuk mengajar di pondok pesantren, Aziz yang telah menjadi duda tersebut pun sudah belajar mandiri. Lelaki itu mau tidak mau, bisa atau tidak bisa mengurus semua keperluannya sendiri, berbeda saat menjadi suami Azzahra.


Kini Aziz harus mandiri dan menyiapkan keperluannya pun sendiri, mandi sendiri, makan sendiri, hingga tidur pun sendiri. Malangnya menjadi duda, hal itu yang selalu dikeluhkan oleh Aziz. 


Baru saja Aziz masuk keruangan kelas, tiba-tiba sorang ustad memanggilnya dan mengatakan bahwa adiknya Fatimah menelpon dan memintanya untuk kembali ke rumah. 


Aziz segera kembali ke kantor dimana ada tasnya dan meminta ustad tersebut  untuk menggantikan tugasnya.


Didalam hati Aziz bertanya-tanya, apa penyebab adiknya itu menelpon. Sudah menjadi peraturan di Madrasah jika tidak diperbolehkan membawa ponsel, sesuai peraturan dinas pendidikan. Namun, dengan alasan tertentu kepala pondok mengizinkan para guru atau ustadz yang mengajar boleh membawa ponsel dengan syarat di tinggal di kantor atau boleh dibawa. Namun, dimatikan sebab bisa mengganggu waktu mengajar dan belajar para santri. 


Aziz mempercepat langkah kakinya dan mengambil tas milik nya, lalu mengeluarkan ponsel yang ia singlet. Betapa terkejutnya lelaki itu melihat banyaknya panggilan tidak terjawab dari adiknya dan Aziz membuka pesan yang masuk tidak terhitung. 


Namun, setelah membaca pesan dari sang adik tubuh Aziz ambruk dan pingsan. Semua orang yang ada di ruangan tersebut membawa lelaki itu ke ruang UKS hingga sadarkan diri. 


"Bang, Ibu!" panggil sang adik membuyarkan lamunan Aziz seketika. 


Aziz seketika menatap sang adik dan mengambil mangkuk yang berisi bubur untuk sang ibu, tanpa mengeluarkan suara Aziz menyuapi ibunya dengan telaten dan menyuruh sang adik menyiapkan air hangat untuk memandikan sang ibu. 


Setelah sang adik keluar, barulah Aziz mulai mengajak ibunya berbicara. Walau sang ibu tidak bisa menjawab dan menanggapi ucapannya dengan lelehan air mata. Namun, tidak menyurutkan semangat Aziz untuk berusaha menyenangkan hati ibunya tersebut. 


Kejadian yang telah berlalu sekian tahun lalu membuat Aziz lebih memperhatikan sang ibu. Hati Aziz terasa disayat sembilu, begitu perih. Sang ibu hanya menghabiskan waktunya di pembaringan akibat pernah terjatuh di kamar mandi dan menyebabkan wanita yang sangat dicintai oleh Aziz itu lumpuh.


 Namun, setelah melakukan berbagai macam pengobatan. Bukanya sembuh atau membaik, sang ibu malah terkena stroke dan membuat sebagian tubuhnya tidak bisa digerakan terlebih dibagian wajah. Hal itu membuat ibunya tidak bisa berbicara seperti sedia kala.


 Kata 'andaikan saja'. Andaikan saja yang menjaga ibunya waktu itu Azzahra istrinya bukan Fatimah sang adik, mungkin hari ini ibunya masih bisa berjalan dan berbicara seperti biasanya. Kelalaian Fatimah dalam menjaga sang ibu yang mengakibatkan hal ini terjadi, oleh sebab itulah Aziz tidak mengizinkan sang adik merawat ibu mereka. Sebisa mungkin Aziz yang mengurusi sang ibu, dari memandikan, menyuapi, membasuh bekas hajad dan sebagainya.


Seperti saat ini, setelah menyuapi sang ibu. Lelaki itu memandikan wanita yang sangat berarti dalam hidupnya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Aziz yang telah selesai memandikan dan mengenakan pakaian bersih untuk sang ibu keluar dari kamar dan ingin menuju kamar mandi guna membersihkan dirinya. Namun, lelaki itu dicegat oleh sang adik. 


"Bang, tunggu dulu."


Aziz hanya menatap sang adik dan menunggu apa yang ingin wanita dihadapannya ini pinta.


"Bang! Abang dapat uang? Aku mau beli skincare."


Aziz menatap nyalang terhadap sang adik, akan tetapi lelaki itu mencoba berdamai dengan perasaannya  dan memilih berlalu. Namun, sikap keras kepala sang adik dan sikap yang tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan membuat Aziz akhirnya angkat bicara.


"Aku baru saja diterima bekerja jadi, belum mendapatkan uang. Lagian jika aku mendapatkan uang? Hal pertama yang akan aku beli adalah OBAT untuk Ibu."


"Bang, aku juga perlu uang! Kalau bukan ke Abang? Kemana aku meminta?"


Seakan sudah muak, Aziz mengeluarkan kata-kata kasarnya kepada sang adik. 


"Jual saja dirimu!  Lalu jajahkan kepada lelaki hidung belang yang akan memberi kamu uang!"


Duar… , Aziz membanting pintu kamar mandi dengan kencang.


"Jahat!"


.


.


.


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...

__ADS_1


__ADS_2