
"Tetapi… ."
"Tidak usah kaujawab sekarang! Aku hanya ingin kaubuktikan," jelas Mala memotong ucapan Suci.
"Nur, apa kamu enggak berlebihan?" tanya Satria yang merasa tidak enak kepada Suci akan permintaan istrinya itu.
"Pak, Umi, aku ingin kalian segera menikah," jelas Mala sambil menatap wajah Udin dan Azzahra bergantian.
"Nur," panggil Satria lagi. Dia kesal istrinya yang mengacuhkan ucapannya.
Udin dan Azzahra diam membisu, mereka binggung harus menjawab apa.
"Kak, nanti kita siapkan pernikahan Umi dan Bapak, ya?" jelas Mala sambil mentap suaminya.
"Nur, kamu tidak bisa memaksakan kehendak kamu kepada orang lain. Tolong dengarkan aku," terang Satria sambil mengenggam tangan istrinya.
"Kak," lirih Mala. Tiba -tiba perutnya terasa sakit.
"Kamu kenapa, Nur?" tanya Satria panik.
"Perutku sakit."
Semua orang menegang setelah mendengar penuturan wanita hamit tersebut.
"Nak, kita ke rumah sakit," ajak Udin yang sangat mencemaskan putrinya tersebut.
"Aku ikut," pinta Azzahra.
"Kamu tunggu di rumah saja, Zahra!" pinta Udin sambil menatap tajam wanita itu.
"Pak!" teriak Mala. Rasa sakit di perutnya semakin terasa.
"Pak, siapkan mobil!" teriak Satria panik melihat wajah istrinya yang mulai pucat.
Udin segera berlari ke luar, dia segera melakanakan perintah Satria. Sedangkan Azzahra dan Suci hanya diam mematung melihat Mala yang kesakitan. Mereka ingin membatu, tetapi entah apa.
"Suci, jaga mini market," pinta Satria sambil mengendong tubuh istrinya.
"Sat, kamu masih memikirkan mini market?" tanya Azzahra tidak menyangka disaat Mala sakit, suaminya itu masih memikirkan hal lain.
"Umi! Itu pendapat kami. Bagaimana aku bisa bayar rumah sakit? Kalau mini market ti… ."
"Kak!" teriak Mala kesal, disaat seperti ini suaminya masih bisa berdebat.
"Nak, mobilnya tepah siap!" teriak Udin dari luar.
"Bissmillahirrohmmannirohim."
Setelah kepergian ketiga orang tersebut, Azzahra mendekati Suci yang masih duduk diam sedari tadi.
"Suci, jika permintaan Putriku? Menjadi permintaan terakhirnya, aku mohon kamu lakukan," pinta Azzahra sambil menatap sendu gadis dihadapannya.
Suci yang tadi melamun, terkejut mendegar permintaan Azzahra tersebut. Dia binggung harus menjawab apa.
"Maaf, Bu. Saya ingin ke mini market," terangnya menghidari wanita itu.
"Panggil aku Umi, sama seperti Satria dan Mala," terang Azzahra yang tidak ingin ada dinding pembantas antara mereka.
__ADS_1
Suci hanya mengangguk menaggapi ucapan wanita itu dan berlalu menuju pintu keluar.
"Pikirkan sekali lagi!" terang Azzahra ketika melihat Suci berlalu.
"Insya Allah," jawab Suci sambil melangkah meninggalkan Azzahra dengan penuh harapan.
"Semoga apa yang kamu inginkan akan tercapai," batin Azzahra berdoa.
.
.
.
Di rumah sakit.
"Tolong!" teriak Satria yang baru datang dengan menggendong istrinya. Dari rumah hingga di mobil, Satria tidak henti - hentinya berdoa. Keringat mengucur deras membuat baju lelaki itu basah.
"Ada apa ini?" tanya Dokter Aditiya yang kebetulan lewat.
"Perut istri Saya sakit, Dok," terang Satria dengan wajah tegang.
"Silahkan di bawa ke sini," pinta Aditiya sambil menuntun Satria menuju ruang IGD.
"Silahkan baringkan di situ dulu," pinta Aditiya sambil membukakan pintu.
Satria segera melakukan apa yang di perintahkan dokter tersebut.
Aditiya segera mengambil peralatan medisnya. Namun, dia merasa terganggu akan keberadaan Satria yang masih ada di samping istrinya.
"Mohon maaf, Pak Satria. Anda bisa tunggu di luar?" pinta Aditiya sopan.
Aditiya yang paham akan situasi segera berujar, " mohon maaf, Ibu Mala. Saya hanya ingin memeriksa Anda, jika Pak Satria tetap ingin berada di sini? Tolong beri Saya ruang yang cukup."
Setelah mendegar penjelasan dokter tersebut Satria menjauh dari bangkar istrinya.
"Kak," panggil Mala lagi.
"Aku hanya di sini, kamu di periksa dulu ya," jelas Satria yang memahami kekhawatiran istrinya tersebut.
"Tidak apa - apa, Ibu Mala," jelas Aditiya sambil tersenyum. Dia melakukan pemeriksa singkat dan menanyakan beberapa hal kepada pasiennya tersebut.
"Apa yang Anda rasakan?"
"Sakit, Dok," cicit Mala takut. Dia merasa tidak nyaman dengan tangan Dokter Aditiya yang meraba - raba bagian tubuhnya. Mala tidak suka jika auratnya dilihat selain mahromnya, hal itu yang membuat wanita hamil itu risih jika diperiksa dokter tersebut.
"Kita harus melakukan pengcekan secara keseluruhan! Saya merasa tumor yang ada dalam rahim Anda mulai membesar dari sebelumnya," terang Aditiya dengan analisisnya.
"Kak," panggil Mala sambil menatap sendu suaminya.
"Dok, apa tumor yang ada di rahim istri saya sangat berbahaya?" tanya Satria ragu.
"Maaf Pak, Saya belum bisa memberi keterangan. Saya harus melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, tetapi yang namanya tumor. Mohon maaf sekali, baik yang tumor yang jinak atau ganas jika dia terus membesar maka tetap akan berbahaya."
Satria hanya menghembuskan nafasnya kasar, ujian kali ini menurutnya sangat berat.
"Dok, apa ada cara lain? Maksud Saya, jika Saya di periksa boleh dengan dokter wanita saja."
__ADS_1
Aditiya dan Satria menatap jegah kepada Mala, mereka tidak habis fikir. Bagaimana wanita hamil itu meminta hal yang sulit untuk di kabulkan.
"Moho maaf, Buk Mala. Saya dokter bedah profesional, jika Anda meminta dokter wanita? Maka Anda harus mencari rumah sakit yang lain."
Satria amat tersinggung akan ucapan dokter teraebut. Namun, dia paham apa yang di katakan oleh dokter yang masih berdiri di samping bangkat istrinya ada benarnya.
"Maaf Pak Dokter, kalau permintaan Saya menyinggung hati Anda. Saya tidak terbiasa di sentu lelaki lain," cicit Mala takut dengan mengenggam kuat ujung bajunya.
Aditiya hanya tersenyum menaggapi ucapan wanita hamil di hadapannya.
Setelah melakukan pemeriksa, Mala dan Satria di izinkan pulang. Karna memang tidak ada yang perlu di khawatirkan. Rasa sakit di perut Mala hanya proses dari awal berkembangnya tumor yang menghuni rahim wanita itu.
"Kak, kita cari dokter wanita saja ya," terang Mala yang duduk mengantri untuk menebus resep obat yang telah di berikan oleh Dokter Aditiya.
"Iya Nur, nanti Aku mintak Papi carikan dokter terbaik wanita untuk kamu," jelas Satria sambil menggenggam tangan istrinya. Mengalirkan energi positif yang ia miliki wanita hamil tersebut. Namun, mereka di kejutkan oleh teriakkan wanita yang lewat di depan tempat mereka duduk.
"Maaf,"
"Kalau jalan pakai mata!"
"Buk, kalau jalan itu pakai kaki!" teriak Mala menimpali ucapan wanita tersebut yang mendapat tatapan tajam.
"Kamu!" teriaknya marah.
"Mohon maaf, ini rumah sakit," sahut Satria sambil menatap tajam wanita yang hendak marah - marah kepada istrinya.
Wanita itu berlalu begitu saja, tetapi mereka menangkap sosok yang dikenal.
"Pak Marcel?" panggil mereka kompak. Ternyata lelaki itu yang bertabrakan dengan wanita tadi.
"Kalian," ujarnya seraya mendekat.
"Bapak mau menebus obat?" tanya Satria mencari tahu. Namun, lelaki itu hanya menggeleng.
"Bapak sakit?" tanya Mala yang juga mendapat gelengan lelak itu.
"Lalu, apa yang Bapak lakukan?" tanya Satria penasaran.
"Saya mengambil hasil tes DNA kita," terang Marcel dengan tangan bergetar memberikan mab yang ada di tangannya.
"Kita? Maksudnya apa Pak," tanya Satria binggung.
"Saya sempat meminta Dokter Aditiya mengambil sedikit sempel rambut kamu untuk melakukan tes DNA kemarin," terang Marcel. Dia yang sudah mengurus administrasi untuk tes DNA dan juga memintak bantuan Dokter Aditiya sesudah menerima telepon yang ternyata dari Elissa yang meminta pulang.
"Jadi, ini hasilnya?" tanya Satria sambil membuka map tersebut dan membacanya secara perlahan hingga tangannya gemetar.
"Apa hasilnya, Kak?" tanya Mala penasaran yang melihat perubahan ekspresi suaminya.
"Ini… ,"
.
.
.
...Bersambung … ....
__ADS_1
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...