Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Allahu Robbul Allamin


__ADS_3

"Selamat Pak, anak Bapak kembar," jelas sang dokter sambil tersenyum tulus. 


Satria yang mendegar penjelasan sang dokter segera sujud syukur akan nikmat yang Sang Robb berikan. Nikmat yang tidak akan ternilai dengan apa pun juga.


"Alhamdulillah."


Semua orang mengucap syukur dan tersenyum bahagia, berita yang ditunggu-tunggu sejak lama akhirnya datang telah tiba. 


"Nur, kamu degarkan?  Anak kita kembar," ujar Satria seraya mendekati sang Istri. 


"Alhamdulillah, Kak," balas Mala dengan lelehan air mata bahagia. Akhirnya sekian--lama ia menolak permintaan sang Suami akan buah hati, Sang Robb hadiahkan dua sekaligus. 


Satria memeluk sang istri dengan hagat dan penuh cinta, tidak ada hal yang paling membuatnya bahagia kecuali berita ini. 


"Ehemm, kita masih ada di rumah sakit," ucap Azzahra memberi tahu. 


Ikbal yang sedari tadi memperhatikan tingkah Putranya, terkekeh mendegar teguran Azzahra. 


"Nanti, Kalian rayakan di rumah," tambahnya. 


"Inssya Allah," ucap Mala dan Satria kompak. 


.


.


.


Setelah selesai pemeriksaan dan menebus vitamin untuk Mala, mereka akhirnya pulang. Tidak ada pembicaraan hangat seperti sebelumnya sebab hati mereka dipenuhi akan perasaan bahagia yang tidak bisa diungkapan dengan kata-kata.


"Assalamualaikum, Umi duluan ya," ujar Azzahra sambil keluar dan berpasaan dengan sang Putra. 


"Engak mampir?" tanya Azzam sambil memasukan sebagian tubuhnya ke dalam mobil. Ketika sang Umi keluar dan ingin menutup pintu mobil tersebut kembali. 


"Engak bisa, Bang. Maaf ya, Nur harus banyak istirahat," jelas Satria menolak secara halus permintaan Abangnya tersebut.


"Kenapa, emangnya? Kamu baik-baik aja kan, Dek?" tanya Azzam sambil menatap Mala. 


"Mala hamil Bang, kembar dua."


Mendegar penuturan sang Adik membuat Azzam terharu dan ingin memeluk Mala, membuat Satria geram. 


"Bang, aku masih ada di sini!" bentaknya. 


"Apa sih, Sat? Dia ini Adikku," jelas Azzam tak kalah sewot. 


"Sudah Zam, ayo masuk?"


Azzam menatap sang Umi sangar sebab disuruh masuk ke rumah.


"Ehem," Ikbal hanya mampu berdehem menandakan kebaraannya di sana. 


"Assalamualaikum, Dek. Jaga anak kita di dalam ya?" ujar Azzam mengalah dan mendramatisir keadaan. 


"Dia anakku, Bang!" bentak Satria. 


"Anak kita Kak," tambah Mala. 

__ADS_1


"Iya …, anak Kalian. Puas?" tanya Azzam kesal. 


Satria tidak menaggapi ucapan Abangnya tersebut, dia memerintakan sang istri untuk menutup pintu mobil kembali. 


"Nur, tutup pintunya! Kita mau pulang."


Mala mengangguk dan menutup pintu mobil sambil melambaikan tanggan kepada Abang dan Uminya. 


"Assalamualaikum, da--dah Bang, Umi," ujar Mala dari jendela mobil.


Mobil pun mulai melaju meninggalkan halaman rumah dengan Umi dan Azzam yang masih berdiri di sana menatap kepergian mobil yang membawa Mala yang mereka sayangi. Gadis yatim yang dulu pernah hidup bersama mereka dan kini telah menemukan tempat yang paling nyaman yaitu sang suami. 


"Semoga semuanya berjalan lancar ya, Umi?" lirih Azzam sambil menatap kepergian Mobil Satria. 


"Inssya Allah," balas Azzahra sambil berlalu meninggalkan sang Putra yang masih berdiri di sana. 


"Umi," panggil Azzam kesal sebab di tinggalkan sang Umi. 


.


.


.


Di mobil.


"Sat, Umi kalian janda?" tanya Ikbal penasaran. Sebenarnya sedari tadi ia menyimak interaksi mereka yang hangat, namun segan untuk bertanya. 


"Iya  Pi," balas Satria yang masih fokus mengemudi. 


"Kak, aku ngantuk," rengek Mala yang tiba-tiba ngantuk setelah pemeriksa tadi. 


"Sat, jangan terlalu di paksa," ujar Ikbal memperingatkan Satria. 


"Maksud Papi?" tanya Satria binggung. 


"Kamu jangan terlalu memaksa istri kamu, kasihan dia," ujar Ikbal seraya memperhatikan Mala yang bersandar di jok belakang. 


"Memaksa apa, Pi?  Aku enggak paham?"


"Untuk solat," jelas Ikbal. 


"Masalah itu? Mohon maaf sekali ini, Pi. Bukan ingin mengurui atau merasa paling benar, tetapi untuk masalah itu Satria enggak bisa toleransi. Nur, itu tanggung jawabku Pi, samapi akhirat nanti. Satria enggak mau masuk ke Neraka gara-gara lalai mendidik istri," jelas Satria panjang lebar. 


Ikbal tersenyum bangga akan prinsip sang Putra yang tidak goyah walau dihadapannya.


"Kalau begitu, perjuangkanlah," ujar Ikbal sambil menepuk pelan bahu Satria.


"Inssya Allah, Pi," balas Satria pelan, sebab sang istri telah tertidur di belakang.


"Dia kelelahan, Sat," jelas Ikbal sambil melihat ke jok belang tempat Mala yang tertidur dengan posisi duduk. 


"Emang seperti itu kah, Pi? Perempuan hamil?" tanya Satria penasaran.


Ikbal hanya tersenyum menaggapi ucapan Satria tanpa niat menjawabnya, biarkan waktu yang akan menjawab. Karna kita bisa karna terbiasa, kita mampu sebab berusaha. Hal itu yang ingin Ikbal coba terapkan kepada ke hidup Satria. Semoga nanti ketika dia menghadapi masalah dengan usahanya sendiri bukan karna campur--tangan orang lain. 


.

__ADS_1


.


.


Di rumah Mala. 


Terdegar suara deru mobil masuk ke perkarangan rumah membuat Marissa segera keluar, dirinya yang memang sedari tadi menunggu kepulangan sang Suami berserta anak--menatu sampai gelisa. Akhirnya yang di tunggu-tunggu pun pulang. 


"Lama sekali?" tanya Marissa ketika sang Suami keluar dari mobil. 


"Salam dulu Mi," ujar Ikbal mengingatkan sang Istri. 


"Sat, mau ke mana kamu?" tanya Marissa binggung melihat Satria membuka pintu belakang mobil dan meninggalkan sang Suami.


"Ya Robb, kuatkanlah hamba-Mu ini," batin Ikbal berdoa. 


"Nur tidur Mi," jelas Satria sambil mengendong sang istri. 


"Jadi, apa hasilnya?" tanya Marissa tidak sabaran. 


"Settt, diam Mi," ujar Satria sambil berlalu meninggalkan sang Mami. 


"Pi, apa hasilnya?" tanya Marissa beralih kepada sang Suami. 


"Maaf Mi, Papi capek," jelasnya sambil berlalu masuk. 


"Dasar, enggak anak? Enggak Papinya, sama-sama ngeselin," batin Marisaa kesal sambil masuk. 


.


.


.


Satria membaringakan istrinya pelan di atas tempat tidur, senyum Satria tidak pernah pudar sedari mendegar bertia kehamilan perempuan yang sudah  setahun lebih di nikahinya. Terlebih akan bayi kembar yang di kandung membuat Satria tidak henti-hentinya memanjatkan puji dan syukur akan nikmat yang tidak ternilai tersebut. 


"Aku solat dulu ya, Nur?" ucap Satria sambil mencium lembut dahi sang istri dan berlalu ke kamar mandi guna mengambil wudhu. 


Tidak henti-hentinya Satria melafaskan doa, berterimakasih kepada Sang Robb yang telah mengabulkan permintaanya. Cinta datang ketika susah dan senang, hal itu yang selalu Satria ingat.


"Ya Robb, aku hanyalah hamba-Mu yang lemah dan tak berdaya tanpa-Mu. Terimakasih telah berikan kami anugerah yang terindah dalam dunia ini, aku berjanji akan menjaganya dengan segengam Iman di dada. Aku berjanji akan mempertanggung jawabkannya nanti di Yaumul Akhir dihadapan-Mu ya Robb. Allahu robbul 'alamin."


Setelah solat isya dan berdoa, Satria mendekati sang Istri yang masih tertidur lelap. Berat memang tapi harus ia lakukan sebagai tanggung jawab. 


"Nur, bangun Sayang. Solat yuk?" ucap Satria sambil menepuk pelan pipi sang Istri. 


"Aku capek Kak," lirih Mala. 


"Kamu mau solat atau di solatkan?"


Deg ….


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung  …....


*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*


__ADS_2