
Ujian hidup akan terus berlanjut hingga Manusia tersebut wafat. Mungkin kebanyakan orang akan merasa Sang Robb 'tidak adil'. Namun, sebagian yang lain mengatakan 'Ujian mana lagi yang akan Engkau berikan kepada Hamba?'. Semua kembali kepada pribadi Manusia itu sendiri, sebab kedewasaan dilihat bukan dari usia akan tetapi dari cara orang tersebut menyelesaikan masalah yang menimpa dirinya. Seperti saat ini, Satria menemani istri tercintanya melakukan pemeriksaan secara menyeluruh di tempat praktek Dokter Tasya atau Anatasya.
Setelah menerima surat pernyataan yang ditulis oleh Dokter Tasya bahwa Mala harus melakukan operasi pengangkatan tumor yang tumbuh di rahimnya segera, sebelum tumor tersebut tumbuh semakin besar.
Acara malam tadi yang akan membahas masalah pernikahan antara Udin dan Azzahra mau tidak mau berganti topik menjadi pembahasan tentang operasi Mala. Orang tua Satria yang hanya mampu mendoakan dan membantu secara keuangan, disebabkan oleh kesibukan pasangan suami/istri tersebut dalam menghandle perusahaan yang mengalami penurunan secara drastis membuat Ikbal dan Marissa harus kerja ekstra guna menstabilkan keuangan perusahan mereka.
Udin setia menemani sang putri karena tidak ingin lagi merasakan yang namanya penyesalan tanpa akhir, ia rela meninggalkan usahanya yang diambil alih oleh karyawan kepercayaannya agar ia bisa fokus dalam menemani Mala yang akan melakukan operasi tersebut.
Trauma, hal itu yang membuat Azzahra juga ikut mendampingi Mala. Dia tidak ingin gagal untuk kedua kalinya, ia pernah gagal menjaga ibunya Mala, akan tetapi untuk kali ini ia tidak akan mau mengulangi kesalahan yang sama. Apapun yang terjadi? Dia akan terus bersama sang putri. Untung ada Azzam, putranya tersebut selalu bisa diandalkan di saat seperti ini. Azzahra menyuruh Azzam untuk bertanggung jawab atas semua aset mereka baik milik Mala dan Satria terlebih aset mereka sendiri, karena Azzahra yakin bahwa operasi untuk sang putri akan memakan biaya yang besar. Agar semua usaha mereka bisa berjalan dengan stabil, maka harus ada yang menghandle semua itu.
Hidup terus berjalan, kita hanya bisa melakukan yang terbaik untuk masa depan. Begitulah Udin dan Azzahra, mereka berdua berusaha melakukan apa yang mampu mereka lakukan demi Mala. Gadis yang dulu mereka abaikan keberadaannya kini tengah berjuang demi kehidupan yang baru.
Senyum Mala terus mengembang, menandakan bahwa wanita hamil itu merasa bahagia. Mala menatap suaminya lalu berkata, "Kak, aku akan berjuang demi buah cinta kita."
Satria hanya mampu memaksakan diri membuat lengkungan senyum menanggapi ucapan istrinya tersebut, kini mereka tengah berada di ruangan khusus Dokter Tasya. Dokter tersebut ingin melakukan pemeriksaan secara menyeluruh sebelum melakukan tindakan operasi.
"Mohon maaf Pak Satria, anda bisa menunggu di luar? Sebab, saya ingin melakukan pemeriksaan yang mungkin memakan waktu," jelas Tasya sopan. Dia hanya ingin menjalankan tugasnya dengan sebaik mungkin.
"Baik, Dok. Tolong jaga istriku dengan baik," pinta Satria yang mendapat anggukan kepala Dokter wanita tersebut, setelah itu Satria berlalu keluar dari ruangan tersebut.
Setelah Satria keluar, kini tinggal Tasya dan Mala berdua dalam ruangan tersebut. Tasya tetap bersikap profesional, ia melakukan tugasnya dengan sebaik-baik mungkin. Dia juga tidak ingin mencoreng nama baiknya sebagai Dokter yang sudah susah payah ia bangun. Cukup lama Tasya melakukan pemeriksa hingga ia melihat wajah tegang Mala.
__ADS_1
"Maaf, pemeriksanya mungkin agak lama. Saya hanya sendirian, banyak data-data yang harus saya cocokkan. Kamu tidak apa-apa 'kan? Jika, ada yang tidak nyaman? Ungkapkan saja," Tasya berusaha mengajak wanita hamil di hadapannya berkomunikasi, sebab sedari tadi, pasiennya tersebut hanya diam membisu membuat Tasya merasa canggung.
"Aku baik-baik saja, Dok. Apapun akan aku lakukan demi orang yang aku cintai, karena pengorbanan yang paling berarti buatku adalah bisa membuat orang disekitarnya aku bisa tersenyum bahagia walau tanpa diriku."
Tubuh Tasya menegang setelah mendengar penuturan Mala, ia merasa ditampar keras akan kata-kata yang keluar dari bibir wanita hamil tersebut. Dia yang suka melawan ayahnya dikarenakan berbeda pendapat, merasa rendah di mata Mala. Wanita hamil itu mengajarkan bahwa pengorbanan yang sangat besar, bagaimana tidak? Mala bisa menahan rasa sakit yang luar biasa dan menyembunyikannya dengan baik di balik senyuman yang terus terukir di bibir tipis wanita tersebut.
"Kamu bisa turun? Pemeriksaan sudah selesai, aku juga ingin menyampaikan prosedur sebelum melakukan operasi," jelas Tasya.
Akhirnya mereka berdua bertatapan mata, Tasya menjelaskan apa saja yang akan dilakukan nanti ketika operasi. Dokter itu juga meminta agar Mala bisa menyanggupi semuanya tanpa beban, karena hal yang paling penting adalah rileks dalam menjalani operasi agar semuanya berjalan lancar. Tasya juga menambahkan beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebelum operasi yang sudah dijadwalkan tersebut.
"Dok, kenapa anda menyampaikan kepada saya sendirian? Seharusnya suami saya harus ikut serta," tanya Mala penasaran. Ada maksud apa sang dokter yang menyampaikan beberapa hal tentang prosedur operasi tanpa melibatkan suaminya. Mala pun akhirnya menjadi berprasangka buruk terhadap dokter itu.
Tasya tersenyum lebar dan berkata, "Ini bersifat pribadi. Kamu berhak atas semua hal tentang dirimu, nanti jika sudah aku buatkan suarat pernyataan baru kamu bisa beritahu suami kamu."
Tasya merasa Mala telah salah paham, ia berusaha menjelaskan supaya tidak ada salah paham, "Iya, saya paham. Saya bilang tadi, jika sudah keluar surat pernyataan kamu? Baru kamu meminta izin kepada suamimu, untuk saat ini hanya penjelasan singkat yang bisa saya sampaikan."
Mala terdiam sesaat mencerna ucapan Dikter Tasya tersebut, hingga ia mulai memahami. Jika, apa yang disampaikan oleh sang dokter tadi belum bersifat pasti. Nanti, jika sudah keluar hasil labnya, barulah mereka akan mendiskusikan masalah ini lebih serius. Pikir Mala.
Setelah meluruskan masalah salah paham tersebut, Tasya mengajak Mala untuk keluar ruangan tersebut karena pemeriksaan yang sudah selesai. Tasya juga ingin pasiennya tersebut memperbanyak istirahat sebelum melakukan operasi nanti, karena takut kehabisan tenaga atau pikiran.
"Terimakasih, Dok."
__ADS_1
"Ini memang sudah tugas saya," jelas Tasya seraya membukakan pintu untuk Mala. Semua mata tertuju kepada mereka, wajah tegang terpapar jelas dari orang-orang terkasih tersebut.
Satria segera mendekat dan menanyakan hasil dari pemeriksaan sang istri dengan gusarnya, "Bagaimana hasilnya, Dok?"
"Mohon maaf, Pak. Kalian harus menunggu hasil lab keluar dulu, baru bisa melakukan operasi."
Mendengar penjelasan sang Dokter tersebut membuat Satria membuang nafas kasar. Mala melihat perubahan wajah suaminya tersebut segera mendekati lelaki itu dan memberi semangat.
"Kak, sabar ya. Nanti Kakak bisa menyapa anak kita," terang Mala sambil mengambil tangan sang suami dan meletakan di atas perutnya yang sudah membuncit.
"Apa boleh, Dok?" tanya Satria dengan mata berbinar meminta jawaban sang dokter.
"Ah, itu!"
.
.
.
...Bersambung ••• •...
__ADS_1
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...