
Walaupun Suci ragu, akan tetapi ia tetap percaya jika kebaikan akan mendatangkan kebaikan pula. Dengan langkah pelan namun pasti ia mendekati Mala yang seperti orang kesurupan. Lalu kembali membacakan ayat-ayat Al-Quran sampai wanita itu kembali tenang.
Satria yang melihat cara Suci berhasil menenangkan istrinya merasa bersyukur. Terkadang tubuh Manusia akan mudah dimasuki oleh Jin. Apalagi dalam keadaan sedih yang berlebihan. Sama seperti yang terjadi kepada istrinya yang terlalu sedih setelah melihat keadaan uminya. Belum lagi kabar duka tentang kasus kecelakaan pesawat kedua orang tua mereka. Menambah perasaan yang tertekan.
"Terima Kasih, Ci," pinta Satria dengan tulus.
Suci hanya mengangguk kecil kemudian kembali menjaga Cahaya yang ditinggal di sofa.
Dalam keadaan terjepit seperti sekarang, Satria bingung harus meminta bantuan siapa. Hingga akhirnya ponsel miliknya berbunyi menandakan ada panggilan masuk.
"Halo, Pak," sapa Satria.
Ternyata yang menelpon adalah Aziz. Lelaki itu mengabari jika kedua orang tua Satria mengalami kecelakan pesawat dan Satria juga menjelaskan jika ia sudah tahu dari pihak polisi yang mengabarinya.
Sebenarnya Aziz baru saja pulang dari perjalanan bisnis yang diamanatkan kepadanya dan baru juga mengaktifkan ponsel sebab baterainya yang lobet tanpa disadari lelaki itu.
"Oh, baik Pak. Tapi, saya boleh minta bantuan?" tanya Satria hati-hati.
"Boleh Pak Satria. Apa itu?"
Setelah mendengar jawaban dari Aziz, Satria bisa bernapas lega. Kemudian menceritakan apa yang mereka alami saat ini. Sebab, Satria tidak bisa menghadapi ini seorang diri.
"Oh, baik Pak. Nanti, saya akan kesana."
Setelah mengatakan hal itu panggilan pun diakhiri. Satria menatap istrinya yang hanya diam.
"Nur, kamu harus kuat," bisik Satria ditelinga sang istri.
.
.
.
Setelah kejadian kemarin, keadaan Mala mulai membaik. Satria juga mempekerjakan beberapa asisten rumah tangga untuk menjaga rumah dan membantu istrinya.
Untuk masalah babysitter ini yang paling sulit untuk Satria. Sebab, ia harus mencari orang yang amanah dan ia kenal dengan baik.
Namun, seiringnya waktu. Hati Satria menetapkan Suci. Sebab, ia sangat mengenal wanita itu. Terlebih putrinya yang sangat suka bersama dengan wanita itu, membuat Satria meminta Suci menjadi babysitter untuk Cahaya.
"Ci, kamu bisa 'kan menjadi pengasuh Cha-Cha?" tanya Satria hati-hati agar wanita itu tidak tersinggung.
__ADS_1
"Bukan aku nggak mau, Bang. Tapi, aku harus izin sama Ayah dulu," jawab Suci yang memang harus meminta izin kepada Ayahnya sebelum menerima permintaan Satria.
"Kalau begitu, aku yang akan meminta izin sama Pak Rudy," jelas Satria sambil mengambil ponselnya dan menghubungi Ayahnya Suci itu.
"Halo, Pak Rudy apa kabar?" tanya Satria basa-basi dengan menanyakan keadaan lelaki itu yang pasti dalam keadaan baik-baik saja. Karena kalau tidak? Mana mungkin bisa mengangkat teleponnya.
"Baik, Nak Satria bagaimana?"
Pertanyaan itu yang Satria tunggu-tunggu, dengan suara yang lesu. Satria menceritakan apa yang terjadi sampai istrinya yang mengalami depresi berat tidak luput dari ceritanya. Hingga pada akhirnya ia meminta izin untuk Suci menjadi pengasuh untuk Cahaya.
"Bukan saya tidak mengizinkan, Nak Satria. Tapi, Sulastri itu bukan mahrammu! Tidak baik dia tinggal satu atap dengan kalian," jelas Pak Rudy menyatakan keberatannya.
"Terus saya harus bagaimana Pak? Hanya beberapa bulan saja, karena saya harus mengurusi perusahaan terlebih kami juga belum menerima kabar terbaru dari tim sar yang mencari keberadaan Papi dan Mami," jelas Satria memberikan alasan yang sebenarnya ia hadapi.
Hembusan nafas panjang terdengar dari seberang sana. Cukup lama Satria menunggu jawaban dari Pak Rudy hingga akhirnya lelaki itu meminta sesuatu yang sangat berat kepada Satria.
"Bapak akan mengizinkan Sulastri untuk tinggal dengan kalian dan menjaga Cahaya. Tapi, dengan satu syarat."
"Apa itu, Pak?"
"Kamu menikah siri dengan Sulastri."
Bagaikan tsunami yang meluluhlantakkan Aceh, hati Satria seperti menerima dentuman yang sangat keras setelah mendengar permintaan Pak Rudy.
Disaat Satria memerlukan bantuan dan dukungan. Lelaki itu malah mencari keuntungan.
"Mohon maaf, Pak. Kalau itu saya tidak bisa," jelas Satria dengan ketidak sanggupannya.
Sampai kapanpun Satria merasa tidak tega jika menduakan istrinya. Apalagi saat ini keadaan sang istri yang sangat memperhatikan. Membuat Satria tidak ingin mengeruk suasana.
"Apa kamu mau melupakan janji yang pernah kalian ucapkan?"
Satria tertegun mendengar penuturan Pak Rudy yang mengungkit masalah itu. Hal yang membuat Satria selalu berdoa, jika saja mereka tidak menerima Suci dalam kehidupan mereka. Mungkin janji itu tidak akan pernah ada.
"Keadaan istri saya sangat memperhatikan, Pak. Mungkin nanti kita bahas masalah ini," jelas Satria sambil menutup teleponnya secara sepihak.
Kepalanya berdenyut nyeri memikirkan masalah yang tidak mau berhenti datang. Seolah dia sangat berdosa, sampai ujian demi ujian tidak memiliki solusi.
"Aku harus bagaimana ya, Robb," batin Satria.
"Yah-Yah."
__ADS_1
"Masya Allah, Bang. Cha-Cha bisa berbicara," teriak Suci heboh sendiri. Mereka yang duduk lesehan di bawah sedangkan Satria yang duduk di sofa menatap Suci dan putrinya dengan senyuman yang dipaksakan.
"Cha-Cha bahkan sudah bisa panggil Bundanya," jelas Satria memberitahukan.
Kehebohan Suci yang menjaga Cahaya membuat Satria merasa bingung. Dia tidak mungkin menikahi wanita itu. Namun, Suci adalah orang yang paling tepat untuk menjaga putrinya disaat sang istri dalam keadaan yang kurang sehat seperti sekarang.
"Minumnya, Kak."
Seakan jantung Satria mau keluar dari tempatnya setelah mendengar kata-kata itu.
"Nur, kamu seharusnya harus istirahat," jelas Satria yang kaget akan kedatangan istrinya dengan membawa nampan berisi teh hangat.
"Aku nggak papa, Kak. Jangan anggap aku sakit," jelas Mala dengan tatapan sendu.
Sebenarnya ia mendengar apa yang suaminya bicarakan dengan Suci, walaupun ia tidak begitu mendengar pembicaraan suaminya dengan Pak Rudy lewat telepon
Namun, Mala bisa menyimpulkan jika bahwa ada yang disampaikan oleh Pak Rudy. Akan tetapi, suaminya berat untuk melaksanakan hal itu.
"Mbak, dengar Cha-Cha sini," pinta Suci sambil melambaikan tangan kepada Mala.
"Ada apa?"
"Yah-Yah," celoteh Cahaya membuat senyum Mala mengembang.
"Anak Bunda pintar," ujar Mala seraya mengusap kepada sang putri.
Akhirnya mereka tertawa lepas karena tingkah menggemaskan Cahaya. Seakan tidak ada skak dan batasan antara Mala dan Suci. Mereka selayaknya seorang saudara.
Satria yang sedari tadi memperhatikan ketiga wanita itu hanya mampu diam seribu bahasa, dengan perasaan yang tidak menentu. Sambil berpikir jalan mana yang akan ia ambil.
Karena janji yang pernah diucapkan dan harus dibayar, sebab janji adalah hutang. Sesuatu yang berat, akan tetapi harus dilaksanakan.
"Aku harus memilih, semua demi kebaikan Cha-Cha," batin Satria.
.
.
.
...Bersambung ••• •...
__ADS_1
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...