
Akhirnya karena kasihan dan merasa tidak tega Azzahra mengizinkan Mala untuk menemui Abi Aziz dengan syarat harus mendapat izin kepada sang suami.
Mala yang mendapat syarat itu hanya mampu menelan silvernya kasar, ia mulai berfikir keras bagaimana caranya agar sang suami mau mengizinkan ia bertemu dengan sang Abi.
Hal yang sangat sulit menurut wanita hamil itu, sebab suaminya pasti tidak mengizinkan sama seperti kemarin ketika ia meminta izin. Akhirnya Mala menemukan cara tepat agar sang suami mau memberikan izin.
Mala mengatur sebuah rencana yang akan melibatkan kedua mertuanya, Mala meminta uminya mengizinkan ia bertemu dengan mertuanya dengan di temani Satria suaminya.
Azzahra tidak bisa mencegah hal itu, sebab Mala dan Satria adalah pasangan suami istri yang sah dan memiliki hak. Namun, 'tak henti-hentinya ia mengingatkan pasangan itu agar tidak melakukan hubungan suami istri sebab berbahaya untuk Mala dan janin mereka.
"Umi, kami berangkat dulu," kata Satria seraya mencium punggung tangan wanita itu yang memasang wajah masam.
"Hati-hati, ingat pesan Umi! Awas jika kalian nakal"
Satria dan Mala hanya tersenyum kecut mendegar ucapan sang umi, mereka seperti pasangan yang sedang pacaran dan diingatkan akan tidak melakukannya hal yang tidak senonoh.
Untung ada sang Bapak yang membela mereka, "Ra, tidak boleh berlebihan. Apapun yang berlebihan hukumnya nanti haram."
Azzahra hanya menganguk tanda mengerti, hal itu membuat Satria dan Mala menahan tawa karena lucu melihat ekspresi sang umi yang seketika berubah-ubah. Namun, karena waktu yang sudah menunjukkan waktu makan siang mau tidak mau mereka segera berangkat.
Satria melajukan kendaraan beroda empat itu dengan kecepatan sedang hingga tidak terasa mereka telah sampai di kantor, sebenarnya Satria bingung dan penasaran kenapa sang istri ingin menemui papi dan mami. Namun, Satria hanya diam tidak ingin bertanya karena melihat sang istri yang dari tadi hanya diam membisu hingga mereka masuk kedalam gedung yang menjulang tinggi tersebut.
Hingga sampai di ruangan sang papi yang menyatu dengan sang mami, Satria segera mengetuk pintu dan tidak lama kemudian pintu terbuka dan menampakkan sang mami yang menyambut mereka dengan hangat.
"Anak Mami, ayo masuk Sayang," ajak Marissa sambil mengandeng tangan Mala dan Satria.
Kini mereka duduk disova panjang dengan sang mami yang berada ditengah, tidak berapa lama sang papi datang dan langsung menanyakan perihal yang sang menantu ingin sampaikan.
"Nak, jadi apa yang kamu pinta?" tanya Ikbal menatap lekat Mala.
Satria terkejut akan pertanyaan papinya tersebut dan menatap sang istri dengan tatapan penuh tanya.
__ADS_1
Sama seperti Marissa, ia juga penasaran dengan apa yang ingin menantunya itu pinta.
"Apa yang kamu minta, La?"
Mala membuang nafasnya dengan berat dan menatap orang-orang sekitarnya sebelum memulai membuka suara, setelah merasa yakin ia pun mengutarakan keinginannya.
"Papi, Mami, dan Kak Satria. Aku hanya ingin minta ditemukan dengan Abi Aziz sebelum operasi dilaksanakan," jelas Mala dengan mata berbinar.
Semua orang menatap dengan perasaan yang tidak menentu, Satria merasa berat akan permintaan istrinya itu. Ikbal merasa tidak nyaman akan permintaan sang menantu sebab mengetahui kelakuan Aziz sebab mereka sempat bertemu di acara ijab kabul sang besan kemarin. Sedangkan Marissa menjadi bingung sebab tidak mengenal siapa abinya Mala dan akhirnya bertanya.
"Memang siapa Abi kamu? Dan apa alasan kamu ingin bertemu dengannya?"tanya Marissa penasaran.
Mala akhirnya menjelaskan apa penyebab ia ingin bertemu dengan abinya, wanita hamil itu mengatakan jika ia merasa sedih ketika teringat dengan sang abi. Walaupun abinya memiliki sikap yang tidak terpuji, akan tetapi Aziz tetap abinya. Lelaki itu pernah merawat Mala ketika masih bayi hingga sang kakek dan nenek yang mengambil alih tugas itu.
Satria segera menyatakan ketidaksetujuan kepada sang istri.
"Aku tetap tidak mengizinkan kamu bertemu dengan Abi kamu itu! Nur, bukan sekali atau dua kali aku melihat lelaki itu melakukan kamu dengan kasar."
Mala menatap suaminya nanar dan berkata, "Kak, kita sebagai seorang Muslim harus saling tolong--menolong dan saling memaafkan. Biarlah yang lalu berlalu, kita perbaiki kedepannya. Kalau kita membenci dan menghukum tindakan Abi waktu itu? Lalu, apa bedanya kita dengan dia?."
Semua orang diam membisu mendegar pernyataan wanita hamil itu, Ikbal sampai menelan silvernya kasar. Seolah-olah di tampar keras akan kata-kata sang menantu.
"Iya, Sat. Kalau kita memusuhi Abinya Mala, lalu apa bedanya kita dengan dia? Lagian kita harus memberikan lelaki itu kesempatan," celetus Marissa berpendapat, ia juga pernah salah dan ingin mencoba berubah menjadi lebih baik. Jika, tidak mendapat dukungan dan kesempatan? Bagaimana ia bisa berusaha menjadi lebih baik.
Satria hanya mampu membuang nafasnya kasar sedangkan Ikbal mendukung kata-kata sang istri yang menurutnya mulai sedikit berubah. Walau watak aslinya masih sering keluar.
Kata-kata Mala mulai terdengar lagi, ia tidak akan menyerah sebelum suaminya mengizinkan, "Kak, aku tidak ingin memutuskan tali silaturahmi. Dosanya berat Kak, memutuskan tali silaturahmi berarti kita memutuskan rezeki dan rahmat dari Allah."
Satria mencoba melawan gelombang hatinya yang bergejolak, ia hanya Manusia biasa yang dititipkan rasa. Beberapa kali terdengar suara hembusan nafas kasar yang lelaki itu keluarkan dan akhirnya ia menganggukkan kepala tanda setuju.
Mala yang melihat hal itu kegirangan lalu menghampiri suaminya dan memeluk lelaki itu dengan erat. Satria kewalahan karena ulah sang istri karena posisinya yang tengah duduk dan mendapatkan serangan mendadak.
__ADS_1
Ikbal dan Marissa hanya bisa tersenyum melihat tingkah menantunya itu, ada haru yang menyeruak seketika. Terkadang untuk membahagiakan orang yang kita sayang tidak perlu dengan harta atau tahta, cukup berikan apa yang membuatnya senang.
"Ehem, ingat kalian masih dihukum," celetus Ikbal membuat aksi pasangan suami istri itu terhenti.
Satria dan Mala menunduk antara malu dan kesal sebab sang papi yang mengetahui jika mereka sedang dihukum. Siapa lagi yang mengadu jika bukan sang umi, pikir mereka. Karena hanya uminya yang super posesif.
"Jadi, kapan kalian akan menemui Abi Aziz?" tanya Ikbal ingin tahu setelah cukup lama terdiam.
"Hari ini!" teriak Mala girang.
"Apa?" tanya Satria tidak percaya seraya menarik sang istri duduk sebab istrinya itu sampai bangun dan berdiri menjawab pertanyaan sang papi seking senangnya.
Pembicaraan mereka terhenti seketika ketika sekretaris Marissa masuk dan menyampaikan sesuatu.
"Maaf, Bu. Ada yang ingin bertemu dengan anda," jelasnya.
"Siapa?" tanya Marissa penasaran sebab tidak membuat janji dengan siapapun.
"Namanya Aziz."
"Siapa namanya tadi?"
"Aziz."
.
.
.
...Bersambung ••• •...
__ADS_1
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...