
Setelah keadaan yang sudah tidak kondusif lagi, akhirnya Suci memutuskan untuk pamit undur diri. Terlebih sudah beberapa kali teman kampusnya mengabari jika ia harus kembali ke kampus.
Walaupun ayahnya, Pak Rudy ingin agar wanita itu kuliah di Amerika. Akan tetapi, Suci menolak secara halus dengan alasan ingin sambil belajar menjalankan anak cabang perusahan di negara sendiri.
Alasan itu yang membuat sang ayah mengiyakan keinginan putrinya itu.
"Mohon maaf, ya Mbak. Aku harus kembali ke kampus," jelas Suci seraya bangun dari duduknya.
Mala mengangguk kecil dan mengantarkan tamunya itu hingga diabang pintu.
Suci segera masuk kedalam mobilnya dan mulai meninggalkan rumah itu, tempat dimana ia pernah melewati berbagai dilema kehidupan dan membuatnya menjadi kuat untuk menjalani hidup esok yang masih misteri.
"Apakah aku masih bisa menjadi bagian dari keluarga ini?" batin Suci.
.
.
.
Setelah kepergian Suci, tamu yang tidak diharapkan oleh Mala. Kini wanita itu tengah berjibaku dengan urusan dapur. Memasak untuk makan siang mereka nanti, setelah usai memasak wanita itu mengerjakan pekerjaan rumah yang lain.
Dari mengepel lantai, mencuci dan lain-lainnya dikerjakan seorang diri. Walaupun suaminya mampu untuk mengajih seorang asisten rumah tangga. Namun, Mala menolak hal itu. Karena dia ingin mendapatkan banyak pahala dari rumah tangga yang dijalani.
Akan tetapi, bukan hal itu saja yang menjadi pertimbangan Mala. Sebenarnya dia enggan ada orang lain di rumahnya terlebih itu adalah wanita. Mala sekarang telah menjadi wanita yang sangat cemburuan, ia tidak ingin ada dusta ataupun fitnah jika ada wanita lain yang tinggal satu atap dengannya.
Satria hanya mengiyakan apa yang sang istri pinta, selama tidak melanggar hukum tentunya. Maka hal itu diperbolehkan olehnya. Namun, sebagai seorang suami ia terkadang kasihan melihat sang istri yang berjibaku dengan tugas-tugas rumah tangga yang seakan tidak pernah selesai.
Hal itu membuat Satria sebisa mungkin membantu dan mengerjakan pekerjaan rumah disela kesibukannya. Walaupun di swalayan ia hanya memastikan barang yang datang di gudang dan melihat daftar pendapatan setiap bulan. Namun, hal itu sangat penting dan merupakan tanggung jawabnya.
Mala mengelap keringat yang menetes di dahinya, walaupun lelah. Namun, Mala sangat senang mengerjakan pekerjaan rumah. Sebab, bagi Mala kebersihan adalah sebagian dari iman. Hal itu membuat dia selalu menyukai kebersihan dan menyibukan diri dengan hal yang positif.
Disela aktivitasnya ia dikejutkan oleh ketukan pintu.
Tok… .
"Assalamualaikum."
Mala tersenyum lebar ketika mendengar suara salam yang sangat ia rindukan, dengan tergesa wanita itu segera menuju pintu dan menyambut lelaki yang sangat ia cintai.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam, Kakak sudah pulang?" tanya Mala yang heran sebab baru jam 11 siang suaminya sudah pulang.
Satria tidak menggubris pertanyaan istrinya, dia memilih masuk kedalam rumah terlebih dahulu dan mendudukkan bokongnya di sofa dengan santai.
Walaupun pekerjaan yang Satria jalani bisa dibilang mudah dan tidak terlalu menguras tenaga, akan tetapi tetapi sangat menguras perasaan. Satria yang harus menjaga sikap ketika para karyawan dan pengunjung perempuan mengerumuninya.
Lelaki itu selalu membaur dengan para pembeli dan karyawannya, karena bagi Satria menjadi pemimpin harus bisa menghargai jerih payah mereka yang sudah mengabdi untuknya.
"Kak, aku ambilkan minum dulu," ujar Mala sambil berlalu meninggalkan sang suami yang mungkin lelah. Pikirnya.
"Hufff… ," helaan nafas panjang Satria terdengar sangat berat.
"Kak, Kakak capek? Mau aku pijit?" tanya Mala seraya meletakan secangkir teh hangat untuk suaminya.
"Nur, Cha-Cha mana?" tanya Satria yang tidak melihat keberadaan sang putri.
"Cha-Cha lagi tidur dikamar, Kak," jelas Mala yang mendapatkan anggukkan kepala sang suami.
Cha-Cha adalah panggilan kesayangan Mala dan Satria kepada sang putri.
Mereka bercerama dengan riang, Mala juga menceritakan kedatangan Suci. Satria hanya diam mendengarkan apa yang istrinya sampaikan, sebab Satria paham betul. Jika, istrinya hanya ingin didengar bukan dikomentari.
"Lalu dimana hadiah yang dibawa Suci?" tanya Satria penasaran. Setelah mendengarkan cerita sang istri yang mengatakan jika Suci datang membawakan hadiah untuk putri mereka.
"Itu"
Mala menunjuk bag paper yang berada di kursi sofa, sama seperti tadi ia meletakkannya. Sebab, Mala belum sempat membuka isi hadiah yang Suci bawa tersebut.
"Wah, lihat Nur. Ini baju gamis satu set sama hijab dan sepatunya," jelas Satria heboh melihat isi bag paper yang diberikan oleh Suci.
Mala semakin dibakar oleh cemburu melihat suaminya yang sangat senang melihat hadiah yang diberikan oleh Suci.
"Baju itu panas, Kak. Cha-Cha nggak akan tahan pakai baju itu," kilah Mala berpendapat padahal ia hanya tidak suka dengan yang sang pemberi, bukan hadiahnya.
"Kainnya lembut, Nur. Coba kamu rasa, ini nyaman sekali jika dipakai Cha-Cha," jelas Satria seraya menyerahkan baju gamis tersebut.
Namun, dengan enggannya Mala menolak dan memilih berlalu kedapur.
"Nur, kamu mau kemana?" tanya Satria yang heran melihat perubahan sikap istrinya itu.
__ADS_1
Akan tetapi, tidak ada jawaban dari Mala. Wanita itu membawa tangisnya menjauh dari sang suami. Entah mengapa perasaannya sakit jika suaminya memuji hadiah yang pemberian Suci. Ada perasaan tidak rela dan tidak suka yang menyeruak begitu saja membuat dada wanita itu sesak.
"Nur, kamu cemburu?" tanya Satria yang ternyata menyusul istrinya hingga kedapur.
Satria memeluk sang istri dari belang yang berpura-pura mencuci tangannya diwatafel.
"Siapa yang cemburu," kilah Mala tidak mau mengakuinya.
"Hahaha …," tawa renyah Satria mengisi ruangan tersebut membuat Mala berdecak kesal.
"Nur, kamu mungkin bisa membohongi orang lain. Tapi, tidak dengan aku, suamimu," jelas Satria seraya membalikkan tubuh sang istri agar menghadap ke arahnya.
Kini suami istri itu saling mengunci pandangan, mata mereka bertemu dan menatap satu dengan yang lain.
"Nur, kita harus selalu mensyukuri dan menerima pemberian orang lain. Walaupun kita bisa untuk membelinya, ingat hadiah yang diberikan oleh Suci. Itu adalah rezeki untuk Cha-Cha dan sebagai orang tua kita tidak boleh mengedepankan perasaan egois kita hanya untuk menyakiti perasaan putri kita."
Mala tertegun akan ucapan sang suami, memang dirinya hanya diliputi oleh cemburu hingga melupakan jika hal itu telah membuatnya menjadi egois dan mementingkan perasaan sendiri.
Brug… .
Suara benda jatuh terdengar nyaring mengagetkan pasangan suami istri itu, tidak lama kemudian terdengar suara tangis Cahaya yang terdengar 'tak kalah nyaring.
"Cha-Cha!" teriak Mala dan Satria kompak seraya berlari ke kamar, melihat keadaan sang putri yang terjatuh dari atas ranjang.
"Nur! Sudah berapa kali aku bilang jangan letakkan Cha-Cha diranjang kita!" hardik Satria kesal seraya menggendong sang buah hati yang terus menangis.
"Kak, aku---," ucapan Mala dipotong oleh sang suami.
"Kamu memang tidak becus!"
Tes… .
"Kamu tega, Kak!"
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...