
Hubungan rumah tangga Satria dan Mala sering sekali diuji, entah dari probema kehidupan atau datangnya orang ketiga.
Satria sudah paham betul akan sifat cemburu istrinya, walaupun terkadang over dosis atau berlebihan. Namun bagi seorang suami, cemburunya istri adalah bumbu cinta dalam rumah tangga yang harus dijaga keberadaannya.
Ketika perasaan cemburu itu tidak ada, maka rasa hambar dalam hubungan akan terasa. Bahkan Sang Robb tidak akan melihat wajah orang yang selama hidup tidak ada rasa cemburu terhadap pasangannya yaitu orang yang bersifat Dayus.
Satria punya cara sendiri agar istrinya tidak menaruh prasangka yang tidak-tidak kepadanya atau Dokter Tasya. Lelaki itu menjelaskan bahwa Dokter Tasya diminta oleh sang mami untuk menyunat Cahaya nantinya.
Mala teringat jika Dokter Tasya merupakan Dokter bedah, karena Dokter wanita itu 'lah yang menangani operasi pengangkatan tumor nya kemarin.
"Jadi, kapan Cahaya akan disunat?" tanya Mala dengan antusias.
"Selepas 40 hari kamu, aku juga mau istri tercintaku ini yang membacakan tilawatil Qur'annya," jelas Satria sambil mencubit hidung istrinya gemas.
Sering berdebat, akan tetapi sulit untuk berpisah. Suka marah-marah, akan tetapi cepat akurnya. Itulah hubungan rumah tangga yang baik, walaupun perbedaan antara pasangan selalu kentara. Namun pasangan yang lain bisa menyimbanginya dan menyelesaikan masalah tanpa menyakiti pihak yang lain.
Kedewasaan seseorang dilihat bukan dari usia atau ijazah yang dipegang, akan tetapi dari cara orang itu menyelesaikan dan menghadapi sebuah masalah.
.
.
.
Seperti biasanya, Azzam akan selalu menyempatkan diri mampir ke rumah sang adik. Selain menjenguk ibu dan keponakannya, pemuda itu juga ingin memantau minimarket yang menjadi tanggung jawabnya. Walaupun minimarket tersebut milik Satria dan Mala, akan tetapi Azzam tetap berusaha memajukan tempat usaha itu.
Kini pemuda itu keluar dari mobilnya dengan gaya cool, Azzam terus masuk kedalam rumah begitu saja.
Ketika ia bertemu dengan uminya, Azzam mengucapkan salam dan berlalu untuk menemui adiknya.
"Halo, Sayang?" tanpa tahu malunya Azzam memenggil adiknya dengan panggilan sayang walaupun ada Satria disana.
"Mohon maaf, kami tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun," ketus Satria malah membuat pemuda itu tertawa.
"Hahaha, Sat! Aku kesini malahan mau ngasih kamu sumbangan," jawabnya dengan enteng sambil duduk di sofa tanpa beban.
Satria menjadi geram, ia langsung menghampiri Azzam dan memberikan pertanyaan yang tajam, "Aku sudah kaya, jadi nggak perlu sumbangan dari kamu!"
Azzam menatap Satria dengan tatapan mengejek sambil menggoyangkan selembar kertas didepan lelaki itu.
Satria menyambar kertas yang dipegang oleh Azzam dan membaca apa yang tertulis di sana.
"Dasar tukang ngibul!" ujar Satria sambil meletakkan kertas yang telah dia baca tadi.
"Hahaha," tawa renyah Azzam mengisi ruangan itu.
"Abang!" teriak Mala kepada abangnya itu dan duduk disamping suaminya.
__ADS_1
Mala pemasaran akan kertas apa yang dibawa oleh sang abang, lalu mengambilnya.
"Ya Allah, banyak sekali pemasukan nya, Bang!" teriak Mala dengan hebohnya membuat sang suami mengerus nafas kesal.
"Tuh, 'Kan! Aku ini Abang yang baik, suka menolong dan rendah hati."
Satria sangat mual mendengar buyolan Azzam.
"Pembagiannya berapa persen?" tanya Mala antusias.
"Terserah kalian, aku terima dengan ikhlas. Sekalian mengurangi beban akibat jomblo."
Setelah mengatakan hal itu, Azzam kembali tertawa lagi. Entah dimana letak lucunya ucapan itu, akan tetapi Satria menjadi dongkol dan keki.
"25 % ya, Bang! Anggap sedekah," pinta Mala dengan senyum lebar.
Kali ini Satria yang tertawa lepas, perasaannya senang sekali mendengar ucapan sang istri.
Azzam tersenyum kecut, ia paham arti dari ucapan Mala.
Setiap uang yang berjumlah satu juta, maka wajib mengeluarkan 25 % untuk sedekah.
"Apalah nasibku jadi fakir miskin seperti ini," ratap Azzam mendramatisir perannya.
"Ingat, Bang! Ucapan adalah doa," celetus Mala yang membuat Azzam mengelus dadanya beristighfar.
.
.
.
Siang berganti dengan malam, matahari telah turun dari peraduannya dan digantikan oleh sang rembulan.
Kini keluarga para pengejar Sang Robb tengah bercengkrama di ruang tamu, setelah menunaikan ibadah dan makan malam bersama. Saatnya untuk berkumpul bersama orang yang terkasih.
Udin mulai membuka pembicaraan dengan istrinya, "Ra, apa yang kamu lakukan hari ini?"
Azzam menjawab pertanyaan yang sebenarnya ditujukan untuk uminya, " Yang namanya Ibu rumah tangga ya, kerjaannya cuma mengurus rumah."
Azzahra mencubit pinggang sang purta karena sudah tidak sopan dengan bapaknya sendiri.
"Aw!" pekik Azzam. Namun hal itu malah membuat gelak tawa yang lain.
Kini Mala diperbolehkan untuk keluar kamar, ia melihat bagaimana abangnya yang diperlakukan seperti anak kecil.
"Apa, Dek? Ini sakit tahu," jelas Azzam ambil mengelus tangannya yang memerah karena dicubit oleh sang umi.
__ADS_1
"Jangan mengadu kepada Adikmu, dia belum sembuh total!" jelas Azzahra mengingatkan putranya itu.
"Umi, aku baik-baik aja 'ko," jelas Mala sambil tersenyum.
"Nur, kamu belum 40 hari. Aku takut darah nifas kamu masih ada, hal itu bisa berbahaya," jelas Satria khawatir. Jika istrinya yang tidak merengek untuk keluar kamar, mungkin ia akan terus mengurung wanita itu.
"Iya, La. Sebaiknya kamu masuk saja, kasihan Cahaya ditinggal sendirian," pinta Azzahra yang teringat akan cucunya yang ditinggal dalam kamar karena tertidur.
Bahkan orang dulu-dulu sangat melarang hal ini, karena sangat tidak dianjurkan meninggalkan seorang bayi sendirian. Bisa saja sang bayi diganggu oleh makhluk halus atau kenapa-kenapa karena tidak ada yang menjagai.
Setelah mendengar perintah sang umi, Satria membawa istrinya kembali kedalam kamar.
Ketika Satria dan Mala telah berlalu, Azzam memulai kericuhan kembali dengan menggoda sang bapak.
"Pak, kenapa diam saja? Sudahkah menceritakan tentang wanita waktu itu kepada, Umi?"
Pertanyaan Azzam sukses saja membuat uminya menatap tajam kearah sang bapak.
Udin hanya mampu menelan silvernya kasar, dia sangat mengutuk anak tirinya itu.
"Bertemu siapa, Mas? Wanita mana?"
Pertanyaan beruntun yang diberikan kepadanya, membuat Udin kelaparan. Dia belum siap mengatakan apapun, namun sudah diserang oleh sang istri. Semua gara-gara Azzam
"Zam! Sebaiknya kamu pulang," usir Udin terang-terangan kepada Azzam.
Namun pemuda itu hanya tersenyum mengejek dan pamitan kepada uminya, lalu berlalu sambil berteriak di ambang pintu.
"Umi! Bapak memegang tangan wanita lain!" terak Azzam dengan kerasnya.
Kemarahan Azzahra semakin menjadi-jadi, wanita itu terbakar oleh api cemburu. Walaupun ia belum mengakuinya, akan tetapi jika sang suami bersama wanita lain. Hatinya terasa panas dan ia merasa ingin mencabik-cabik siapa saja yang dilihatnya.
"Sudah, Ra. Jangan dengarkan kata-kata Azzam," pinta Udin merayu istrinya agar tidak marah.
Namun kata-katanya malah ditanggapi lain oleh sang istri.
"Kenapa? Atau kamu mau bilang, jika Azzam itu putraku! Bukan putramu!" hardik Azzahra marah.
"Apakah, dia cemburu?" batin Udin.
.
.
.
...Bersambung ••• •...
__ADS_1
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...