Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Berjalan Sesuai Rencana


__ADS_3

"Melakukan apa?" batin Suci. Dia yang buru-buru meninggalkan meja makan akibat sakit hati sebab perilalu yang tidak baik yang di terima. Namun, langkahnya berhenti ketika mendegar ucapa Papi Satria. Dia melangkah kembali palan dan berdiri di balik pintu menguping pembicaraan mereka yang ada di sana. Belum juga mendapatkan informasi yang di inginkan pembicaraan itu terhentikan oleh Mala. 


"Aku harus menghubunginya," batin Suci. Gadis itu segera melangkah menjauh sebab ia mendegar derap langkah seseorang yang menuju pintu keluar ruang dapur.


Satria keluar dan melihat Suci, dia merasa aneh. Padahal gadis itu sudah berlalu, tetapi kenapa masih bisa di tangkap penglihatanya.


"Mencurigakan," batin Satria. Setelah itu ia memili menuju pintu depan, ia hendak memanasi mesin mobil sambil menunggu istrinya dan papi. 


"Hati-hati di rumah? Kamu yakin tidak ingin ikut?" tanya Ikbal kepada istrinya yang mendapat semprotan wanita itu. 


"Sudah berapa kali Papi tanyakan hal itu? Mami ingin menjaga rumah dari ga …," lagi-lagi ucapanya di potong oleh sang menantu. 


"Mami!" Mala kesal, sudah sekian kali wanita itu hampir membuka rencana mereka. Apa yang di katakan oleh suaminya benar, kalau maminya tidak amanah. Terbukti sedari tadi wanita itu membuka mulutnya lebar-lebar seolah tidak ada gigi dan lidah di dalamnya. Los saja, pikir Mala. 


Marissa hanya memutar bola matanya jengah. Dia paham kalau menantunya itu tidak suka dengan caranya. Namun, Marissa merasa kalau rencaan yang mereka buat terlalu bertele-tele. Lebih baik labrak orangnya langsung dari pada menunggu sampai gadis itu mengakui kesalahannya, kimatpun tidak akan berhasil. Pikirnya.


"Ikuti rencana," bisik Ikbal menginggatkan istrinya, alasan kenapa ia berkali-kali mengajak wanita itu untuk ikut adalah takut jika istrinya main sosor saja tanpa memikirkan sebab dan akibat perbuatannya. 


"Iya," jawab Marissa kesal, sudah berkali-kali lelaki itu membisikan hal yang sama. 


Akhirnya mereka bertiga masuk kedalam mobil sambil melambaikan tangan kepada Marisaa walau wajah wanita itu yang di tekuk akibat kesal, akan tetapi mereka tetap memgembangkan senyuman. 


"Apa Mami bisa di percaya, Pi?" tanya Satria yang masih ragu. Dia yakin kalau mulut maminga itu akan berdisko--ria ketika mereka tidak ada di rumah, wanita itu akan leluasa mencaci--maki Suci. 


"Entahlah!" balas Ikbal sambil menganggkat bahu. 


"Aku rasa bisa, Kak," balas Mala yakin, sebab dia telah membeti amanat kepada mertuanya agar menyiksa Suci secara perlahan.


Rencaan mereka adalah menyerang sikis gadis itu, bukan pisik. Bagaimana menyerang sikis? Yaitu dengab membuat down perasaannya, membuat gadis itu tersingkirkan secara kasat mata. Tidak mengajak berinteraksi, mengacuhkan ucapannya, mengambil akses untuk gadis itu keluar rumah dan lain-lain lagi yang akan mereka lakukan sampai gadis itu depresi. Memang hal yang kejam, siapa lagi yang pecentus ide itu kalau bukaan Azzahra.


Wanita yang seperti bunglon itu memberi ide yang luar biasa, dia mengunakan hukum adil kali ini untuk menyelesaikan masalah. Wanita itu menyarankan agar mereka kompak membongkar kedok Suci,  serigala berbulu domba. Dari awal Azzahra memang tidak menyukai adanya gadis itu di tengah-tengah keluarnya, akan tetapi belum waktunya id mendempak gadis itu. Namun, saat yang di nanti-nanti pun telah tiba, maka dari itu dia tidak akan menyia-nyiakannya. 


Bersekongkol dalam kebaikan adalah hal yang menyenangkan, apalagi memiliki besan yang bermulut pedas, menambah sensai. 

__ADS_1


"Kita sudah sampai."


Suara Satria mengagetkan Mala, dia yang memikirkan uminya dengan semua rencara yang telah di susun buyar akibat seruan suaminya. 


"Ayo, keluar!" pinta Satria sambil mengulurkan tanganya kepada wanita hamil tersebut. Mala menyambut tangan suaminya dengan mengembangkan senyum terbaiknya. 


Ikbal yang telah pergi dahulu meniggalkan pasangan suami--istri tersebut, karena hal yang  ingin segera dia kerjakan.


"Kalian segera ke aula! Papi mau mengambil sesuatu di ruangan kantor, Papi dulu."


Mala dan Satria mengangguk pelan, sambil bergandengan tangan mereka menyelusuri lobi perkantoran tersebut. Setelah sang papi yang berlalu dengan tergesa-gesa, mereka berjalan dengan santai. 


"Kak, apa benar ini semua menjadi milik Kakak?"


Pertanyaan sang istri membuat lelaki tersenyum dan meralat ucapan wanita yang di gandengnya tersebut, "ini! Milik kita, ada aku, kamu dan anak kita."


Bahagia, hal itu yang Mala rasakan. Hanya kata-kata sederhana bisa membuat hati menjadi berbunga-bunga bagikan taman yang bermekaran. Hati wanita hamil itu bagikan terbang ke Nirwana. 


"Siapa mereka?"


"Mana mungkin mereka pemilik baru, bukan?"


"Hust…, mereka itu anak-anak!"


Berbagai macam cuitan-cuitan yang masih terdengar baik oleh Satria serta Mala, mereka berdua mempercepat langkah menuju aula. Benar memang apa yang di katakan oleh sang papi, kalau mereka harus melakukan klarifikasi tentang kepemilikan perusahan baru ini. Walau hanya anak cabang, akan tetapi sangat bernilai besar di mata orang-orang yang tidak mampu memilikinya. 


"Kalian mau ke mana?"


Seorang petugas keamanan menghadang Satria dan Mala yang ingin masuk ke ruang aula. 


"Kami ingin masuk!" balas Satria dingin. Dia kesal kepada petugas yang kelihatannya baru tersebut, sebab kemarin ketia ia datang dengan sang papi. Lelaki yang berdiri mengadangnya ini belum ia lihat. 


"Mohon maaf, bisa melihat kartu pengenal Kalian?"

__ADS_1


Sopan, akan tetapi penuh dengan kecurigaan. Hal itu yang nampak di mata Satria dan Mala, lelaki dihadapan mereka seolah mempertanyakan kedudukan mereka di tempat ini.


"Maaf, Papi terlambat." Ikbal datang dengan terpopoh-popoh. Dia berusaha berjalan cepat, akan tetapi karena jarak antara aula dengan ruangan kantornya yang lumayan jauh membuat ia sedikit kesulitan. 


"Silahkan masuk, Pak."


Satria dan Mala tercengang mendegar penuturan petugas keamanan tersebut yang berubah drastis setelah berhadapan dengan sang papi. 


"Ayo, kenapa kalian tidak masuk?" tanya Ikbal yang heran melihat pasangan suami--istri itu hanya melonggo sedari tadi. 


"Apa mereka bersama Anda, Pak?"


Ikbal menatap heran penjaga keamanan, dia merakan sesuatu yang janggal di sini, "apakah kamu menghalangi anak dan menantu saya untuk masuk?"


Wajah penjaga keamanan tersebut menjadi pias setelah kalimat itu meluncut dengan bebas dari Ikbal. Sekarang baru ia paham kenapa Satria dan Mala yang tertahan di depan pintu aula. 


"Maaf," lirihnya.


"Anda hanya memandang bagian luar seseorang," celetuk Mala sambil berlalu menarik tangan suaminya. 


"Anda berurusan dengan orang yang salah." Tubuh penjaga keamanan itu menegang seketika, keringat mengucur deras dari pelipisnya. Dia menatap kepergian pasangan yang sempat dihalanginya tadi. 


"Siapakah kalian?"


.


.


.


...Bersambung… ....


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...

__ADS_1


__ADS_2