
Pukul 10 Isma dan Prince sudah berada di Mall. Dengan penuh semangat Isma memilih perlengkapan bayi mereka.
"Mas, nanti bayinya cewek apa cowok ya?" Memilih kasur bayi.
"Bagaimana kalau kita beli kasurnya dua warna biru, satu warna pink." Saran Prince.
"Mm, bagaimana kalau ternyata bayinya dua perempuan satu laki-laki?"
"Ya, gak apa-apa kan memakai kasur warna biru."
"Jadi maksud Mas, anak cowok yang cuma satu kasurnya warna pink. Gitu?"
"Ya tidaklah sayanng. Maksud, Mas…"
"Sudah, gak jadi deh beli kasurnya. Nanti bayi tidur sama kita saja. Kan tempat tidur kita luas." Sambungnya.
"Baiklah…"
Prince ikut saja semua kemauan calon ibu itu.
"Adek mau beli pakaian bayi. Bagusnya yang mana, Mas?" Memilih beberapa baju-baju bayi yang lucu-lucu.
Dengan berat hati Prince mencoba memilih beberapa pakaian yang dia suka. Meski dia tahu pilihannya tidak akan disukai Isma.
"Adek mau yang ini, ini, ini dan ini. Eh semua deh, lucu banget." Celotehnya senang.
"Ambil sayang. Semua yang adek suka beli." Jawab Prince sambil perlahan menaruh kembali pakaian yang dipilihnya ketempat semula.
"Terimakasih Ayah." Ucap Isma menirukan suara bayi.
Prince hanya tersenyum. Kemudian dia mengikuti langkah Isma menuju tempat peralatan bayi lainnya.
__ADS_1
Sambil melangkah mengikuti Isma, Prince tersenyum-senyum. Dia teringat kembali saat dulu Isma masih menjadi sekretarisnya.
"Sayang, kamu masih ingat gak. Waktu itu kamu selalu marah-marah setiap Mas ajak ke Mall." Ucap Prince.
"Mmh, kapan?"
"Waktu sayang masih jadi sekretaris, Mas."
"O waktu itu."
Isma mensejajarkan langkahnya dengan Prince. Tangannya mulai bergelantungan di lengan suaminya.
"Sayang selalu kesal sama Mas waktu itu." Tutur Prince sambil tersenyum.
Isma pun ikut tersenyum. Lalu, dia menyembunyikan wajahnya sebentar didada bidang suaminya.
"Sayang Mas kok jadi malu-malu gini, sih?" Goda Prince.
"Adek boleh nanya?"
"Mas jatuh cinta sama adek sejak kapan?"
Prince tersenyum, dielusnya kepala Isma. Lalu diberinya kecupan berkali-kali.
"Iihh, kok malah cium-cium?" Protesnya.
"Loh memang kenapa kalau Mas cium?"
"Malu Mas. Ini masih di Mall, ramai tu orang-orang pada liatin." Gerutuknya.
Prince makin gemas, dan mencubit hidung Isma yang tersembunyi di balik cadarnya.
__ADS_1
"Jawab dulu... kapan Mas mulai suka sama adek?"
"Mmm, sejak..."
Prince menghentikan langkahnya. Sementara Isma sangat fokus menantikan jawaban suaminya.
"Sejak hari pertama sayang menjadi sekretaris Mas."
"Masak sih?" Tidak percaya.
Senyuman termanis terlihat indah menghiasi wajah Prince. Dia mengangguk untuk meyakinkan Isma.
"Bohong. Waktu itu Mas selalu saja menyusahkan adek. Memerintah adek banyk hal yang harusnya bukan tugas adek. Adek jadi sering lembur." Celotehnya.
Plitak…
Pukulan lembut Prince tempatkan di kening Isma.
"Aww, sakit. Kok Mas malah mukul adek?" Protesnya kesal.
"Semua yang Mas lakukan waktu itu, akal-akalan Mas saja. Supaya bisa bicara sama adek dan bisa melihat wajah adek 24/7 hari." Ucapnya santai.
Isma memanyunkan bibirnya, kesal mengingat hari-hari dirinya menjadi sekretaris suami tercintanya itu.
"Adek adalah wanita pertama yang membuat Mas jatuh cinta. Adek wanita pertama yang membuat Mas ingin mengenal Islam. Melalui adek juga, untuk pertama kalinya Mas ingin mengenal Allah yang sangat sempurna menciptakan adek." Jelasnya
Isma tersenyum malu-malu. Untungnya wajahnya tertutup kain cadar. Jika tidak, pasti seluruh wajah memerahnya itu akan terlihat oleh semua orang di Mall itu.
"Terimakasih karena sayang akhirnya menjadi bidadari untuk Mas. Dan semoga cinta kita hingga surganya Allah." Merangkul bahu Isma.
"Terimakasih suami terbaikku." Ucap Isma.
__ADS_1
Prince hanya mengangguk, lalu membawa Isma kembali melangkah menuju tempat-tempat peralatan bayi.
BERSAMBUNG...