Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Hati Isma


__ADS_3

Keyra tidak kuat menahan sakit di perutnya, hingga akhirnya dia pingsan di depan rumahnya.


"Ya Allah, non Keyra." Teriak bik Tiah pembantunya yang mau membuang sampah.


Bik Tiah berlari menghampiri Keyra yang terbaring lemas di tanah. Betapa kagetnya dia, sampai tidak tahu harus melakukn apa. Dan di rumah sedang tidak ada orang juga.


"Mas Prince. . . Iya saya telepon mas Prince." Celotehnya sambil menggeledah tas milik Keyra untuk mencari Handphonenya.


Untunglah Hp Keyra tidak di kunci, bik Tiah langsung menekan tombol hijau tepat di nama Prince.


"Halo, mas Prince…" Sapa Tiah gagu saat panggilan tersambung.


"Iya. Ini siapa?" tanya Prince yang keheran mendengar suara yang berbeda.


"Saya bik Tiah, mas. Begini toh mas. . . Non Keyra pingsan. Di rumah tidak ada orang, saya bingung ini." Jelasnya terbata-bata.


"Ok. Saya kesana sekarang. Temani dia dulu, bik." Sahut Prince kemudian mengakhiri pembicaraan itu.


Prince yang tadinya hampir tiba di kantor langsung mutar balik. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Betapa khawatirnya Prince mendengar Keyra yang sekarang pingsan tak berdaya.


Di tempat lain, Isma dan Bimo baru saja tiba di kantor. Isma langsung menuju lantai atas, sekalian mau mengantarkan makan siang untuk Prince. Sedangkan Bimo terpaksa harus makan sendiri di ruangannya.


"Prince menyebalkan. Selalu saja mengganggu kebersamaan aku sama Isma." Rutuknya.


Bimo makan sambil sesekali merutuk. Dia tidak menyadari ternyata sejak tadi Rina memperhatikannya.


"Ciee yang gak jadi makan siang bareng Isma." Ledek Rina sambil nyelonong masuk ke ruangan Bimo.


"Eh Rin, ada apa? Apa yang bisa gue bantu?"


Bimo ngomong sambil menggemu makanan dalam mulutnya, hal itu membuat Rina tertawa. Ekspresi wajah Bimo sangat menggemaskan dan lucu membuat Rina tertawa terbahak.


"Lucu ya aku makan kek gini?" Tannya Bimo sambil tersenyum malu-malu.


"Hahaa, iya lah lucu. Kek bayi lagi makan."


Merekapun tertawa bersama. Bimo yang tadi lagi marah gak jadi lagi. Dia jadi punya teman ngobrol dan tertawa bareng sehingga dia melupakan rasa kesalnya.


Sementara itu, Isma duduk diam di ruangannya dengan terus menatap ke depan pintu ruangan Prince. Isma menunggu kedatangan Prince. Dia bahkan belum makan siang, padahal perutnya udah lapar sejak tadi.


'Apa yang aku lakukan? Kenapa aku malah menunggunya. Memang aku siapanya?' Batinnya.


"Makan dulu aja lah, lapar!" Serunya bicara sendiri.

__ADS_1


Begitu hendak menyuap nasi, HP Isma bergetar. Ada panggilan dari Prince. Dengan cepat Isma mengangkatnya.


"Iya, Bos. Makanannya sudah siap..."


"Makanannya kamu aja yang makan. Saya gak jadi ke kekantor hari ini. Keyra sakit. Sekarang saya sedang di rumah sakit nungguim Keyra. Kasihan dia, kondisinya lemah banget.


'Ah semoga semuanya baik-baik saja.' Batinnya.


"Baik, bos."


"Baiklah."


Pembicaraan pun berakhir. Ada sedikit perasaan sedih dalam hatinya.


"Aku baik-baik saja." Ucapnya sambil menghela napas.


"Ok, saatnya makan. Terus aku harus kerja, supaya bisa pulang lebih awal, gak perlu lembur."


Isma menyemangati dirinya sendiri. Dia mengucek matanya sesekali untuk menghentikan air mata yang terasa akan tumpah.


Tok... tok… tok…


"Permisi…!" Seru Rina dari luar.


"Loh, kamu baru makan?" Melangkah kearah Isma.


"Mmhh, kamu udah makan belum?"


"Sudah lah. Aku makan bareng Bimo. Kasian dia makan sendirian."


"Ah, iya. Aku jadi ninggalin Bimo. Syukurlah ada kamu yang nemanin dia."


Rina menatap tajam wajah Isma yang terus tersenyum sambil mengunyah makanannya. Tapi, Rina tahu mata Isma menyiratkan kesedihan.


"Isma, kita sahabatan udah lama banget loh. Kamu gak ada niat mau cerita sama aku gitu?" Tanya Rina mencoba membujuk sahabatnya itu.


Isma hanya tersenyum, lalu kembali menikmati makan siangnya.


Sejauh ini, Rina hanya tau tentang pernikahan Isma yang batal karena lelaki itu ternyata sudah beristri. Tapi, harusnya Isma senang karena perjodohan itu gagal.


Lalu, kenapa Isma bersedih seakan kehilangan seseorang yang sangat di cintainya. Rina benar-benar tida tahu apa pun tentang Isma da Prince. Yang sekilas dia tahu, Bimo menyukai Isma dan berakhir di tolak. Hanya sebatas itu yang diketahui Rina tentang Isma.


"Aku janji akan menceritakan semuanya sama kamu Rin. Tapi, belum untuk saat ini. Aku butuh waktu." Jawabnya kemudian.

__ADS_1


Wajah Isma menampakkan kesedihan. Dia bahkan berhenti mengunyah makanan dimulutnya. Dan tiba-tiba air mata Isma jatuh begitu saja.


Melihat itu, Rina langsung memeluk erat tubuh Isma. Dia menepuk pelan punggung Isma agar dia bisa sedikit merasa lebih baik.


"Menangislah Is. Tumpahkan segala rasa sakit itu. Kamu jangan memendamnya. Saat kamu terus memendamnya, rasa sakit itu tidak akan sembuh, dia akan semakin menusuk relung hatimu dan kamu akan semakin menderita."


Isma akhirnya memang menumpahkan segala rasa sakitnya dengan menangis dalam pelukan Rina. Tangis Isma tertahan sehingga dia terisak. Dia tidak ingin menangis sambil berteriak karena sekarang sedang di kantor.


Tapi setidaknya, Isma merasa lega karena rasa sakit itu telah tumpah menjadi butiran air mata.


Sementara Isma melanjutkan tangisnya, di salah satu ruangan VIP rumah sakit. Keyra terbaring lemah. Dia kini di infus.


"Bagaimana keadaannya Dokter?" Tanya Prince khawatir.


"Kondisinya sangat lemah. Dia terlalu banyak berpikir. Dan itu sangat berpengaruh pada janinnya."


"Lalu apa yang bisa saya lakukan, Dokter?"


"Selalu temani istri anda. Jangan biarkan dia berpikir keras dan harus banyak istirahat. Intinya anda harus memanjakannya." Saran Dokter.


Prince terdiam. Ya, hari ini dia terlalu cuek sama Keyra.


'Maafkan aku Key…' Batinnya, sambil mengelus lembut dahi Keyra.


Tidak terasa dua jam telah berlalu. Prince bahkan sampai ketiduran di samping Keyra. Dan saat itu juga Keyra membuka matanya. Betapa senangnya hati Keyra mandapati Prince berada di dekatnya.


Perlahan Keyra menyentuh kepala Prince. Dia hendak membangunkan Prince karena merasa ingin ke toilet.


"Prince… prince, bangun."


Prince pun terbangun. Dia kaget melihat Keyra sudah duduk di hadapannya.


"Key, kamu sudah bagun." Memeriksa suhu tubuh Keyra.


"Aku baik-baik saja," Jawab Keyra senang mendapat perhatian dari Prince.


"Antarin ke toilet. Aku gak kuat jalan." Rengeknya manja.


Ya Keyra mulai merasakan perubahan pada dirinya. Dia sangat ingin terus bermanja pada Prince. Dan tidak ingin berpisah meski sebentar dari Prince.


Prince pun menggendong tubuh Keyra, sedang Keyra nemegang botol infus. Prince melangkah menuju Toilet. Dia mengantar Keyra sampai ke dalam toilet dan mendudukkan Keyra di atas toilet.


"Aku tunggu di luar. Kalau udah selesai kamu panggil aja." Ujar Prince dengan mengusak pelan rambut Keyra. Kemudian menutup pintu Toilet dan dia berdiri di depan pintu menunggu Keyra.

__ADS_1


Bersambung. . .


__ADS_2