Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Season 2 (Chap 41)


__ADS_3

Setelah tangisnya reda, Fazil kembali menatap wajah Keni. Dia tersenyum senang, lalu dengan ragu ragu menyentuh pipi dan bibir Keni. Sementara, Keni merasa malu dan tidak berani menatap wajah Fazil.


"Aku sangat sering memimpikan wajah ini saat aku tidur setelah sholat istikhoroh." Ucap Fazil lembut.


"Bohong." Ujar Keni malu malu.


"Aku tidak akan bisa berbohong padamu, sayang." Fazil memberanikan diri untuk mencium kening Keni.


"Aku sangat merindukanmu, Fazil." Ucap Keni saat Fazil masih betah mencium keningnya.


"Aku lebih merindukanmu, sayang." Fazil meraih tubuh Keni semakin dekat dalam pelukannya. "Bolehkah aku melepas rinduku yang teramat sangat ini, padamu, malam ini?" Bisik Fazil ditelinga Keni.


Keni mengangguk malu, malu. Sedangkan Fazil mulai melepas hijab Keni. Lalu membelai rambut Keni yang wangi, sangat hitam dan panjang. "Aku sangat menyukai rambutmu, sayang." Fazil menggoda Keni.


Lalu perlahan Fazil membawa tubuh Keni untuk ikut berbaring bersamanya. "Tunggu. Aku malu." Keni kembali duduk dan menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Jika kamu belum siap, aku tidak akan memaksa. Sekarang, tidurlah. Aku akan mematikan lampu." Fazil melangkah mematikan lampu, sehingga kamar menjadi sangat gelap. Fazil mematikan seluruh lampu kamar itu.


"Fazil, apa kamu sudah tidur?" Tanya Keni yang akhirnya ikut berbaring disamping Fazil.


Sebenarnya posisi mereka saat ini saling berhadapan. Hanya saja, karena kamar itu sangat gelap, mereka tidak bisa melihat satu sama lain.


"Aku sangat merindukanmu, sayang. Bagaimana aku bisa tidur?" Ucap Fazil.


Mendengar itu, tangan Keni bergerak, mencoba menemukan tubuh Fazil. Dan saat tangannya berhasil menyentuh wajah Fazil, dia pun langsung memberi kecupan yang tepat di hidung Fazil.


"Aku istrimu, sayang. Lepaskan semua rasa kerinduanmu. Aku tidak keberatan sama sekali." Ucap Keni tanpa ragu.


Kini Fazil paham, Keni bukannya takut atau belum siap. Tapi, dia sangat malu untuk melepas rasa rindunya ditengah tengah kerlipan cahaya.


Malam itupun menjadi malam yang sangat indah. Mereka meluapkan seluruh rasa kerinduan yang tertahan selama ini. Semuanya menjadi sangat membahagiakan saat semua rasa telah bersatu dalam ikatan cinta yang halal.

__ADS_1


Skiip…


Pagi ini, Isma dan Rara bangun agak siang. Mereka tertidur lagi setelah sholat subuh. Sementara, Prince dan Feisal sudah pergi joging dan belum pulang.


"Ra, bangun nak. Bantu bunda bikin sarapan yuk. Ini sudah jam tujuh loh." Membangunkan Rara.


"Iya, bunda." Rara melangkah dengan malas menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Kemudian, mereka pun turun dan menuju dapur. Karena mata mereka yang masih belum terbuka seutuhnya, mereka tidak dapat melihat jelas apa yang terjadi di dapur.


"Sayang, kamu duduk aja dulu di sana. Aku lagi masak loh ini." Protes Keni pada Fazil yang selalu mencium dan memeluknya.


"Tapi aku maunya disini." Meletakkan dagunya diceruk leher Keni yang tentunya tertutup jilbab.


Mendengar perbincangan itu, mata Isma dan Rara langsung terbuka lebar. Mereka menyaksikan pengantin baru itu bermesraan di dapur.


"Jangan kek gitu ah, nanti bunda lihat loh. Kan malu." Keni meminta Fazil agar tidak mencium pipinya terus menerus.


"Bundaaaa, Rara mau nikah juga." Teriak Rara yang langsung berlari kembali menuju kamarnya.


Mendengar teriakan itu, Fazil pun tidak jadi mencium bibir Keni. Dan Keni pun menoleh kearah bunda dan Rara dengan pipinya yang memerah karena malu.


"Pagi, bunda." Sapa Fazil yang menggaruk kepala bagian belakang meski tidak terasa gatal.


"Pagi pengantin baru." Jawab bunda sambil melangkah mendekati Keni.


Sedangkan Rara sudah salto salto kesal di dalam kamarnya.


"Maaf, bunda. Rara jadi tidak nyaman." Ujar Keni.


"Tidak usah minta maaf sayang. Raranya aja yang baperan." Isma mengusap pipi merah Keni. "Fazil, Fazil. Ternyata kamu benar benar mirip ayahmu." Memukul pelan jidat Fazil dan dia hanya tersenyum, lalu duduk di kursi.

__ADS_1


"Anak bunda mau masak apa ini?" Tanya Isma melihat semua bahan yang sudah disiapkan Keni.


"Nasi goreng udang, bunda." Jawabnya.


"Ok, mari kita masak. Bunda bantu, ya." Mulai menghangatkan wajan. Dan Keni memasukkan minyak goreng kedalam wajan.


"Ayah dulu juga sering mengganggu bunda masak, loh." Bisik Isma yang kembali membuat Keni malu.


Beberapa menit kemudian.


"Bunda, kita pulang." Teriak Feisal dari luar. Dia langsung masuk ke rumah dan menuju dapur. Karena memang selalunya sepulang joging, bunda pasti didapur membuat sarapan.


"Pagi, Feisal." Sapa Keni yang menata piring di meja makan.


Feisal terkesima melihat bidadari yang menyapanya. Dia benar benar terperangah dengan kecantikan Keni. Rupanya selama ini Bunda dan Rara sengaja membuatnya penasaran.


"Istri gue. Ini istri gue, ok." Fazil memeluk Keni dari belakang.


Feisalpun mengedipkan matanya, lalu bergumam tidak jelas. "Pagi Keni yang cantik." Godanya. Feisal sengaja memanas manasi Fazil.


"Berani sekali loe menggoda istri orang didepan suaminya. Awas ya loe. Cari istri sendiri." Teriak Fazil cemburu, lalu mereka mulai berkejar kejaran.


Dan Keni tertawa melihat pertikaian dua bersaudar itu. Sementara bunda malah ikut mengejar mereka sambil membawa spatula, berusaha untuk menghentikan pertikaian itu.


"Pagi menantu ayah yang cantik." Sapa Prince.


"Ayah. Selamat pagi." Keni pun mencium punggung tangan Prince.


"Jangan melapas cadarmu saat keluar rumah ya sayang. Ayah tidak mau ada laki laki lain yang menggoda menantu kesayangan ayah." Ucap Prince sambil tersenyum.


Dia tahu Keni tidak akan melepas cadarnya saat keluar rumah. Prince mengatakan itu sengaja untuk bercanda dengan menantu barunya itu yang masih malu malu.

__ADS_1


__ADS_2