
Drriitt... drriiittt
Suara iphone Prince membangunkan Isma yang sedang tidur siang. Dilihatnya layar iphoe, yang ternyata panggilan dari Keyra.
Segera Isma menjawab panggilan itu.
📱"Halo, Keyra."
📱"Isma. Maaf mengganngu."
📱"Tidak apa. Ada yang bisa dibantu?"
📱"Maaf sebelumnya, Prince ada?"
📱"Mas sedang di kantor. Ada apa, Keyra?"
📱"Gabriel ingin bertemu kalian."
📱"Kami sedang di Korea."
📱"Iya, kita juga di Korea. Barusan tiba."
📱"Yang benar? Kalian dimana?"
📱"Masih di Bandara."
📱"Aku kirim alamat rumah. Kalian langsung saja kesini."
📱"Ah terimakasih, Isma. Tapi, Mas Vino sudah memesan hotel. Kita akan langsung ke hotel dulu. Nanti kalau Prince sudah pulang, mungkin kamu bisa memberitahunya, kalau Gabriel di Korea sekarang."
📱"Baiklah, nanti aku sampaikan."
Panggilan itu berakhir. Ada perasaan senang dan juga cemburu di hati Isma, mengingat Keyra adalah mantan istri suaminya.
"Apa katanya?" Tanya Vino.
"Prince masih di kantor. Tadi yang jawab, Isma."
Vino mengangguk, lalu dia merangkul Keyra untuk berjalan menuju taxi.
Gabriel tertidur dalam gendongan Keyra. Ditatapnya wajah putra kecilnya itu. Ada segurat kekhawatiran dalam hatinya. Sebenarnya, Keyra sangat khawatir Gabriel malah menjadi pengganggu untuk hubungan Prince dan Isma.
Meski bagaimanapun, Isma pasti merasakan setidaknya sedikit perasaan cemburu. Apa lagi, terakhir Isma berkunjung dengan Prince untuk menemui Gabriel. Ada kata yang tidak mengenakan.
Dimana saat itu Gabriel mengomeli Dadinya, karena jarang menemuinya sejak sudah ada Isma.
Sangat jelas Keyra melihat raut tidak nyaman di wajah Isma saat itu. Tapi, meski merasa tidak enak hati, Isma tetap tersenyum dan mencoba dekat dengan Gabriel.
Sebenarnya tidak ada pertalian darah sama sekali, antara Gabriel dengan Prince. Hanya saja kedekatan keduanya terjalin sejak Prince bahkan memperlakukan Gabriel dengan baik sejak masih dalam kandungan Keyra.
Mungkin itulah yang membuat keduanya terhubung.
__ADS_1
"Sayang kenapa melamun?" Tanya Vino, menyadarkan Keyra dari lamunannya.
"Maafkan aku, Mas." Ucapnya.
"Kenapa minta maaf sayang?"
"Gabriel lebih dekat dengan Prince dari pada kita."
Vino tersenyum. Lalu di peluknya tubuh Keyra erat dengan cara merangkul bahunya. Karena sekarang mereka sedang didalam taxi.
"Tidak usah meminta maaf untuk itu. Mas baik-baik saja, selama Gabriel tumbuh menjadi anak yang pintar, sehat dan sampai kapanpun cinta Mas tetap paling besar untuk kalian. Maafkan Mas, karena dulu pernah meninggalkan kalian." Mencium kening Keyra.
Sementara itu, saat ini. Kakek Yudha baru saja tiba di Bandung. Mobilnya parkir di depan rumah Abi. Perlahan, Kakek turun di bantu oleh sopirnya.
Tok… tok… tok…
"Assalamu'alikum." Ucap Kakek.
Tidak berapa lama, Umi membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam." Sahut Umi sambil membuka pintu. Mata Umi terbelalak kaget saat melihat wajah tamunya.
"Siapa yang datang, Umi?" Tanya Abi dari dalam rumah.
Langkah Abi terhenti, saat matanya bertemu dengan wajah kakek Yudha. Suasana saat itu menjadi sangat tegang. Waktu seperti berhenti berputar. Baik Umi, maupun Abi, mereka terdiam tidak tahu harus melakukan apa.
Hanya kakek yang akhirnya memberanikan dirinya untuk melangkah masuk. Dengan langkah kakinya yang tertatih, kakek semakin mendekati Abi. Dan begitu tepat berada dihadapan Abi, kakek pun duduk berlutut sambil menangis.
Abi masih diam. Begitu juga dengan Umi.
"Saya tahu, saya tidak pantas mendapat maaf dari kalian. Maaf saya tidak akan merubah apapun." Masih terisak dan terus berlutut.
"Saya tidak akan menghindari hukuman apapun. Saya siap dipenjarakan, bahkan jika harus hukuman matipun saya siap. Saya benar-benar menyesal telah melakukan perbuatan sekejam itu."
Kakek mengakui segala kesalahannya. Dia mengungkapkan segala permohonan maafnya. Meski sebenarnya kakek tahu, dia tidak akan mendapat maaf atas kesalahan masa lalunya.
Air mata ikut menetes dari pelupuk mata Abi. Perlahan Abi ikut duduk. Dipegangnya bahu kakek, dan itu membuat kakek terkejut.
"Jika Allah saja mengampuni dosa pak Yudha. Lalu siapa saya yang berani tidak memaafkan kesalahan pak Yudha." Ucap Abi diikuti dengan tetesan air matanya.
Kakek menangis terisak. Dia merasa sangat bersyukur karena mendapatkan maaf dari Abi. Lalu, keduanya saling berpelukan. Mereka melepas segala kesedihan, dendam dan amarah mereka.
Umi juga ikut menangis. Dia duduk bersandar pada daun pintu. Jujur, hati Umi sakit melihat pak Yudha baik-baik saja. Tapi, dia mencoba untuk menepis segala rasa sakit yang masih tersisa. Umi pun mencoba memberi maaf seperti yang dilakukan suaminya.
"Sungguh, maafkan saya. Saya siap dilaporkan ke Polisi. Saya juga siap melaporkan diri saat ini juga. Saya benar-benar minta maaf." Memohon dengan penuh harap.
"Tidak perlu melakukan itu. Cukup dengan syahadat Pak Yudha saja sudah menjadi penebus segalanya." Ucap Abi.
"Izinkan kami memanggil pak Yudha dengan panggilan Abah. Sungguh kami merindukan Abah." Sambungnya.
Mata Kakek mengeluarkan air mata semakin deras saat mendengar kalimat indah yang diucapkan Abi. Langsung Kakek memeluk tubuh Abi.
__ADS_1
"Dengan senang, hati. Saya akan menggunakan sisa umur saya untuk menjadi Abah kalian. Saya akan terus melantunkan syahadat, sholawat dan doa untuk Abah kalian. Jika semua itu diizinkan untuk sampai pada mereka sebagai penebus dosa saya." Tegasnya masih terus terisak.
Umi bahagia melihat suaminya yang akhirnya benar-benar sembuh. Suminya kembali menjadi lelaki pemaaf. Kembali menjadi lelaki yang penuh kasih sayang.
"Terimakasih, Abah. Terimakasih…" Ucap Abi pertama kalinya menyebut kakek Yudha dengan panggilan Abah.
Kakek semakin terisak. Betapa bahagia dan merasa bersalahnya dia pada orang-orang baik yang telah disakitinya.
Usai melepas segala kesedihan mereka. Umi menyiapkan teh hangat dan juga cemilan untuk Kakek Yudha. Dan kakek sekarang duduk berdampingan dengam Abi di sofa ruang tamu.
"Bagaimana keadaan Prince dan Isma?" Tanya Abi.
"Mereka sangat bahagia dan sehat. Hanya segurat sedih terpancar dimata Isma. Dia sangat merindukan kalian." Jelas kakek sambil menghapus sisa air mata di pipinya.
"Syukurlah. Dan ya, saya yang menyebabkan sedih itu. Saya yang jahat pada mereka." Tutur Abi menyesal.
"Mereka akan segera pulang dalam waktu dekat. Dan kalian tahu, Isma tengah mengandung." Jelas Kakek.
"Kandungan Isma sehat, Bah?" Tanya Umi ikut menyela pembicaraan
Sebentar kakek diam, lalu dia tersenyum senang. Karena rasanya sangat indah mendengar panggilan yang barusan diucapkan Umi.
"Alhamdulillah, kata dokter, kandungan Isma sangat sehat. Kondisi pisik Isma juga sehat."
Umi tersenyum senang. Rasanya ingin segera bertemu Isma. Rasa rindu semakin menggebu di relung hati Umi.
Bukan hanya Umi. Abi pun merasakan hal yang sama. Hanya, Abi masih memendam perasaan malu dalam hatinya untuk menghadapi putri dan menantunya itu kelak.
"Saya malu, Bah. Rasanya sangat malu untuk menatap Prince dan Isma." Tutur, Abi.
"Itulah yang Abah rasakan selama ini. Sungguh, bukan karena tidak mau meminta maaf lebih awal. Tapi, rasa malu dan perasaan bersalah terlalu besar Abah rasakan."
"Jangan jadikan rasa malu Abi, malah menunda keinginan untuk bertemu anak dan menantu kita. Umi tidak ingin mereka berpikir dikucilkan terlalu lama oleh kita, Abi." Sela Umi.
Abi mengangguk paham. Apa yang dikatakan Umi benar adanya. Harusnya Abi langsung menemui, bukan malah menunda lagi pertemuan dengan putri dan menantunya itu.
BERSAMBUNG
Hay hay Reader. . .
Semangat dan terus jaga kesehatan.
Jangan lupa
LIKE
KOMEN
VOTE
Tinggalkan jejak kalian. Karena jejak kalianlah yang menjadi semangat Author menulis.
__ADS_1
Terimakasih semuanya. . .