
Rara tiba di Korea. Dia disambut oleh sekretaris Prince. Rara diantarkan ke sebuah apartemen mewah dengan fasilitas yang memadai. Juga sudah ada Yoon Ajumma. Dia bisa bahasa Indonesia dengan lancar, karena pernah menikah dengan pria asal Indonesia.
"Ini Yoon Ajumma. Dia akan menemani kamu selama di sini. Dia akan memasak, mencunci dan membersihkan rumah juga. Dan itu adalah Mr.Kim yang akan memgantarkan kamu kemanapun kamu mau."Tutur Pria tinggi gagah itu pada Rara.
"Apakah Mr. Kim bisa bicara dalam bahasa Indonesia?" Bisiknya pada pria yang bernama Andrew itu.
"Bisa. Dia sudah belajar bahasa Indonesia empat bulan lalu. Jika kamu kurang memahami bahasanya tanyakan saja pada Yoon Ajumma." Balasnya sambil berbisik juga.
Rarapun menganguk paham. Kemudian dia diantarkan oleh Yoon Ajumma ke kamarnya. Sedangkan Mr.Kim mengantarkan Andrew kembali ke kantor.
"Ajumma, kapan saya bisa ke sekolah?" Rara bertanya dengan Ragu. Takut Yoon Jie Ni tidak mengerti apa yang diucapkannya.
"Besok pagi, Nona Rara bisa langsung ke sekolah." Jawabnya dengan bahasa Indonesia yang sangat bagus. Bahkan tidak terdengar lagi logat Koreanya.
__ADS_1
"Baiklah. Jadi, boleh saya beristirahat sendiri di kamar ini?" Tanya Rara sopan.
"Silahkan, Nona. Jika butuh sesuatu, panggil saja. Saya ada di dapur." Ucapnya sopan. Lalu Yoon menundukkan badannya memberi hormat pada Rara dan menghilang dibalik pintu kamarnya.
"Aku benaran di Korea?" Berlari menuju balkon kamarnya. Dari sana Rara bisa melihat keindahan kota Seoul. Ternyata dia saat ini berada di lantai atas sebuah gedung yang tidak kalah tinggi dari gedung gedung lain yang dilihatnya.
"Masyaa Allah, betapa indahnya pemandangan ini. Rasanya benar benar sejuk, nyaman dan menenangkan." Memejamkan matanya menikmati angin lembut yang bertiup dan membelai wajahnya. Jilbabnya bahkan ikut menari mengikuti arah angin.
Sementara ini, Feisal baru tiba di London. Dia juga disambut oleh orang orang yang ditugaskan Prince. Feisal diantar ke apartemen yang tidak kalah mewahnya dari tempat Rara. Dia benar benar menikmati semua itu. Bahkan sangking senangnya berada di tempat seindah ini dia melupakan kedua saudaranya.
Di Jakarta, Fazil sudah dirumah. Dia pulang sekolah tepat waktu. Tidak ada cerita hari ini selain dari perasaan hatinya yang gundah. Fazil teringat kedua saudaranya. Dia sudah merindukan mereka. Padahal, kedua saudaranya itu malah melupakan dirinya.
"Den Fazil, makan siangnya sudah bibik siapkan." Tifah
__ADS_1
Mengetuk pintu kamar Fazil.
"Iya bik, bentar." Sahutnya yang baru saja selesai sholat zuhur. Lalu Fazil menuju meja makan untuk menyantap makan siangnya.
"Besok bawa bekal saja ke sekolah ya, den?" Tifah menyarankan. Dia khawatir, karena sekolah baru Fazil jam pulangnya pada pukul setengah tiga sore. Saat pulang Fazil harus menyegerakan sholat zuhur terlebih dahulu, barulah bisa makan.
"Tidak usah, bik. Besokkan kamis, aku mau puasa saja." Mulai menyantap makanannya.
"Enak nggak den, makanannya?" Mendekatkan lauk pauk pada Fazil.
"Enak dong bik. Hanya saja ini terlalu banyak untukku yang makan sendirian. Kecuali kalau bibik mau ikut makan bersamaku." Menunjukkan wajah iba pada bik Tifah.
"Iya bibik temani den Fazil makan." Ikut makan bersama Fazil.
__ADS_1
"Rara sama Feisal sudah sampai belum ya bik? Kenapa mereka belum menelponku!" Ungkapnya sedih.
"Mungkin mereka sudah sampai, den. Karena kecapek an, mereka istirahat dan ketiduran. Makanya mereka belum menghubungi den Fazil." Tifah mengatakan itu semua hanya untuk menghibur Fazil yang terlihat bersedih.