Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Isma Hamil


__ADS_3

Prince terbaring lemah di kasur ruangan Dokter spesialis kandungan. Sedangkan Isma duduk di kursi depan meja Dokter Maha Rani.


"Bagaimana, Dokter? Apa yang terjadi pada suami saya?" Tanya Isma khawatir.


Dokter Maha Rani hanya tersenyum. Lalu, dia memeriksa pergelangan tangan Isma. Kemudian beralih ke area perut Isma.


"Bisa buk Isma berganti posisi dengan suaminya?" Saran Dokter Maha Rani.


Mendengar itu dengan langkah lemah, Prince bangkit lalu membiarkan Isma berbaring disana.


Sebentar Dokter Maharani memeriksa Perut Isma. Lalu, senyum bahagia mengembang dibibirnya.


"Selamat Buk Isma, Ibu mengandung." Ucapnya.


Isma tersenyum haru, dielusnya perutnya yang masih sangat datar itu. Air mata pun menetes. Begitu juga dengan Prince, dia langsung menghampiri Isma.


"Terimakasih sayang. . ." Prince memberi pelukan hangat dan juga kecupan sayang di dahi Isma.


Dokter Maha Rani ikut tersenyum bahagia melihat kebahagiaan pasangan itu.


"Buk Isma sangat beruntung, karena Tuan Prince yang mengambil alih semua yang dirasakan oleh ibu hamil."


Prince dan Isma kembali duduk di kursi tepat di hadapan Dokter Maha Rani.


"Sudah berapa usia kandungan istri saya, Dokter?"


"Sudah masuk minggu ke tiga. Dan, ada baiknya di awal-awal Tuan Prince harus berpuasa dulu melakukan itu…" Saran Dokter Maha Rani.


Wajah Isma merona malu. Begitu juga dengan Prince.


"Baik Dokter… Tapi, apa kandungan istri saya sehat?" Sambung Prince.


"Sangat sehat."


Prince merangkul bahu Isma, dan Isma menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


"Lalu, sampai kapan saya akan mengalami muntah?" Tanya Prince lagi.


"Biasanya di tahap awal kehamilan akan terus merasa mual dan muntah pagi hari."


Prince menghela napas lesu. Tapi, dia semakin mengeratkan rangkulannya.


"Periksakan kandungan setiap dua minggu sekali. Ini, vitamin di minum setiap pagi dan malam sebelum tidur." Saran Dokter Maha Rani.


"Baik Dokter. Kalau begitu, kami permisi." Ucap Prince.


Mereka meninggalkan rumah sakit dengan hati yang sangat bahagia.


Di Perusahaan.


Rina tengah sibuk mengatur ulang semua jadwal Prince yang terpaksa dibatalkan karena Bos nya itu masih belum juga datang ke kantor selama empat hari ini.


"Sayang istirahat aja dulu. Biar Mas yang mengerjakan semuanya." Saran Bimo.


"Tidak apa, Mas. Kerjaan Mas juga banyak, kan?"


"Iya, tapi Dokter kan bilang, sayang gak boleh terlalu capek. Mas, khawatir sayang."


"Mas tenang aja. Gak usah khawatir. Nanti kalau capek aku istirahat, Mas."


"Baiklah." Ucapnya mengalah.


Rasanya Bimo ingin meminta Rina berhenti saja bekerja. Tapi, saran itu tidak akan diterima oleh Rina. Bimo tahu, Rina sangat menyukai dunia kerjanya.

__ADS_1


"Sayang, Mas pergi dulu. Bos meminta Mas ke Bogor, ada sedikit masalah di Bogor."


"Sekarang?"


"Iya, sayang."


"Mmhh, mau ikut. . ." Rengeknya.


Bimo langsung memeluk tubuh Rina. Dia memberi kecupan di keningnya.


"Mas perginya sebentar. Sore Mas langsung pulang." Mengeratkan pelukannya.


"Aahh, aku benci Prince." Rengeknya manja dalam pelukan suaminya.


"Kenapa sayang ngomong gitu?"


"Dia selalu memisahkan kita. Ada aja kerjaan yang mengharuskan kita berpisah."


"Eits, mana ada kita berpisah. Mas selalu ada disini kok, di dekat sayang." Menangkup kedua pipi Rina, lalu mengecup bibirnya.


"Papa pergi dulu ya sayang. Jaga Mama, jangan nakal. . ." Beralih mengelus perut Rina.


Tidak lupa Bimo juga mencium perut Rina. Ciuman yang ditujukan kepada calon bayinya itu.


"Ciap Papa…" Jawab Rina meniru suara bayi.


Bimo tersenyum gemas melihat ekspresi Rina.


"Mas berangkat, ya. Sayang jangan terlalu capek."


"Iya, Mas juga hati-hati di jalan."


Meninggalkan Bimo dan Rina yang sibuk dengan pekerjaan mereka hari ini.


"Mas, adek kangen Umi." Ucapnya.


Entah mengapa, hari ini Isma merasa sangat merindukan Umi.


Prince memberikan pelukan pada Isma.


Isma menangis dalam pelukan suaminya. Hatinya terasa sangat sedih mengingat Abi dan Umi.


"Maafkan Mas, sayang." Mengecup puncak kepala Isma.


"Mas jangan minta maaf. Adek tambah sedih kalau Mas minta maaf, hhiikkss." Tangisnya pecah.


Prince tersenyum gemas.


"Adek lapar. . . Mau makan tapi Mas yang suapin." Rengeknya manja.


"Baiklah, sekarang kita makan." Menghapus air mata Isma.


"Gendong. . ."


"Ucucuuu. . . Manjanya kesayangan Mas. Makin gemasszz aja. Ya udah yok Mas gendong." Mengankat tubuh Isma.


Prince membawa Isma ke dapur. Diletakkannya tubuh itu di kursi meja makan. Lalu Prince mengambilkan nasi goreng tadi pagi yang dimasak Isma.


Awalnya Prince ragu mengambil nasi goreng itu, dia masih mengingat kejadian tadi pagi.


Prince menahan napasnya. Lalu meletakkan nasi goreng itu ke dalam piring.


"Nah ini makannya. Buka mulutnya. . . Aaa. . ." Mengarahkan sendok ke mulut Isma.

__ADS_1


Isma menerima makanan dengan baik. Dia bahkan menghabiskan satu piring penuh nasi goreng. Prince agak heran dengan perubahan nafsu makan Isma. Ya, biasanya Isma makan hanya sekedar untuk pengganjal perut aja. Tapi sekarang dia makan banyak dengan lahap.


"Kalau sayang makan selalu seperti ini, Mas akan sering ngasih hadiah." Ucap Prince.


"Benaran?" Tanya Isma senang.


"Iya sayang. . ." Mengelus kepala Isma.


"Hadiahnya boleh milih gak?"


"Boleh dong. Memang sayang mau hadiah apa?"


"Mm, hadiahnya. . . Yang pertama. . . Adek mau Mas makannya juga lahap." Ucapnya.


Prince mengerutkan keningnya. Hadiah apa coba itu.


"Baiklah Mas usahakan. Walaupun, perut Mas menolak makanan... tapi, demi sayang Mas akan berusaha." Jawabnya lesu.


Isma tersenyum gemas. Ekspresi suaminya sangat menggemaskan dan terlihat lebay dengan janjinya itu.


"Mas. . . Boleh gak, kalau adek kembali kerja?"


Sontak Prince menatap tajam mata Isma. Dia tidak terlalu suka membahas masalah itu.


"Apa ada yang kurang, sehingga sayang mau kerja?" Tanya Prince cuek.


Dia membawa piring kosong itu ke wastafel untuk dicuci.


"T..tidak. . . Hanya saja, adek bosan dirumah sendirian. Ya, setidaknya kalau kerja. . ."


"Gak ada kerja. Cukup dirumah. Biar Mas yang kerja. Tugas perempuan di rumah." Tegasnya.


Isma terkejut. Dia terdiam sambil menundukkan kepalanya. Isma sudah pernah bertanya masalah ini dua minggu lalu, dan mendapat respon yang juga sama.


Benar, Prince sudah memberikan segalanya. Tapi, Isma benar-benar bosan seharian dirumah sendirian. Dia bukan wanita rumahan. Sejak awal kenal Prince pun Isma memang suka bekerja.


Tapi, apa boleh buat. Sepertinya dia harus tenggelam dalam kebosanan setiap harinya sendirian di rumah mewah bak istana ini.


'Maafkan Mas, sayang. Mas masih takut dengan ancaman Amanda. Mas gak mau berpisah lagi sama sayang. Sayang segalanya untuk Mas.' Batin Prince.


Perlahan dia menghampiri Isma yang tertunduk sedih. Prince mengelus pundaknya, lalu mendekap tubuh itu.


"Maaf, Mas mengagetkan sayang." Mengecup kepala Isma.


"Nanti, kalau sayang sudah melahirkan. . . Dan adeknya sehat, sudah berusia dua tahun, Mas janji akan izinkan sayang kerja lagi. Oke. . ." Menatap lembut wajah sedih Isma.


Isma merengek manja, meski malas dia akhirnya mengangguk setuju dengan saran suaminya.


"Mas janji. . . Awas kalau bohong." Rengeknya.


Prince mengangguk kuat meyakinkan Isma kalau dia akan menepati janjinya.


Bersambung. . .



Apa kabar teman Reader dan Author yang masih setia mendukung karyaku. . . .


Semoga sehat selalu ya.


Bantu dukung karya thor terus ya, supaya thor semangat terus.


Jangan lupa juga, LIKE, KOMEN dan VOTE.

__ADS_1


__ADS_2